Rabu, 17 Mei 2017, 23:45

Tiga Karakteristik Orang Bekerja Menurut Sekjen

Sekjen Kemenag Nur Syam menyerahkan piagam dan bingkisan bagi pegawai Biro Umum yang purna bakti. (foto:tini)

Bogor (Kemenag) - Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nur Syam menyampaikan level atau karakteristik orang bekerja. Menurutnya, setidaknya ada tiga level atau karakteristik orang bekerja, pertama; orang yang bekerja dengan otak saja. Menurutnya, kalau orang bekerja dengan otak, maka yang menjadi basisnya adalah untung rugi, ia hanya bekerja untuk untung dan keuntungan, kalkulasinya selalu menyatakan, kalau bekerja ini, untung atau rugi. Sangat bercorak material, ia bekerja semata sesuai kebutuhan.

Sekjen mengilustrasikan, bila orang bekerja semata karena untung rugi, maka ketika ada pekerjaan dengan keuntungan lebih besar di luar kantor, maka ia tidak segan-segan meninggalkan tugas dan kewajibannya menjalankan pekerjaan kantor.

"Orang dengan level bekerja seperti itu (bekerja dengan otaknya saja), menurut saya ini level terendah," ujar Sekjen saat menyampaikan arahan sekaligus membuka resmi kegiatan Pembinaan Motivasi Kerja Pegawai Biro Umum Tahun 2017 di Bogor, Rabu (17/5) malam.

Mengutip salah satu pandangan ahli filsafat, Sekjen manyampaikan, bahwa mahkluk yang paling rasional adalah hewan, hewan itu bekerja untuk "ya" atau "Tidak". Bila dihadapan hewan ada makanan, maka logika berpikirnya adalah dimakan atau tidak dimakan.

Kedua, orang yang bekerja dengan hati. Sekjen menilai, level bekerja ini bagus karena ia bekerja dengan keikhlasan, bekerja sesuai dengan tugas fungsinya serta kemampuannya. Tipe ketiga, orang yang bekerja dengan otak dan hati. Dalam pandangan Sekjen, tipe ketiga ini sangat baik. Otak itu salah satu kemampuannya untuk melakukan inovasi, pasti logika yang berpikir untuk inovasi-inovasi.

"Maka orang yang bekerja dengan menggunakan otak dan menggunakan hatinya, maka komplit sudah. Ia bekerja tidak hanya bekerja, ia berupaya memajukan apa yang dikerjakannya, ia ingin mencapai prestasi yang bagus, ada yang ingin diraih (need for achievement)," kata Sekjen.

Bagi Sekjen, setiap orang memiliki dorongan untuk berprestasi, maka bila ada orang yang tidak memiliki dorongan berprestasi, maka diragukan keorangannya itu. Karenanya, orang yang bagus itu adalah orang yang memiliki dorongan untuk berprestasi.

"Karena itu, orang yang memiliki keinginan meraih prestasi, dipandu dengan hati ia bekerja, maka ia akan menempati posisi yang paling baik dalam rangka kemajuan sebuah institusi," tutur Guru Besar UIN Surabaya ini.

Sekjen berharap seluruh ASN Kemenag memiliki dan menjadi tipologi atau karakter orang yang bekerja dengan otak dan bekerja dengan hati. Tipologi ketiga ini, dikatakan Sekjen, ia memiliki kecerdasan intelektual, ia memiliki kecerdasan emosional, memiliki kecerdasan sosial, dan yang lebih tinggi lagi ia memiliki kecerdasan spiritual.

Sekjen menegaskan, kecerdasan spiritual, adalah kecerdasan yang luar biasa. Ia mencontohkan figur Pahlawan Nasional Panglima TNI Jenderal Besar Soedirman yang telah memasuki kawasan dengan dengan tingkat kecerdasan spiritual yang tinggi. Dalam keadaan sakit kerasnya, karena penyakit paru-paru yang diderita, Jenderal Besar Soedirman tetap berjuang dan menyuarakan Indonesia merdeka.

Selanjutnya, Sekjen dalam arahannya juga menyampaikan satu contoh yang menurutnya layak ditiru, dan ini biasanya ada dalam dunia militer. Ada tiga prinsip yang dikembangkan oleh kalangan militer. Pertama, inisiatif; kedua, fleksibilitas,; ketiga, mobilitas. Ketiga kata kunci ini dalam kajian militer menjadi kunci memenangkan sebuah peperangan.

Inisiatif, dalam penjelasan Sekjen, adalah kemampuan seorang dan berinisiatif melakukan perbaikan dan kebaikan. Kedua, feleksibilitas. Jadi perintahnya jelas, lalu secara fleksibilitas bisa dilakukan. Ketiga, memiliki kemampuan mobilitas.

"Jadi tiga prinsip ini sekarang menjadi prinsip penting dalam dunia militer, era sebelumnya, kalau dahulu hanya ada only one command, seorang prajurit akan menjalankan perintah itu tanpa kecuali, tanpa melakukan pergeseran, sekarang tidak lagi only one command yang kaku, tapi sekarang ini dikembangkan inisiatif, bisa membangun fleksibilitas atas tugas yang diemban. Dan yang penting adalah memiliki mobilitas," ucap Sekjen.

Sekjen dalam kesempatan tersebut, didampingi Kepala Biro Umum Syafrizal memberikan piagam dan talikasih bagi sejumlah pegawai Biro Umum yang sudah purna bakti, dan juga diberikan bingkisan bagi pegawai golongan II di lingkungan Biro Umum. (dm/dm).

Berita Lainnya
Rabu, 24 Mei 2017, 17:31

Menag: ASN Kemenag Harus Hadir Memberi Solusi di Tengah Masyarakat

Senin, 22 Mei 2017, 16:47

Jadi Irup Upacara Harkitnas, Kabalitbangdiklat Sampaikan Tantangan Era Digital

Senin, 22 Mei 2017, 11:49

Kemenag Bangun Sistem Informasi Elektronik Kinerja ASN

Senin, 22 Mei 2017, 11:23

Sekjen Lantik 16 Pejabat Bimas Islam dan Bimas Buddha

Kamis, 18 Mei 2017, 10:15

Sekjen: Kemenag Proses Pembayaran Tunjangan ASN Tertunda