Mencegah Ketakutan dan Kekhawatiran

Pada hari Minggu ini, Injil Lukas 12:32-48 berbicara mengenai peneguhan agar jangan takut khususnya sebagai kawanan yang kecil. Pernyataan Yesus ini tentunya didasarkan pada beberapa hal yang harus kita ingat dan harus kita jalankan. Jangan sampai sebagai komunitas yang kecil, kita memiliki iman, harapan dan kasih yang kecil pula. Sebagai komunitas basis gerejawi dalam berbagai tingkatan, baik tingkat teritorial maupun fungsional, kita seharusnya tetap memiliki keberanian untuk hidup sesuai iman kita akan Tuhan Yesus.

Mari kita renungkan, beberapa hal di bawah ini yang bisa membuat hidup kita baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota kawanan kecil, komunitas kecil terhindar dari rasa takut dan khawatir. Ada hal apa yang menjadi inspirasi bagi kita agar tidak takut dan khawatir. Berikut ada 3 tips menurut refleksi atas sabda Tuhan hari ini:

1. Hati yang bebas hati yang beriman.

“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Luk 12:34)

Kekawatiran muncul karena hati yang selalu terikat oleh rasa untuk memiliki dan menguasai harta yang bakal binasa. Selalu khawatir akan mengalami kerugian, khawatir tidak punya keuntungan, kekhawatiran tidak memiliki kuasa, kekhawatiran tidak menjadi orang terpandang, kekhawatiran tidak menjadi orang yang punya kekuatan pribadi, kekhawatiran akan kehilangan jabatan, dan sebagainya. Bebaskan hati kita dari semua itu. Hidup kita di tangan Tuhan, Dia yang lebih mengenal hati kita, kepada-Nya kita beriman. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan” (Ibr 11:1).

2. Siap sedia dalam kegembiraan pengharapan

“Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." (Luk 12:40)

Kita dapat terlena untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan Yesus dalam diri kita. Kita sibuk dengan kepentingan pribadi kita, terbelenggu dengan keinginan dan nafsu untuk memiliki, mendapatkan keuntungan, dan khawatir akan kehilangan kekuasaan. Padahal Tuhan Yesus ingin berjumpa dengan kita dalam seluruh momen kehidupan kita, dalam situasi untung dan malang, sehat dan sakit, gembira dan sedih. Dia ingin menjadi teman seperjalanan kehidupan kita, sekaligus menjadi jalan, kebenaran dan hidup bagi kita. Namun kita secara sadar atau tidak sadar menolak kehadiran-Nya dalam kehidupan kita, karena kita tidak mau kehilangan apa yang kita anggap menjadi keuntungan dan kepuasan kita. Akhirnya kita tidak menjadi siap sedia dan lengah. Padahal semua kebaikan, keuntungan, kekuasaan, kemuliaan manusia hanyalah pemberian dari Allah, yang sewaktu-waktu dapat hilang dan musnah. Mari bersiap sedia dengan penuh kegembiraan dalam pengharapan akan penyelamatan-Nya. “Maka umat-Mu mengharapkan baik keselamatan orang benar maupun kebinasaan para musuh.” (Keb 18:7)

3. Berikan Kasih dalam semua kelebihan kita

“Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut." (Luk 12:48)

Jika kita diberi kepercayaan, berupa rezeki, kekayaan, kemakmuran, jabatan, kekuasaan, kesenangan; ternyata itu selalu mengandaikan tanggungjawab dan tuntutan yang menyertainya. Di setiap rezeki yang kita terima, ada tuntutan untuk peduli kepada sesama kita. Di setiap kekuasaan yang kita emban, ada kewajiban untuk memperhatikan kesejahteraan orang yang kita pimpin. Di setiap kekayaan yang kita dapatkan, tersimpan harapan bagi kebahagiaan orang di sekitar kita. Semua kelebihan, kekuatan, kekuasaan, wewenang dan semua bakat yang kita miliki harus bermuara pula pada kasih untuk sesama, terutama dalam komunitas dan sesama di sekitar kita. Semua itu berasal dari kasih Allah, yang harus kita bagikan dan teruskan dalam kasih terhadap sesama.  “Siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk membagikan makanan kepada mereka pada waktunya?” (Luk 12:42)

Demikianlah, sebagai pribadi maupun kawanan atau komunitas kecil, Yesus menegaskan untuk “jangan takut”, karena semuanya ada dalam kuasa dan belaskasih-Nya. Jangan bermegah karena kekuatan dan kehebatan pribadi, tetapi selalu sadar di dalam kuasa Allah semuanya terjadi, semua-Nya titipan Allah. ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu lebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Normal Ginting, SH (Pembimas Katolik Prov. Kepulauan Riau)


TERKAIT

Merawat Anak

Tempat yang Mencerahkan

Kaya di Hadapan Allah

Puja Namaskara