Memahami Hukum Perubahan Menuju Pembebasan

“Vaya dhamma sankhara appamadena sampadeta”. “Segala sesuatu adalah tidak kekal, berusahalah dengan sungguh-sungguh”. (Maha Parinibbaana Sutta)

Tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Berubah merupakan realita, keniscayaan, sesuatu yang tidak dapat dihindarkan. Segala sesuatu yang berkondisi akan selalu mengalami perubahan. Yang dimaksud berkondisi dalam hal ini adalah sesuatu yang muncul dengan dukungan faktor lain untuk muncul. Tidak berdiri sendiri, atau ada dengan sendirinya. Berbagai hal yang ada di dunia ini hakikatnya saling bergantungan, muncul karena adanya hal atau sebab lain yang mendukung. Misalnya manusia hidup karena adanya dukungan materi berupa makanan, udara yang dihirup dan banyak sekali faktor pendukung lainnya. 

Manusia sendiri bila diurai terdiri dari berbagai faktor unsur yang saling melengkapi yang secara umum dikenal sebagai unsur pendukung utama berupa unsur cair (apo), unsur padat (pathavi), unsur udara (vayo) dan unsur api (tejo). Unsur air sendiri dalam kemajuan ilmu pengetahuan diketahui tidak berdiri sendiri tetapi merupakan perpaduan dari oksigen dan hidrogen, setiap molekul air mengandung satu oksigen dan dua atom hidrogen yang dihubungkan oleh ikatan kovalen. Demikian juga dengan api, unsur padat dan udara semuanya tidak berdiri sendiri sehingga semuanya akan selau mengalami perubahan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa dunia dengan segala isinya dicengkram oleh suatu hukum perubahan. 

Bagi seorang yang pesimis perubahan akan terasa menakutkan. Mental pesimis cenderung menginginkan zona nyaman, suasana kehidupan yang serba stabil, pasti dan tetap. Perubahan akan terasa menakutkan, mengkawatirkan dan membuat hidup tidak nyaman. Pemikiran demikian hakikatnya lahir atau bermuara dari pikiran yang terkungkung dalam kabut kebodohan, gagasan yang tertutup oleh ketidaktahuan atau absennya kebijaksanaan. 

Realitas akan perubahan sebenarnya mudah ditangkap oleh penalaran sederhana namun akan sulit diterima jika mengalami langsung dalam kehidupan, terutama perubahan yang bertentangan dengan selera dan keinginan. Secara nalar kita akan mudah memahami, menerima bahwa motor, mobil, jam tangan, perabot rumah tangga wajar mengalami kerusakan. Kemudahan menerima kenyataan ini terutama jika benda-benda dimaksud bukan merupakan milik kita, tidak terkait dengan kita secara langsung. Misalnya motor sahabat kita rusak turun mesin, dengan nalar yang spontan kita bisa menyatakan bahwa wajar mesin motor pada masanya akan mengalami turun mesin, rusak dan perlu diperbaiki atau diganti dengan yang baru. 

Suasana kebatinan akan berbeda jika motor, mobil, perhiasan, rumah yang rusak adalah milik kita sendiri. Terdapat penolakan secara mental, ketidaksukaan (dosamula citta) terhadap kondisi rusaknya barang yang kita miliki, ketidaksukaan ini dalam terminologi Abhidhamma bisa muncul secara spontan (domanassa sahagatam patigha samyuttam asankharika cittam) atau setelah dipikir-pikir, diingat agak lama (domanassa sahagatam patigha samyuttam sasankharika cittam). Ketidaksukaan berupa ketidakmampuan menerima kenyataan akan perubahan dalam wujud kerusakan barang tergolong dalam akusala citta atau gugusan mental kategori buruk dalam arti berkontribusi pada semakin bertambahnya penderitaan. 

Bagi seorang yang optimis, perubahan adalah peluang, kesempatan bagus untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan. Perubahan ibarat celah kesempatan untuk memperoleh apa yang diinginkan. Bagaimanakah cara Buddha memandang perubahan? Buddha sebagai orang yang tercerahkan memandang perubahan bukan secara pesimis maupun terlampau optimis tetapi perubahan dipandang sebagai realitas yang harus dipahami, disadari, ditembus dan pada akhirnya perubahan membawa pada kecerahan atau kebijaksanaan. Perubahan tidak untuk ditakuti, dikhawatirkan, pun juga bukan sebagai hal yang harus dinanti, ditunggu-tunggu sebagai sesuatu yang menyenangkan. 

Penyikapan antara suka dan tidak suka cenderung akan membawa pada polarisasi yang tanpa berkesudahan. Bila perubahan ke arah menyenangkan akan dinanti dan jika perubahan ke arah yang tidak menyenangkan akan dibenci. Oleh karenanya perubahan baik menyenangkan ataupun tidak menyenangkan sebaiknya hanya sekedar disadari apa adanya, kesadaran apa adanya akan membawa pada pemahaman jernih dan pencerahan. Batin yang telah cerah tidak akan risau dengan segala perubahan yang ada. Sabbe sankhara anicca ti yada pannaya passati, atha nibbindati dukkhe esa maggo visuddhiya. Segala sesuatu yang berkondisi tidak kekal adanya, apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihatnya sebagaimana adanya, maka sesungguhnya inilah jalan menuju pembebasan” (Dhammmapada. Syair: 277). 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.


TERKAIT

REKOMENDASI