Kesiapan untuk Diutus

Pemirsa mimbar Kristen Kemenag dan Umat Kristen seluruh Indonesia yang dikasihi oleh Tuhan. Kita patut bersyukur dapat menginjakkan kaki di Minggu pertama bulan Juli tahun 2021. Kita bersyukur di tengah kondisi yang kembali mengganggu kehidupan beriman kita karena trend penyebaran covid-19 semakin meningkat, namun kita masih tetap berkata “eben haezer” (sampai di sini Tuhan menolong kita).

Mimbar Kristen Minggu ini membahas salah satu ayat dalam Injil Markus 6:6b-13 dengan Tema: ”Kesiapan Untuk Diutus”.

Pemirsa mimbar Kristen Kemenag dan Umat Kristen seluruh Indonesia. Ketika kita hendak diutus ke suatu tempat, maka biasanya yang terlintas di pikiran kita adalah lokasi tempat perutusan, lingkungannya bagaimana, bekal yang perlu dipersiapkan dan sebagainya.

Sangat wajar apabila suatu instansi tertentu (baik swasta atau pemerintah) ketika menugaskan seseorang untuk pergi ke suatu tempat untuk melaksanakan tugas, maka yang duluan dipersiapkan adalah akomodasi dan berbagai perlengkapan lainnya. Bisa dibayangkan seandainya perusahaan atau instansi pemerintah hanya mengeluarkan surat perintah perjalanan dinas (SPPD) tanpa ada akomodasi. Masihkah seseorang memiliki semangat untuk melaksanakan tugas tersebut?

Perikop pembacaan kita hari ini, Injil Markus 6:6b-13 juga berbicara tentang pengutusan. Penginjil Markus mengisahkan Ketika Yesus mengutus kedua belas muridNya. Tujuan pengutusan untuk memberitakan kabar sukacita dan berita pertobatan agar semua orang mendapat keselamatan. 

Dengan pengutusan ini, Yesus hendak memperlengkapi para murid agar lebih siap untuk melanjutkan pelayanan Yesus, apabila Yesus akan meninggalkan mereka kelak. Ini proses pembelajaran dengan pendekatan “learning by doing” (belajar dengan melakukan). Yesus mengajarkan para murid untuk terjun langsung melihat dan merasakan medan pelayanan sebagai tempat perutusan mereka. Pertanyaannya adalah bagaimana Yesus memperlengkapi kedua belas muridNya untuk siap diutus?

Pemirsa mimbar Kristen Kemenag dan Umat Kristen seluruh Indonesia. Dari perikop pembacaan kita hari ini, ada beberapa strategi yang digunakan oleh Yesus untuk memperlengkapi para murid agar siap diutus memberitakan berita keselamatan:

Pertama, membangun semangat kolaborasi (ayat 7). Ketika Yesus memanggil kedua belas murid itu, Dia mengutus mereka berdua-dua (ay 7). Yesus melihat bahwa melaksanakan tugas pemberitaan injil jika dikerjakan secara individual tidak membuahkan hasil yang maksimal. Apabila diutus dengan berdua, mereka lebih dapat bertahan dibandingkan seorang diri. Berdua memampukan yang satu untuk menguatkan yang lain, demikian pula sebaliknya.

Mereka diutus berdua-dua agar terjadi saling mengontrol atau mengingatkan yang lain apabila aktifitas pelayanan melenceng dari tugas pewarta kabar baik. Ada sebuah kerja sama yang saling menopang antara kedua belah pihak. Ini sangat penting dan menentukan dalam sebuah tugas dan pelayanan yang diembankan kepada mereka.

Dalam melaksanakan misi ini, Yesus menyadari bahwa para murid akan menghadapi situasi yang sulit. Mereka akan menghadapi perlawanan secara diam-diam. Yesus mengutus mereka seperti "anak-anak domba ke tengah-tengah serigala (Band Luk 10:3). Karena itu, apabila mereka berjalan sendiri-sendiri untuk melaksanakan misi ini, maka setiap orang bisa cepat putus asa dan meninggalkan tugas yang mereka emban. Dengan berdua, mereka saling menguatkan dan menyemangati satu terhadap yang lain ketika menghadapi situasi yang sulit.

Kedua, bersandar pada pemeliharaan Allah (8-9). Pengutusan Tuhan Yesus kepada para murid diikuti dengan suatu pesan agar para murid jangan membawa apapun sebagai bekal dalam misi perjalanan mereka (ay 8-9). Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana dengan perlengkapan yang mereka perlukan untuk tugas perutusan itu?

Pada perikop yang dibahas hari ini hanya menuliskan bahwa mereka diperkenankan untuk membawa tongkat dan menggunakan alas kaki. Hal ini menarik karena biasanya yang duluan diperhatikan dan dipersiapan apabila ada tugas perutusan adalah berkaitan dengan fasilitas pendukung termasuk finansial.

Di sini Yesus mau mengajarkan para murid bahwa bukan satu-satunya fasilitas yang menentukan berhasil tidaknya sebuah misi. Fasilitas memang dibutuhkan, namun yang terutama dan yang paling utama adalah kesediaan dari seorang yang diutus untuk membuka diri agar hanya mengandalkan dan bersandar pada pemeliharaan Tuhan pada saat melaksanakan tugas pemberitaan Injil.

Karena itu, bekal yang diberikan oleh Yesus berbeda dengan bekal pada umumnya. Yesus memperlengkapi mereka dengan kuasa. Mereka dibekali dengan kuasa untuk menyembuhkan dan mengusir setan. Dengan kata lain, kuasa yang didapat oleh para murid adalah kuasa untuk menolong dan berkarya bagi orang lain sebagai wujud menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam pelayanan mereka.

Ketiga, bersiap ketika ditolak (ayat 11). Ketika kita memasuki suatu lingkungan yang baru, ada dua kemungkinan yang akan kita hadapi, yaitu: diterima atau ditolak. Begitu pula dalam menyampaikan informasi yang baru, tidak semua orang menerima yang akan kita sampaikan. Walaupun baik menurut kita, belum tentu baik menurut orang lain.

Hal ini juga berlaku ketika para murid diutus untuk memberitakan injil. Yesus menyiapkan mental mereka agar siap apabila kehadiran dan berita yang mereka sampaikan ditolak oleh orang lain. Kalau kita melihat perikop sebelum pembacaan kita (Markus 6:1-6a), Markus mengisahkan tentang sosok Yesus yang ditolak di tempat asalnya sendiri. Setiap penolakan yang diterima oleh Yesus, disikapi dengan bijaksana. Dia tidak terbuai untuk meratapi nasibnya. Dia juga tidak menyerah begitu saja terhadap kondisi yang dialaminya. Yesus tetap fokus untuk melaksanakan misinya ke dunia sebagai sang Mesias yang menghadirkan pembebasan dan menyatakan tanda-tanda kerajaan Allah.

Penolakan yang dialami oleh Yesus tidak mengurungkan semangatnya untuk terus mengajar. Yesus bahkan mengutus kedua belas muridNya untuk memberitakan bahwa setiap orang harus bertobat. Mereka diberikan kuasa mengusir banyak setan dan menyembuhkan orang sakit. 

Pengalaman penolakan yang dialami Yesus juga akan dihadapi oleh para muridNya. Yesus menyiapkan murid-muridNya apabila suatu waktu mendapat penolakan. Mereka tidak boleh marah, tidak boleh kesedihan menguasai hidup mereka apalagi menyerah terhadap keadaan.

Mereka juga tidak boleh membuang-buang waktu untuk orang-orang yang tidak mau menerima berita keselamatan. Yesus berpesan "dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang ada di kakimu sebagai peringatan bagi mereka” (ay 11).

Jadi, setiap penolakan dijadikan sebagai motivasi untuk membangkitkan semangat mengajarkan kebenaran kepada setiap orang, kapan dan di mana saja.

Pemirsa mimbar Kristen Kemenag dan Umat Kristen seluruh Indonesia. Dari perikop pembacaan kita pada hari ini, ada beberapa hal yang perlu kita renungkan:

Pertama, kita bersyukur bahwa Tuhan telah memercayakan kepada kita untuk melanjutkan tugas pelayanan yang Yesus lakukan ketika masih berada di dunia. Tugas untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas dan memberitahukan tahun rahmat Tuhan telah datang (band Lukas 4:18-19), adalah tugas yang tidak pernah selesai.

Kedua, dalam melaksanakan tugas pemberitaan Injil, kita belajar dari Yesus yang mengedepankan semangat kolaborasi kepada para muridNya. Era sekarang adalah era kolaborasi, tidak terkecuali dalam kegiatan pemberitaan injil. Saatnya, gereja-gereja yang mendapat berkat lebih dari Tuhan agar tidak hanya fokus untuk mengurus dan memperkuat internal organisasi sendiri, melainkan secara bersama-sama dengan gereja-gereja lain bergandengan tangan untuk melaksanakan tugas pemberitaan Injil.

Ada banyak saudara-saudara kita yang menunggu kehadiran kita untuk mendapatkan berita sukacita kepada putra-putri mereka agar terbebas dari kekurangan gizi, terbebas dari kesulitan mendapatkan layanan kesehatan yang memadai dan sebagainya.

Ketiga, tugas pemberitaan Injil tidak akan berhasil apabila hanya mengandalkan kemampuan sendiri, fasilitas yang ada, manajemen yang tertata rapih, dan sebagainya. Kelengkapan tersebut kita pasti butuh. Namun, yang lebih utama agar pekerjaan pemberitaan Injil ini dapat berjalan dengan baik dan membuahkan hasil adalah dengan terlebih dahulu bersandar dan mengandalkan pemeliharaan Tuhan.

Keempat, dalam proses pemberitaan Injil, pasti akan mengalami penolakan. Penolakan tersebut bisa muncul dari orang-orang terdekat kita, sahabat kita, rekan kerja kita dan sebagainya. Kendati demikian, kita tidak perlu kecewa, marah, dan menyerah. Suara kenabian harus kita gemakan terus di mana pun kita berada. Kita harus membiasakan kebenaran dan jangan membenarkan kebiasaan. Tuhan Yesus Memberkati!

 

Pdt. Etika Hia, M.Si (Pendeta Resort Gereja ONKP JAWA)