Dharmayatra

Idha nandati pecca nandati, katapuñño ubhayattha nandati.. Puññaṁ me katan ti nandati, bhiyyo nandati suggatiṁ gato. Di dunia ini ia bahagia, Di dunia sana ia berbahagia. Pelaku kebajikan, berbahagia di kedua dunia itu. Ia akan berbahagia ketika berpikir, “Aku telah berbuat bajik”, dan ia akan lebih berbahagia lagi, ketika berada di alam bahagia. (Dhammpada, Syair 18)

Setiap agama memiliki tempat-tempat suci yang sangat dihormati. Tempat-tempat suci tersebut memiliki makna yang sangat sakral dan religius bagi para pemeluknya. Termasuk agama Buddha sebagai salah satu agama yang dianut oleh masyarakat dunia.  

Bagi umat Buddha, kunjungan napak tilas ke tempat-tempat suci agama Buddha dikenal dengan istilah Dharmayatra. Dharmayatra berasal dari dua kata, yaitu dharma berarti ‘kebenaran’, dan yatra berarti ‘di tempat mana’. Sehingga Dharmayatra memiliki arti ‘tempat yang berhubungan dengan kebenaran (Dharma)’. Secara umum, Dharmayatra berarti berziarah ke tempat-tempat suci yang patut dipuja dan dihormati. 

Dalam kitab Māha Parinībbānā Suttā, Guru Agung Buddha mengatakan kepada Bhikkhu Ananda tentang nasihat dan imbauan Dharmayatra: “Ananda, ada empat tempat bagi orang berbakti untuk berziarah, untuk menyatakan sujudnya dengan penuh hormat. Di manakah ke empat tempat itu? 

Ananda, tempat Tathagata dilahirkan, adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah, menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat. 

Tempat Tathagata mencapai Penerangan Sempurna yang tiada taranya, adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah, menyatakan sujudnya dengan perasaan khidmat.

Tempat Tathagata memutarkan Roda Dharma untuk pertama kali, adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat.

Tempat Tathagata meninggal (Parinībbānā), adalah tempat bagi seorang berbakti berziarah menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat.

Mereka berziarah ke tempat-tempat itu, apakah mereka itu para bhikkhu, bhikkhuni, upasaka, atau upasika, merenungkan : “Di sinilah Tathagata dilahirkan. Di sinilah tempat Tathagata mencapai Penerangan Sempurna. Di sinilah Tathagata memutarkan Roda Dharma yang pertama. Di sinilah Tathagata meninggal (Parinībbānā).

Siapa pun juga dalam perjalanan ziarah tersebut meninggal dunia dengan hati penuh keyakinan, maka orang tersebut setelah badan jasmaninya hancur setelah meninggal, akan bertumimbal lahir di alam-alam surga yang bahagia”.

Empat tempat suci agama Buddha yang disebutkan dalam kitab Māha Parinībbānā Suttā berhubungan dengan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gotama. Empat tempat Dharmayatra bagi umat Buddha yang ada di India dan Nepal ini adalah: 

Pertama, Taman Lumbini; sekarang dikenal dengan sebutan Rummindei (Nepal); tempat  Pangeran Siddhattha Gotama lahir pada saat bulan purnama di bulan Waisak pada tahun 623 SM. 

Kedua, Buddhagaya (Bodhgaya), tempat Petapa Gotama mencapai Penerangan Sempurna di bawah pohon Bodhi pada saat bulan purnama di bulan Waisak pada tahun 588 SM.

Ketiga, Taman Rusa Isipatana, Benares; sekarang dikenal dengan nama kota Sarnath;  tempat Sang Buddha Gotama membabarkan Khotbah tentang Pemutaran Roda Dhamma (Dhammacakkappavattana Sutta) kepada lima orang petapa di bulan Asalha pada tahun 588 SM.

Dan, Kusinara (Kusinagar), tempat di mana Sang Buddha Gotama wafat (Maha Parinībbānā) pada saat bulan purnama di bulan Waisak pada tahun 543 SM.

Istilah Dharmayatra sering pula digunakan ketika umat Buddha melakukan ziarah ke candi-candi Buddhis yang merupakan tempat-tempat suci agama Buddha. Candi-candi Buddhis ini terdapat di berbagai belahan dunia, termasuk yang banyak tersebar di berbagai wilayah Nusantara dan masih dapat kita kunjungi hingga saat ini. 

Salah satunya adalah Candi Borobudur; warisan luhur peradaban buddhis nenek moyang kita yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia. Candi Borobudur yang terletak di Magelang, Jawa Tengah ini telah ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai tempat ibadah umat Buddha Indonesia dan dunia. Artinya, Candi Boobudur menjadi tempat ziarah umat Buddha yang berskala internasional.

Ini berdasarkan Penandatanganan Nota Kesepakatan Pemanfaatan Candi Prambanan, Candi Borobudur, Candi Mendut dan Candi Pawon untuk Kepentingan Umat Hindu dan Buddha Indonesia dan Dunia di Pendopo Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Jumat (10/02/2022). Nota Kesepakatan ini ditandatangani oleh Gubernur DIY serta perwakilan dari Menteri Agama; Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi; Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;  Menteri BUMN; dan Gubernur Jawa Tengah.

Meskipun bukan merupakan tempat yang berhubungan langsung dengan kehidupan Guru Agung Buddha, tetapi banyak simbol ajaran Buddha terdapat pada candi-candi Buddhis. Melalui relief-relief yang terpahat pada candi-candi Buddhis, kita dapat banyak belajar akan nilai-nilai Dharma dan filosofi kearifan lokal Nusantara yang adiluhung.

Dharmayatra merupakan sarana untuk memupuk dan memperteguh keyakinan (saddha) akan Buddha, Dhamma dan Sangha (Tiratana), memupuk karma baik, dan mengkondisikan dapat terlahir di alam-alam bahagia (surga). Serta untuk melestarikan nilai-nilai Dharma melalui peninggalan sejarah.

Karenanya, umat Buddha yang memiliki kesempatan dan kondisi yang mendukung hendaknya dapat melakukan Dharmayatra ke candi-candi Buddhis dan empat tempat suci agama Buddha sebagai penghormatan kepada Guru Agung Buddha. 

Semoga dengan tekad kuat (adhitthana) dan timbunan kebajikan yang telah dilakukan selama ini, umat Buddha dapat memiliki kesempatan melakukan Dharmayatra ke Candi Borobudur di Magelang serta ke empat tempat suci agama Buddha di India dan Nepal.   

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.


REKOMENDASI