Minggu, 23 Oktober 2011, 00:00 – Haji
Deposit Box di Maktab Masih Sepi Peminat

MAKKAH-(MCH) Para calon haji (calhaj) Indonesia belum memanfaatkan deposit box yang ada di maktab-maktab dengan maksimal. Setidaknya itu terlihat di Maktab 34. Tempat penitipan uang atau barang di maktab yang mengurus pemondokan dari 7 kloter tersebut hingga Sabtu (22/10) petang masih nihil. Kloter yang masuk maktab ini adalah kloter 12 embarkasi Medan, 6 Aceh, 11 Batam, 11 Balikpapan, 46 Jakarta, 47 Jakarta, dan 82 Surabaya.“Belum ada yang menitipkan. Padahal ini gratis dan keamanannya terjamin. Ada tanda terimanya,” ujar Ketua Maktab 34 Hamzah Ahmad Asyari.

Belum adanya calhaj yang menitipkan barang, bisa jadi kurang sosialisasi. Bisa juga menunggu waktu yang tepat. Sebab, saat ini calhaj setiap hari masih menginap di pemondokannya. Berbeda saat Arafah, Muzdalifah, dan Mina nanti. Para calhaj meninggalkan pondok beberapa hari untuk menjalankan rangkaian haji. Oleh karena itu, mengacu tahun-tahun sebelumnya, para calhaj menitipkan barangnya menjelang wuquf di Arafah.“Tanggal 8 Dzulhijjah. Satu rombongan kadang dijadikan 1 tas besar,” imbuh pria yang lancar berbahasa Indonesia itu.

Hamzah yang mengaku pamannya, Syeh Abbas Asyari, pada zaman dulu ikut berperang mengusir penjajah di Indonesia itu mengingatkan agar para calhaj tidak menitipkan barang-barang berharga atau uang kepada mukimin, orang Indonesia yang tinggal di Arab Saudi, yang tidak jelas. “Lebih baik disimpan daripada dititipkan mukimin. Dulu pernah ada calhaj yang menitipkan uangnya ke mukimin, malah hilang, terus lapor polisi. Lebih baik mendekati (dititipkan) kepada syeh atau maktab. Syeh dan orang yang mengurus maktab, bukan orang sembarangan, karena semuanya ada datanya (resmi),” jelas pria yang telah mengurus calhaj Indonesia secara turun menurun sejak 250 tahun yang lalu itu.

Dia juga tidak menampik, kadang keengganan calhaj menyimpan barang berharganya di deposit box maktab, karena mendapat informasi yang kurang benar dari orang Indonesia sendiri.“Ditakut-takuti agar jangan disimpan di maktab. Mereka ingin menguasai, dikerjakan sendiri. Tapi, ini tanah lain, apalagi di Makkah. Pendatang kan istilahnya buta, harus cari orang yang ahli dan dapat dipercaya. Orang sini saja, bisa sakit kalau tidak amanah. Ini yang diurus tamu-tamu Allah,” terangnya.

Sebelumnya Kepala Daerah Kerja Makkah Arsyad Hidayat beberapa kali meminta kepada para calhaj untuk tidak membawa uang banyak saat ke Masjidil Haram. Ini disampaikan Arsyad menyusul sejumlah aksi kejahatan yang menimpa calhaj Indonesia. Mulai dari penipuan hingga perampasan.“Simpan di deposit box. Di setiap maktab ada. Kalau ke Masjidil Haram jangan membawa banyak uang,” tegasnya. Paspor para calhaj juga disimpan di tempat khusus di maktab.

Sekadar diketahui, zaman dulu, para calhaj Indonesia ketika berhaji ikut para syeh. Sebagian mereka bahkan ada yang melanjutkan mengaji dan belajar beberapa waktu kepada syeh tersebut. Seiring berjalannya waktu dan banyaknya calhaj, pemerintah kerajaan Arab Saudi menunjuk muassasah untuk ikut melayani calhaj, termasuk Indonesia yang berkoordinasi dengan Muassasah Asia Tenggara. Orang-orang di muassasah ini kabarnya masih punya pertalian keturunan atau hubungan persaudaraan dengan orang-orang Indonesia. Beberapa pengurus muassasah masih menempelkan daerah di Indonesia di belakang nama mereka. Seperti Sedayu dan Banten. Muassasah ini yang juga mengkoordinasikan maktab yang mengurus pemondokan.

Sementara itu, hingga kemarin sore (23/10) waktu setempat, jumlah calhaj meninggal sebanyak 41 orang. Sebelumnya 34 meninggal dunia. Yahya HI. Abdurahman bin Abubakar, 71, dari Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, yang tergabung Kloter 9 Ujung Pandang meninggal 22 Oktober 2011 di Makkah. Kemudian calhaj khusus, Mohidin bin Abdul Kadir bin Kunyi Ahmad, 66, asal Balikpapan, Kalimantan Timur meninggal di Madinah 22 Oktober. Selanjutnya, S. Soepardi bin Ngali Kasbu, 67, asal Banyuwangi, Jawa Timur, dari kloter 17 Surabaya meninggal di Madinah pada 22 Oktober 2011, Muchlis bin Muhammad Yasin, 59, asal Palembang, Sumatera Selatan, dari kloter 6 Palembang meninggal di Madinah 22 Oktober, Hadjire Baso binti Baso, 69, kloter 5 Balikpapan dari Palu, Sulawesi Tengah, meninggal di Madinah 22 Oktober, Kiswanto Kiswo Subroto bin Wongso Semi, 60, asal Klaten, Jawa Tengah, dari kloter 64 embarkasi Solo meninggal di Makkah pada 23 Oktober, dan T. Musrizat Hanum TS binti T Muhammad T.,64, kloter 7 Medan asal Deli Serdang, Sumatera Utara, meninggal 23 Oktober. Sementara hingga pukul15.38 waktu setempat calhaj yang tiba di Arab Saudi sebanyak 150.135. Dari jumlah tersebut, setidaknya 116.096 sudah berada di Makkah. (zul)

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.141793 detik
Diakses dari alamat : 10.1.7.54
Jumlah pengunjung: 13695560
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2014. Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.