Kamis, 31 Januari 2008 –
Pemahaman Agama di Tanah Air Belum Sesuai Harapan

Jakarta, 31/1 (Pinmas)—Menteri Agama (Menag) Muhammad Maftuh Basyuni mengatakan, saat ini pemahaman keagamaan dan keberagamaan masyarakat muslim Indonesia masih belum menggambarkan seperti yang diharapkan. Hal ini karena kurangnya perhatian dan upaya pembinaan umat serta peningkatan kualitas kehidupan beragama dalam aspek yang menyeluruh.

“Yang nampak adalah suatu fenomena munculnya pemahaman agama yang eksklusif, cenderung radikal dan tertutup, sementara di sisi lain terjadi kerusakan moral dan akhlak yang menggoyahkan sendi-sendi kehidupan sebagai bangsa yang beradab dan beragama,” kata Menag saat membuka semiloka “Prototipe Islamic Centre (IC) di Indonesia” di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis (31/1).Menurut Menag, agama sebagai sistem nilai tidak cukup hanya menjadi topik kajian dan objek studi semata. Tetapi ajaran agama secara keseluruhan haruslah dipahami dan diamalkan oleh setiap individu, keluarga dan masyarakat serta menjiwai segenap sisi kehidupan berbangsa dan bernegara.“Oleh karena itu, saya sangat menghargai peran dan kepedulian Komisi Ukhuwah MUI yang memiliki komitmen yang tinggi dalam rangka menunjang tugas pembinaan dan pemberdayaan umat dengan aspek yang diperlukan melalui upaya pendirian dan pemberdayaan Islamic Centre,” kata Menag pada acara yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia ini.Dalam kaitan ini, lanjutnya, kehadiran IC merupakan suatu keniscayaan terutama dalam memberikan perhatian yang terus menerus dan sungguh-sungguh terhadap upaya pembinaan umat dan peningkatan kualitas kehidupan beragama melalui pembudayaan dakwah, tarbiyah dan ukhuwah yang menyentuh kedalaman isi, pesan dan tujuan beragamaan yang sesungguhnya.“Peningkatan kualitas umat tidak hanya diukur dengan kesemarakannya, melainkan juga diukur dengan kepemahaman terhadap agamanya dan tingkat kesanggupan berperan dalam realitas sosialnya,” kata Maftuh.Menurutnya, sebagai pusat dakwah, IC memberikan bimbingan kepada umat agar mampu mengaktualisasikan iman yang dimanifestasikan dalam sistem kegiatan kemasyarakatan untuk mempengaruhi rasa, pikir, sikap dan tindak mewujudkan ajaran Islam dalam kehidupan.Sebagai pusat pendidikan, lanjutnya, IC dituntut untuk mampu membangun kembali tradisi intelektualisme Islam berdasarkan Alquran dan Hadits. Mengembangkan ilmu pengetahuan melalui pendidikan, kajian, penelitian dan penghikmatan pada masyarakat, seperti tradisi keilmuan dan ilmiah yang dibangun oleh dunia Islam pada abad ketujuh sampai ketiga belas yang menggenggam kendali hegemoni ilmu pengetahuan.Tetapi pada abad XIII hegemoni tersebut berpindah ke dunia Barat, dan perkembangan selanjutnya terjadi sekularisasi ilmu pengetahuan dan teknologi, yang melahirkan konsep pemilahan dan pemisahan ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum itu.“Dengan demikian IC berupaya memantapkan konsep paradigm baru, paradigm Islam yang menghilangkan dikotomisasi itu. Hal ini berarti untuk mengembalikan equilibrium Iptek yang islami, kita harus belajar sejarah Islam klasik, dimana peradaban Islam menjadi mercusuar ilmu pengetahuan tanpa memisahkan ilmu agama Islam dengan ilmu pengetahuan umum.Menag juga mengatakan pengembangan IC seyogyanya memperhatikan kearifan lokal. Juga selayaknya mempertimbangkan berbagai keadaan yang jelas dan terarah yang menjadi dasar utama di awal pendiriannya, khususnya yang berkaitan dengan potensi SDM yang tersedia dan komitmennya terhadap program dan kegiatan yang telah ditetapkan.Selain itu, dalam pengembangan IC perlu belajar dari pengelolaan pondok pesantren. “Banyak pesantren di tanah air ini berhasil maju dan survive, bukan karena dana yang cukup, melainkan karena para pengelolanya, kiai dan para pembinanya memiliki komitmen dan integritas yang tinggi pada lembaga yang dikembangkannya,” imbuhnya. (ks)

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.528598 detik
Diakses dari alamat : 103.7.12.72
Jumlah pengunjung: 11204010
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013. Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.