Kamis, 31 Januari 2008 –
BKKBN, Depag dan Tokoh Agama Bahas KB

Jakarta, 31/1(Pinmas)—Tokoh-tokoh agama Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu bersama Depag dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berkumpul untuk membahas Keluarga Berencana (KB)."Saat ini kita sedang mengalami banyak masalah karena selain kuantitas manusia Indonesia sudah sulit dikendalikan, secara kualitas juga rendah. Kami berharap para tokoh agama mendukung kami," kata Kepala BKKBN Dr Sugiri Syarief MPA di depan tokoh-tokoh agama di Jakarta, Rabu malam

Diskusi tersebut dihadiri Menag Maftuh Basyuni serta para Dirjen agama, juga para tokoh agama antara lain mantan Menteri Agama KH Tholhah Hasan, Ketua MUI KH Ma’ruf Amin, Sekum PGI (Persekutuan Gereja Indonesia) Richard Daulay, Made Gede Erata dari PHDI, Suhadi Sendjaja dari Walubi, Budi Tanuwibowo dari Matakin, M Ridwan Lubis dari PBNU dan lain-lain.Diskusi yang diawali dengan pertemuan para tokoh lintas agama di Jakarta pada 20 Desember 2006 ini dimaksudkan untuk menyegarkan kembali kerja sama yang pernah dibangun antara BKKBN dan para tokoh agama pada 1970 dan telah menuai sukses selama beberapa dekade.Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni dalam sambutannya berharap agar pertemuan ini menghasilkan pokok-pokok pemikiran yang dapat diorientasikan untuk memperkuat pemeliharaan kerukunan, membangun kesejahteraan umat mulai tingkat keluarga, desa dan bangsa secara keseluruhan.

Hanya dengan kesejahteraan yang baik, kata Menag, kita mampu membentengi bangsa dari pengaruh-pengaruh negatif dari luar sehingga ketahanan masyarakat, persatuan dan kesatuan bangsa semakin kuat dan kokoh.Menurut Menag, upaya membangun masyarakat sejahtera berbasis keluarga yang dicanangkan BKKBN ini, patut kita teruskan dan tingkatkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan umat. “”Upaya yang seksama harus terus dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan kerukunan, baik intern maupun antar umat beragama,” katanya.Oleh karena itulah, kata Menag, ke depan secara bersama-sama harus dapat lebih mengantisipasi dan membina paham/aliran-aliran sempalan, kelompok-kelompok radikal dan kelompok yang meresahkan masyarakat. “Ketidak berhasilan menjembatani perbedaan paham dan sikap di antara kelompok yang beragam dapat menimbulkan ketegangan yang tidak mudah diselesaikan,” ujarnya.Kegagalan KB Bukan Karena AgamaSementara itu, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma`ruf Amin menegaskan, kegagalan program Keluarga Berencana (KB) adalah akibat makin merosotnya gerakan KB sejak krismon, sehingga bukan disebabkan agama dan ayat kitab suci yang tak mendukung."Bagi umat Islam KB tidak menjadi masalah. Ayat KB-nya pun ada: Jangan menurunkan generasi lemah," kata Ma`ruf pada Silaturahmi Menteri Agama Maftuh Basyuni , Kepala BKKBN dan tokoh lintas agama menganai KB di Jakarta, Rabu malam.Menurut Ma`ruf, keberhasilan KB di Indonesia beberapa dasawarsa silam justru banyak disumbang oleh peran ulama dalam memberi pemahaman kepada umatnya mengenai KB.

Kepala BKKBN Sugiri Syarif juga membenarkan dukungan tokoh agama terhadap KB cukup nyata, mulai dari mulai keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah tahun 1968, Syuriah NU 1969 dan fatwa MUI pada 1983, sehingga KB bisa diterima luas oleh masyarakat.Ia menambahkan, keberhasilan program KB di masa lalu menyebabkan tahun 2000 yang diprediksi akan dipenuhi dengan 287 juta penduduk Indonesia, dengan program KB bisa ditekan menjadi hanya 207 juta. "Ini berarti terjadi kelahiran tertunda sebesar 80 juta penduduk sepanjang 30 tahun. Angka ini sangat bermakna karena bisa menghemat anggaran pembangunan," kata Sugiri.Ia mengakui, gerakan KB sempat pasif sejak 1998, karena pada era desentralisasi itu BKKBN tak lagi memiliki aparat sampai di tingkat lini lapangan, sehingga kegiatan operasional yang dulu dilaksanakan dengan "heboh" atau besar-besaran sekarang tampak mengendur. Karena itu pihaknya kembali meminta dukungan para tokoh untuk menyisipkan pesan-pesan tentang keluarga sejahtera di pesantren, majelis taklim, sekolah keagamaan, mesjid dan tempat ibadah lain, tambahnya.Menurut Ma`ruf, jika pemerintah ingin kembali melihat program KB berhasil maka gerakannya saja yang digalakkan seperti di masa lalu.Namun, ujar Sugiri, saat ini, BKKBN mencatat, sekitar 60 persen masyarakat menjadi peserta KB dan jumlah rata-rata wanita usia subur hanya memiliki 2,6 anak, jauh menurun dibanding pada 1970-an yang masih 5,6 anak. (ant/ts)

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.268451 detik
Diakses dari alamat : 103.7.12.72
Jumlah pengunjung: 9103914
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013. Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.