Menjadi Santri Selamanya

Rabu kemarin, 20 Oktober 2021, saya datang ke Pesantren Al-Falah Puteri, yang kini dipimpin oleh kakak kelas saya, Ustadz Mukhlish Kasyful Anwar, untuk acara "Bincang Buku dan Roadshow Penulis" yang dilaksanakan oleh Perpusda Banjarbaru. Saat memperkenalkan seorang penulis muda yang juga menjadi pembicara, moderator menyebut berbagai platform digital dan akun media sosial. Moderator tampaknya tidak menyadari bahwa di Al-Falah, santri tidak boleh memegang ponsel dan mengakses internet kecuali untuk keperluan terbatas. Dunia santri memang dunia yang dalam batas tertentu punya kekhasan tersendiri. Abdurrahman Wahid menyebutnya "subkultur".

Jika kita ingin berbicara tentang budaya menulis, maka dalam budaya santri kita mungkin harus memulainya dengan budaya muthala'ah, membaca teks kitab kuning sebelum dan sesudah dibacakan oleh guru. Muthala'ah bisa dilakukan sendirian ataupun berteman. Saya dulu punya tiga kawan akrab untuk muthala'ah bersama di malam hari. Kami pun saling membantu memahami teks, berdasarkan tata bahasa Arab dan kosa kata yang kami kuasai. Sambil muthala'ah, kami membuat minuman air panas yang dicampur susu kental manis dan diaduk dengan gagang sikat gigi karena tak punya sendok!

Rajin membaca adalah syarat utama untuk menjadi seorang penulis. Bagi kaum santri, selain mengamalkan perintah Allah yang pertama kepada Nabi Muhammad (Iqra'), membaca teks kitab kuning itu merupakan aktivitas belajar sebagai laku keagamaan yang disebut menuntut ilmu. Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Ilmu adalah pelita dalam hidup, petunjuk agar kita selamat dan bahagia dunia akhirat. Tujuan belajar bukan untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Yang bermanfaat artinya yang mendatangkan kebaikan. Pekerjaan dengan sendirinya akan kita dapatkan jika kita bisa memberikan manfaat kepada kehidupan. Karena itu, jika suatu hari berkat rajin membaca dan berlatih menulis, seorang santri akhirnya menjadi penulis, maka tujuannya adalah memberikan manfaat itu.

Selain orientasi keilmuan yang khas, budaya santri juga dicirikan oleh kesederhanaan. Yang paling tampak adalah dari segi berpakaian, khususnya di pesantren tradisional seperti Al-Falah. Tiap hari pakai sarung, sandal, baju putih dan kopiah putih. Jarang sekali memakai celana panjang, dasi dan sepatu. Isi lebih penting daripada kulit. Ilmu dan akhlak jauh lebih mulia daripada harta. Bersyukur atas apa yang ada sebagai karunia Allah dan bersabar atas kekurangan adalah kunci hidup damai bahagia. Kesenangan duniawi yang jangka pendek harus dikendalikan agar tidak merugikan kepentingan jangka panjang. Hidup adalah perjuangan mengendalikan nafsu dan ujian kesabaran.

Di pesantren, santri juga diajarkan kemandirian. Tidaklah mudah bagi anak lulusan Sekolah Dasar berpisah dari orangtua. Di subuh yang masih gelap, dia sudah harus bangun, lalu pergi ke sumur untuk mandi. Pakaian juga dicuci sendiri. Sebagian santri malah harus memasak sendiri. Tinggal jauh dari keluarga dan orangtua juga memaksa santri untuk mengatasi masalah-masalah praktis hingga beban psikologis secara mandiri. Ini membuatnya lebih cepat matang dan dewasa. Selain itu, sebagai lembaga, pesantren umumnya juga mandiri dalam arti tidak tergantung pada bantuan pemerintah. Ini membuat kiyai dan para ustadz relatif independen, dan pada gilirannya berpengaruh terhadap kemandirian para santri.

Di samping kemandirian, ada pula kebersamaan. Yang tua harus menyayangi yang muda, dan yang muda harus menghormati yang tua. Saling membantu dan menolong merupakan keharusan  karena santri hidup di lingkungan yang sama, terpisah dari masyarakat dan kekuarga. Tentu saja konflik dan perkelahian bisa terjadi. Orang yang egois juga ada. Namun kebersamaan akhirnya akan kembali berkuasa. Pernah ada seorang kawan yang pelit. Dia memakan kue Khong Guan miliknya sendirian, tak mau berbagi. Suatu hari, kue itu diam-diam diambil oleh temannya, lalu dihidangkan dalam piring. Si teman itu membagikan kue tersebut kepada semua kawan di asrama, termasuk pemiliknya yang pelit. Setelah itu, kawan-kawannya mengucapkan terima kasih kepada si pemilik kue yang akhirnya malu sendiri.

Pada umumnya, asupan gizi di pesantren itu kurang. Inilah yang sering menjadi sasaran kritik orang luar. Mungkin karena biayanya yang murah. Mungkin karena terlalu ingin sederhana. Padahal, sederhana tidak mesti kurang gizi. Belakangan, banyak pesantren yang sudah menyediakan konsumsi yang lumayan bermutu. Air bersih juga melimpah. Para santri juga didorong berolahraga dengan berbagai fasilitas. Yang orang luar kurang menyadari adalah latihan duduk beribadah yang lama. Paling kurang antara Magrib dan Isya. Juga duduk belajar, terutama saat membaca kitab kuning di masjid atau musalla. Ini pun satu latihan fisik yang luar biasa. Dalam pandangan tradisional, tubuh adalah kendaraan bagi ruh. Tanpa tubuh, kita tak bisa hidup di dunia ini. Namun, tubuh bukan tujuan. Ia adalah alat menuju tujuan.

Bagaimana dengan kesenian? Para santri juga manusia, perlu hiburan yang menggugah hati dan jiwa. Di pesantren tradisional, kesenian yang banyak ditonjolkan adalah seni tilawah Alqur'an dan syair-syair maulid serta nasyid. Lantunan syair-syair maulid itu biasanya diiringi dengan tabuhan terbang. Di pesantren modern, bermain musik secara umum juga disalurkan. Seni pertunjukan seperti teater dan komedi kadang juga ditampilkan. Yang jelas, semua kesenian itu harus bernapaskan, atau paling kurang, tidak bertentangan, dengan nilai-nilai agama.

Ketika seorang santri keluar dari pesantren, dia membawa nilai-nilai di atas, yang terpatri dalam dirinya. Pendidikan, pengalaman dan pergaulan yang dialaminya di luar tentu akan turut memengaruhinya, apakah nilai-nilai itu dapat bertahan, berubah atau berkembang. Dia juga akan berinteraksi dengan nilai-nilai lain yang kadang sejalan, dan kadang bertentangan. Yang ideal, nilai-nilai itu harus tetap menjadi pegangan hidupnya, meskipun dunia terus berubah.

Karena itu, seorang santri harus sering melakukan introspeksi. Apakah orientasi keilmuan yang bermanfaat, mendatangkan kebaikan, dan spirit belajar sepanjang hayat masih dialakoninya? Dapatkah dia hidup sederhana penuh syukur, tidak serakah dan tidak korupsi? Mampukah ia mempertahankan kemandirian, tidak menghamba pada siapapun kecuali pada kebenaran dan kebaikan? Bisakah ia menjaga kebersamaan sebagai sesama warga negara bahkan warga dunia di tengah keragaman dan konflik kepentingan? Akankah kekuatan dan disiplin tubuhnya digunakan sebagai kendaraan menuju keredaan Tuhan? 

Masihkah jiwanya bergetar saat mendengar alunan ayat suci dan lantunan salawat kepada Nabi? Tiap santri tentu punya jawaban sendiri. Yang pasti, tidaklah mudah untuk terus menjadi santri. Namun, justru untuk menghadapi aneka disrupsi dan tsunami informasi saat ini, nilai-nilai santri itulah pegangan yang kokoh, baik bagi seorang santri sebagai pribadi ataupun kita sebagai bangsa. Selamat Hari Santri. Santri Siaga Jiwa Raga!

Mujiburrahman (Penulis adalah Guru Besar Sosiologi Agama dan Rektor UIN Antasari Banjarmasin)