Hidup Itu Murah, Yang Mahal Itu Biayanya

Saritāni sinehitāni ca, somanassāni bhavanti jantuno; te sātasitā sukhesino, te ve jātijarūpagā narā. Dalam diri makhluk-makhluk timbul rasa senang mengejar objek-objek indria, dan mereka menjadi terikat pada keinginan-keinginan indria. Karena cenderung pada hal-hal yang menyenangkan dan terus mengejar kenikmatan-kenikmatan indria, maka mereka menjadi korban kelahiran dan kelapukan. (Dhammapada, Syair 341)

Semua orang memiliki impian untuk dapat hidup bahagia. Menurut pandangan umum, kriteria bahagia adalah ketika seseorang dapat memenuhi semua kebutuhannya. Namun pandangan umum ini tidak sepenuhnya benar.  

Dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan ada orang yang memiliki materi berlimpah, tetapi tidak pernah merasa bahagia karena menganggap materi yang dimiliki tidak pernah dapat mencukupi kebutuhannya. Tapi di sisi lain, ternyata ada orang yang merasa bahagia karena dapat hidup cukup dan tidak berkekurangan walaupun tidak memiliki banyak materi.

Mengapa hal ini dapat terjadi? Ternyata penyebabnya karena ketidakmampuan seseorang untuk dapat mengenali dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. 

Kebahagiaan hidup seseorang bukanlah ditentukan dari seberapa banyak materi yang dimiliki, tetapi seberapa bijaksana ia dapat mengenali dan mengendalikan keinginan yang  muncul yang tidak pernah ada habisnya.

Menurut Dhamma, seseorang yang dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan adalah orang yang bijaksana. Orang bijaksana adalah orang yang dapat membedakan yang penting sebagai yang penting dan yang tidak penting sebagai yang tidak penting. 

Kebutuhan adalah hal yang penting, sedangkan keinginan adalah hal yang tidak penting yang dapat ditunda. Karena keinginan sebenarnya mewakili rasa ego yang kita miliki. Terkadang karena keinginan yang terlalu besar sehingga kebutuhan yang sebenarnya penting terabaikan.

Kebutuhan pokok hidup yang paling dasar, adalah: sandang, pangan, papan, dan obat-obatan. Kebutuhan pokok inilah yang sesungguhnya harus kita prioritaskan agar dapat terpenuhi saat dibutuhkan. Agar kebutuhan pokok ini dapat terpenuhi, kita harus bersemangat dan berusaha dengan penuh ketekunan. 

Ketika kebutuhan pokok telah terpenuhi, hendaknya kita mensyukuri hasil perjuangan yang telah diperoleh dalam bentuk berpuas diri atau kepuasan (santutthi) terhadap apa yang dimiliki dan menggunakannya sebagai penunjang untuk hidup bahagia.

Sang Buddha mengatakan kepuasan adalah harta yang tertinggi. Seseorang yang tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki akan mudah terjerumus dan mengejar berbagai keinginan lainnya sehingga lupa untuk menikmati dan mensyukuri akan apa yang telah diperolehnya. 

Berbeda dengan kebutuhan, maka keinginan orang hidup sangatlah banyak, tiada batasnya dan tidak pernah memiliki batas akhir keinginan. Keinginan yang ada terus berlanjut dan sangat sulit untuk memenuhi keinginan yang tiada batasnya itu. Ketika seseorang tidak dapat memenuhi keinginan yang ada  akan menimbulkan penderitaan bagi dirinya.

Keinginan boleh saja ada jikalau semua kebutuhan, minimal kebutuhan pokok telah dapat terpenuhi. Namun yang perlu diperhatikan adalah keinginan tersebut haruslah tepat waktu dan sesuai dengan standar kemampuan orang tersebut.

Hanya diri sendirilah yang dapat menentukan yang mana kebutuhan dan yang mana pilihan. Untuk itu marilah kita renungkan dengan penuh kearifan agar dapat menentukan secara bijaksana bahwa yang penting sebagai kebutuhan dan yang tidak penting sebagai keinginan, serta  dapat mensyukuri dan menggunakan apa yang telah kita peroleh untuk melakukan kebajikan dan hal-hal yang bermanfaat. 

Hidup itu murah, yang mahal itu biayanya. Kebutuhan itu murah, yang mahal itu biaya keinginan. Semoga semua makhluk berbahagia.(mi_dhata)