“Virus” Toleransi dan Imunitas Keberagaman

Memaknai toleransi beragama tidak cukup dengan pemahaman di atas teks. Menjalankan praktik toleransi beragama juga tidak memadai jika berhenti di panggung diseminasi dan beragam siniar maya.  Sayangnya, mewujudkannya dalam laku dan praktik baik juga bisa jadi penuh dengan tantangan. 

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bakti Karya membuktikan, upaya memaknai pemahaman dan ikhtiar membangun toleransi itu memang memerlukan waktu, namun bukan soal yang mustahil untuk mewujudkannya dalam konteks lembaga pendidikan dan masyarakat sekitarnya. Unik dan menariknya, sebagaimana disampaikan pada berbagai media, SMK Bakti Karya mengemas upaya menumbuhkembangkan toleransi beragama tersebut dalam konsep inovasi yang partisipatif sekaligus produktif. 

Lokasi SMK Bakti Karya berada di wilayah Pangandaran Jawa Barat. SMK Bakti Karya mewujudkan konsep toleransi beragama itu dengan keberadaan siswa yang mewakili berpuluh latar belakang suku di nusantara dan bermacam agama pada diri siswa. Ai Nurhidayat, Ketua Yayasan Darma Bakti Karya Pangandaran yang membawahi SMK Bakti Karya, menjelaskan keragaman tersebut beserta program terkait yang telah dijalankan. 

“SMK Bakti Karya mengembangkan program Splash the Peace yang menekankan pentingnya menghargai multikulturalisme dan mewujudkan perdamaian,” tutur Ai saat ditemui di Pangandaran pekan lalu. Dengan program ini, siswa diharapkan mampu memahami dan mempraktikkan konsep toleransi dalam keseharian mereka melalui beragam praktik multikulturalisme yang diterapkan. 

Selain dengan Program Splash the Peace yang menjunjung tinggi semangat multikultural dalam kehidupan sehari-hari, SMK dengan jurusan multimedia ini juga mengembangkan program bernama kelas multikultural. Kelas multikultural merupakan sebuah pola yang dibuat bagi siswa untuk bersama belajar saling menerima, mengapresiasi, dan melindungi keberagaman suku, budaya, dan agama.

Kelas Multikultural dan Duta Perdamaian
Kelas multikultural adalah sebuah praktik baik (best pratices) tentang bagaimana siswa belajar menerima perbedaan yang berkembang secari alamiah, merupakan bawaan sedari lahir, semisal agama, budaya, dan suku. Dalam kelas multikultural, siswa ditekankan untuk memahami dan mempraktikkan bahwa penerimaan dan apresiasi terhadap perbedaan itu mutlak dilakukan sebagai modal dasar terwujudnya kedamaian. Selain itu, "patut dipahami, toleransi bukanlah tindakan permisif, bukan membolehkan segala hal. Toleransi juga bukan soal merendahkan diri sendiri. Akan tetapi, sikap toleransi adalah wujud rasa respek, empati, dan saling menghormati sesuai dengan proporsinya," ujar Ai Hidayat.  

Dengan program Splash the Peace dan kelas multikultural, nilai toleransi, semangat perdamaian, semangat berjaringan, berbudaya, dan pembelajaran aktif menjadi warna dasar akademik dan multikulturalisme di SMK ini. Tidak mengherankan, pada salah satu dinding sekolah, mural dan grafiti “multicultural is me” terpampang dengan jelas. Dalam banyak hal, grafiti tersebut menjelaskan semangat keberagaman yang diusung SMK Bakti Karya. Inilah “virus” toleransi yang disebarkan melalui SMK Bakti Karya.   

Lebih jauh, siswa diharapkan mampu menjadi duta perdamaian selepas mengenyam pendidikan di SMK Bakti Karya. Duta perdamain ini mengemban amanah untuk menyemai nilai dan laku multikultur yang dikembangkan di SMK Bakti Karya dengan berbagai terobosan programnya di daerah masing-masing atau di manapun mereka berada. 
 
Atas upaya membangun sekolah yang berbasis multikultarisme tersebut, Ai Nurhidayat mendapat penghargaan Satu Indonesia 2019 dalam bidang pendidikan. Kiprahnya dianggap mumpuni sebagai figur penjaga toleransi multikultural.  Sebelumnya, SMK Bakti Karya juga mendapatkan penghargaan sebagai sekolah yang mewujudkan nilai Pancasila dalam laku pendidikan dari Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Kaukus Pancasila, dan Yayasan Cahaya Guru.  

Dalam tuturannya kepada tempo.co (28/5/2020), Ai Nurhidayat menjelaskan langkah yang ditempuhnya yang penuh tantangan. Diceritakan olehnya, langkah dan upaya membangun toleransi dan multikulturalisme yang dibangunnya lewat lembaga pendidikan malah dianggap sebagai bentuk intoleransi itu sendiri. “Dengan mengakomodir siswa dari beragam latar belakang agama, saya malah dianggap menjadi agen penyebaran agama tertentu,” keluhnya.  Akibatnya, SMK Bakti Karya dan Ai Nurhidayat sempat mendapat perundungan dan pandangan negatif dari warga sekitar.  

Namun, upaya gigih tetap dilakukan Ai Nurhidayat dan sejawatnya dalam mengenalkan toleransi beragama dan misi sesungguhnya yang diusung. Kegigihan tersebut berbuah manis dengan dukungan yang didapatkannya dari warga sekitar. Toleransi beragama yang dikembangkan di SMK Bakti Karya malah menginspirasi terwujudnya Kampung Nusantara.

Kampung Nusantara
Kampung Nusantara dikembangkan dengan ide penerapan dan penguatan toleransi beragama yang dijalankan dalam keseharian para warga. Bupati Pangandaran dan Rektor Paramadina menandatangani deklarasi Kampung Nusantara tersebut pada tahun 2018. Kampung Nusantara adalah penamaan untuk rumah-rumah warga di Desa Cinta Karya, Parigi, Pangandaran, lokasi SMK Bakti Karya berada. 

Dinamakan Kampung Nusantara karena di dalam kampung tersebut dikembangkan sedemikian rupa nuansa toleransi dan keberagaman yang terintegrasi dengan SMK Bakti Karya. Rumah-rumah tersebut dihias dan diwarnai dengan corak keragaman budaya dan konsep wilayah di berbagai kawasan Indonesia. Tak ayal, kondisi demikian menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung dan berwisata. Di titik ini, SMK Bakti Karya mampu menunjukkan bahwa konsep, kampanye, dan promosi penghargaan terhadap keragaman dan keberagamaan memiliki dampak produktif secara ekonomi.    

Tidak berhenti sebatas itu, SMK Bakti Karya juga menekankan pentingnya penghargaan terhadap ekologi dengan dasar, prinsip, dan nilai-nilai keagamaan. "Siswa diajarkan untuk menghargai lingkungan, mengedepankan kualitas kebersihan, dan bercocok tanam. Upaya tersebut selaras dengan nilai dan ajaran semua agama," jelas Ai Nurhidayat. 

Dengan konsep tersebut, para siswa bekerja sama untuk menjaga lingkungan dengan menerapkan nilai dan ajaran agama masing-masing. Toleransi beragama, dalam praktik seperti ini, pada akhirnya juga berupa kerja kreatif dan kolaboratif karena mampu menggerakkan kesadaran sosial dan lingkungan. 

Dengan beragam pendekatan tersebut, Ai Nurhidayat berharap agar kelak tumbuh kesadaran bersama mengenai toleransi beragama. Dengan itu, perdamaian yang menjadi cita-cita bersama dapat diraih. Kondisi ideal tersebut sangat mungkin berkembang menjadi "imunitas" keragaman; sebuah kondisi ketahanan menghadapi risiko berbeda dan beragam, dengan mengedepankan penghargaan dan penerimaan.
 
Saiful Maarif, Asesor SDM Aparatur Kemenag


REKOMENDASI