Vatikan: Selain Islamophobia Ada Juga Kristenphobia

Jakarta, 20/6 (Pinmas) - Gelombang ketakutan terhadap Islam (Islamophobia) bukanlah satu-satunya masalah yang dihadapi umat beragama karena di dunia juga berkembang Kristenphobia. Pernyataan tersebut dikemukakan oleh utusan dari Tahta Suci Vatikan Pastur Khaled Akasheh yang ditemui seusai berpidato dalam acara Konferensi Cendikiawan Muslim Internasional (ICIS) ke-2 di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa."Saya kira penting untuk disampaikan bahwa tidak hanya umat Muslim saja yang menderita akibat adanya Islamophobia karena di masyarakat juga ada Kristenphobia. Semuanya sama-sama membuat umat menderita," kata Pastur Akasheh yang hadir di Indonesia mewakili Paus Benedict XVI.

Menurut dia, sebagai warga dunia sebaiknya seluruh orang menghindari sejumlah phobia itu dengan membangun kepercayaan antar umat beragama."Kepercayaan antar umat beragama adalah satu-satunya cara untuk menghindari phobia sehingga seluruh umat beragama dapat hidup berdampingan dan menciptakan perdamaian," ujarnya.Membangun kepercayaan antar umat beraga, kata dia, dapat dilakukan dengan sikap menghormati kebebasan individu dan menghargai hak asasi manusia.

Mengenai citra Islam yang acapkali dikaitkan dengan sejumlah tindak kekerasan di dunia barat, dia mengatakan bahwa aksi fundamentalis hendaknya dilihat dari beberapa sisi.Aksi fundamentalis, lanjutnya, dapat dipicu oleh berbagai masalah antara lain ketidakadilan dan kurangnya pengetahuan."Hendaknya seluruh pihak saling bicara satu sama lain untuk saling memahami," katanya.Akasheh juga menyebutkan arti penting memperkuat dialog antar agama untuk mencapai perdamaian global. Dia menyebutkan bahwa Gereja Katholik memandang perdamaian lebih dari sekedar berakhirnya perang, melainkan suatu keadaan yang harus secara terus menerus dibina karena merupakan dasar dari keadilan. Dikatakannya ada empat pilar untuk perdamaian yaitu kebenaran, kasih sayang, keadilan dan doa.Topik mengenai Islamophobia juga dikemukakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka KonferensiICIS ke-2. Kepala negara menyatakan keyakinannya bahwa umat Islam dapat berbuat lebih banyak untuk memerangi Islamophobia serta untuk menjadikan umat Islam sebagai pihak yang mampu mengatasi masalah dunia, bukannya justru pembuat masalah. "Kita dapat berbuat lebih untuk memerangi gelombang Islamophobia yang tampaknya sedang berkembang," kata Presiden.

Untuk memerangi ketakutan terhadap Islam itu, Yudhoyono mengingatkan pentingnya bagi umat Islam untuk memikirkan cara hidup di negara-negara yang penduduk mayoritasnya bukan penganut Islam. Selain itu, umat Islam harus dapat menunjukkan tingkah laku yang sesuai dengan prinsip Islam yang cinta damai. "Penting bagi kita untuk memastikan bahwa kita mengatakan kepada teman-teman kita yang non-muslim tentang apa yang kita inginkan agar mereka untuk mengerti, seperti halnya kita juga mendengarkan apa yang mereka inginkan untuk kita dimengerti," kata Yudhoyono.

Konferensi ICIS ke-2 diikuti oleh sedikitnya 300 delegasi dari 53 negara, sejumlah tokoh juga tampak hadir dalam pembukaan ICIS pada Selasa pagi, antara lain Menteri Agama Maftuch Basyuni, Ketua PB-NU sekaligus Sekjen ICIS Hasyim Muzadi, dan beberapa tamu kehormatan seperti PM Malaysia yang juga ketua Organisasi Konferensi Islam (OKI) Abdullah Ahmad Badawi, Pangeran Ghazi bin Muhammad --utusan Raja Abdullah dari Yordania-- dan Khaled Akashes --utusan Badan Keuskupan dan Dialog Antar-agama, dari Vatikan. (Ant/Ba)