UHN IGB Sugriwa Kaji Buka Prodi Wariga

Denpasar (Kemenag) --- Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus (UHN IGB) Sugriwa, Denpasar saat ini tengah mengkaji untuk menjadikan Wariga (Ilmu Astrologi Kuno Hindu Bali) sebagai salah satu program studi (prodi). Kajian ini dikemas dalam Workshop Wariga yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kesehatan Tradisional Komplementer (Kestrakom) UHN IGB Sugriwa. 

Workshop ini sekaligus untuk memperkenalkan ilmu Astrologi Hindu di Bali serta memperluas wawasan dan menambah kecintaan di bidang Kesehatan Tradisional Komplementer. Acara ini mengusung tema "Ambeg Utomo, Andhap Asor" (selalu menjadi yang utama, tetapi selalu rendah hati). Berlangusung di Auditorium Kampus jalan Ratna, Workshop dibuka oleh Wakil Rektor III, Ida Bagus Candrawan, Denpasar.

“Wariga adalah ilmu pengetahuan yang sangat tua, dan merupakan pegangan bagi umat Hindu di dalam penentuan Pedewasan. Wariga yang merupakan ilmu perbintangan, bagian dari Weda termasuk kelompok Wedangga. Di India dikenal dengan Jyosti (ilmu perbintangan),” kata Ida Bagus Candrawan, Senin (6/9/2021).

"Ke depannya, akan lahir banyak generasi Bangsa dari UHN IGB Sugriwa, yang mengerti dan paham Wariga Hindu secara utuh," lanjutnya.

Hadir sebagai narasumber, I Wayan Redi menyampaikan bahwa Ilmu Wariga sangat banyak manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari. Menurutnya, mengenal dan mempelajari Wariga sangat menarik terutama di tengah perkembangan keilmuan yang semakin kompleks.

“Meramal nasib hingga prediksi fenomena alam berdasar posisi bintang, sudah menjadi ilmu tersendiri dalam Agama Hindu. Bahkan, sudah ada dan diterapkan ribuan tahun silam,” kata I Wayan Redi.

I Wayan Redi menjelaskan bahwa Astrologi dan Astronomi adalah dua ilmu yang tidak bisa dipisahkan, walau memiliki perbedaan. Astronomi melihat posisi bintang dan dengan perhitungan khusus bisa mengetahui prediksi fenomena alam. Sedangkan Astrologi adalah mengamati posisi bintang untuk mengetahui pengaruhnya pada kehidupan manusia.

“Astrologi dan Astronomi dalam Hindu masuk dalam Jyotisha yang sudah ada sejak ribuan tahun silam. Jyotisha adalah Ilmu Astrologi sekaligus Ilmu Astronomi Hindu Kuno. Berasal dari bahasa Sansekerta, Jyoti yang berarti cahaya, dan Ish bermakna Tuhan. Sehingga Jyotisha bermakna Tuhan pengendali cahaya. Jyotisha masuk dalam percabangan Wedangga yang merupakan bagian tubuh dari kitab suci Weda,” papar I Wayan Redi.

Penggunaan Jyotisha, lanjut I Wayan Redi, bisa dilihat dalam film-film bertemakan Hindu, seperti Mahabharata saat Rsi Jaimini memprediksi hasil perang Mahabharata dengan Maharaja Drestarata dan Maharani Gandari.

Dijelaskan I Wayan Redi, Ilmu Astronomi dan Astrologi Hindu kuno ini sampai sekarang tetap digunakan. Ini terlihat masih kentalnya budaya India untuk melihat ramalan jodoh anak-anak mereka yang akan dinikahkan. Bahkan di Bali, masih sering dipakai, terutama dalam menentukan hari raya, masa tanam, ramalan kelahiran dan lainnya.

“Penentuan posisi bintang dilakukan oleh para Maharsi terdahulu dengan melakukan pengamatan dan perhitungan, untuk menghasilkan waktu, kapan sesuatu terjadi. Misal, hari raya apa saja yang akan jatuh dari tilem (bulan mati) sampai tilem berikutnya. Kapan terjadinya gerhana matahari ataupun gerhana bulan,” terang I Wayan Redi.

“Dalam Weda menganut Heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya), bukan geosentris (bumi sebagai pusat tata surya), seperti termuat dalam kitab Sama Weda 121. Matahari tidak pernah terbenam ataupun terbit, sebab bumi yang berotasi,” jelas I Wayan Redi.

I Wayan juga menjelaskan bahwa zaman dahulu para Maharsi bisa memprediksi hadirnya kehancuran, bencana, hadirnya raja baru, dan lain sebagainya. Penerapannya di Indonesia belum begitu banyak, namun di Bali sudah ada pada Ilmu Wariga yang dikenal secara umum.

“Perkembangan Wariga di Bali mirip dengan Jyotisha. Bisa dilihat, ada Wariga untuk pertanian, jodoh, kelahiran, Pedewasan, dan lain sebagainya,” tutup I Wayan Redi.

Workshop Wariga akan terus berlanjut demi pengembangan SDM Civitas akademika UHN IGB Sugriwa.