Tranformasi Diri, Berubah Atau Punah

Sabbe saṅkhārā aniccā ti yadā paññaya passati, atha nibbindati dukkhe esa maggo visuddhiyā. “Segala sesuatu yang berkondisi tidak kekal adanya, apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah jalan menuju pembebasan”. (Dhammmapada, Syair: 277)

Tidak ada yang kekal kecuali perubahan itu sendiri. Demikianlah realitas kehidupan, berubah terus-menerus tanpa henti. Perubahan dalam konteks Dhamma merupakan suatu realitas yang tidak dapat dicegah. Segala sesuatu yang terkondisi, akan selalu mengalami perubahan. 

Perubahan bukan hanya terjadi di luar diri seperti tahun, bulan, hari, jam, detik, pohon, alam sekitar, tapi perubahan yang sangat cepat juga terjadi di dalam diri manusia sendiri baik dari sisi fisik maupun mental. Dalam abhidhamma bahkan dijelaskan dengan perumpamaan bahwa dalam satu jentikan jari sudah terjadi perubahan pikiran perasaan berjuta-juta kali.

Dalam konteks perubahan zaman, para cendekiawan menyebut periode ini sebagai era disrupsi, di mana terjadi perubahan besar dan mendasar hampir di setiap bidang kehidupan. Perubahan disrupsi digambarkan sebagai perubahan yang menyerupai ledakan gunung, bukan perubahan seperti meniti anak tangga. Artinya, perubahan yang begitu cepat dan menyeluruh seperti mengganti ekosistem lama dengan ekosistem yang baru dan berbeda sama sekali. 

Sebagai gambaran yang nyata, dapat kita lihat bagaimana masa pendemi Covid-19 telah meluluhlantakkan perusahaan raksasa dunia yang tidak tanggap akan perubahan. Di sisi lain banyak bermunculan perusahaan kecil yang mendadak menjadi perusahaan raksasa yang sama sekali baru, seperti penemu aplikasi zoom dan aplikasi daring serupa yang secara mendadak menjadi penguasa ekonomi. Kemapanan di era disrupsi menjadi suatu status yang tidak relevan, segalanya mudah berubah dalam hitungan detik sekalipun. 

Umumnya ada dua cara menghadapi perubahan, yaitu kaget, pasrah, atau menyesuaikan diri. Dalam teori evolusi, makhluk yang dapat bertahan hidup, bukanlah makhluk yang paling kuat bertahan, melainkan makhluk yang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan alam. Mau tidak mau manusia harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada, yang tidak mau berubah akan tergilas oleh alam. Hal ini menggambarkan betul apa yang sering dikatakan oleh pepatah “berubah atau punah”. 

Dalam pandangan Dhamma perubahan diri sering disebut sebagai menuju pantai seberang, atau istilah lain adalah transformasi. Menuju pantai seberang sebagai istilah transformasi menuju kebahagiaan dimungkinkan jika kita paham akan realitas sekarang dan orientasi tujuan hidup mau ke mana. Syarat dari transformasi adalah paham kondisi saat ini, realitas kekinian. 

Tanpa memahami realitas kekinian, maka pengetahuan kita akan saat ini hanyalah ilusi. Mau tidak mau kesadaran kekinian perlu dilatih, dilepaskan dari lamunan masa lalu dan proyeksi masa depan. Latihan kesadaran ini lazim disebut sebagai meditasi, sebuah upaya lembut untuk selalu hadir di sini, saat ini. 

Zen master Thich Nhat Hanh menyarankan bahwa upaya kembali ke saat ini yang paling praktis adalah dengan merasakan mengamati nafas secara apa adanya. Dengan pengamatan terhadap napas kita dituntun untuk hadir di sini, saat ini, secara jernih. Kejernihan inilah yang menjadi modal utama untuk menghadapi perubahan dalam aspek apapun. Kejernihan sejati hanya didapatkan di momen-momen kekinian. 

Setelah terlatih dengan kesadaran jernih kekinian kita akan lebih mudah memahami terhadap apa yang terjadi dengan lebih detail, nyata, dan utuh. Modal ini akan menuntun kita menuju orientasi yang tepat dalam menghadapi perubahan. Reaksi kita terhadap perubahan akan lebih terukur secara ilmiah, bukan reaksi yang kagetan. Dalam konteks ini tepat sekali penggambaran syair  Dhammapada 277 bahwa melihat perubahan dengan kebijaksanaan akan membebaskan. 

Selamat Hari Amal Bhakti ke-76 Kementerian Agama RI. Mari kita siapkan transformasi diri seiring dengan transformasi layanan umat.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.