Tradisi Suro Wujud Implementasi Kerukunan

Indonesia memiliki budaya dan tradisi yang bermacam-macam. Tradisi tersebut sudah dilestarikan dari zaman dahulu hingga kini. Seiring berkembangnya zaman, tradisi tersebut terbelakangi dan tergantikan oleh pembaharuan-pembaharuan yang modern. Padahal, di era yang serba digital ini, seharusnya tradisi dan budaya Indonesia lebih berpotensi untuk berkembang dan bisa berpatisipasi penuh untuk menyebarluaskan tradisi yang sudah ditinggalkan oleh leluhur. 

Tradisi yang sudah terbangun secara turun-temurun sebaiknya terus dilestarikan agar nilai-nilai luhur yang ada di lingkungan sekitar tetap terjaga. Kerukunan umat beragama juga dapat terwujud melalui kearifan lokal, sehingga nilai toleransi dapat ditanamkan pada generasi penerus. 

Tradisi pada hakikatnya tindakan simbolis, sebagaimana pendapat Robertson Smith dalam Koentjaningrat (1987:67-68). Tindakan-tindakan simbiolis yang religius dari orang Jawa dapat dikelompokkan dalam tiga golongan. Pertama, tindakan simbiolis religius yang terbentuk karena pengaruh zaman mitos, atau disebut zaman kebudayaan asli Jawa. Kedua, tindakan simbolis religius yang terbentuk karena pengaruh zaman kebudayaan Hindu-Jawa. Ketiga, tindakan simbiolis religius yang terbentuk karena mitos zaman kebudayaan Hindu-Jawa dan Jawa-Islam. Ketiga macam tindakan simbiolis tersebut pada kenyataannya sulit dipisahkan satu dengan lainnya, karena masing-masing dilaksanakan secara beruntun, mendarah daging, dan telah menjadi adat istiadat dan budaya Jawa.  

Indonesia juga memiliki enam agama yang dipeluk mayoritas penduduk Indonesia, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Setiap agama yang berkembang di Indonesia telah melakukan adaptasi dengan budaya setempat sehingga melahirkan tradisinya masing-masing. Salah satunya adalah tradisi keagamaan di Desa Prigi. Desa tersebut terletak di kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobongan. Masyarakat di desa ini memiliki dua agama mayoritas yang dianut warganya, yaitu Islam dan Buddha. 

Kedua pemeluk agama hidup berdampingan dengan rukun, gotong royong, dan saling menghormati. Salah satu contohnya adalah dalam membangun rumah ibadah agama. Mereka berpartipasi penuh untuk gotong royong dalam pembangunan rumah ibadah. Hal ini sudah berlangsung turun-temurun dan masih berjalan hingga saat ini. Selain rasa toleransi yang tinggi, masyarakat Desa Prigi juga memiliki tradisi yang masih berkembang hingga saat ini. Salah satunya adalah Tradisi Suro. Bagaimana perkembangan Tradisi Suro di Desa Prigi?

Tradisi Suro di Desa Prigi
Tradisi Suro adalah tradisi turun-temurun masyarakat suku Jawa yang masih berpegang pada tradisi para leluhur. Kata “Suro” merupakan salah satu nama bulan dalam Tahun Saka. Satu Suro merupakan peringatan tahun baru dalam agama Buddha. Bulan Suro dianggap oleh masyarakat suku Jawa sebagai bulan sakral. Mereka menghindari hal-hal besar yang menyangkut kehidupan mereka dalam bulan tersebut.  

Peringatan 1 (satu) Suro juga bertepatan dengan 1 (satu) Muharram yang merupakan tahun baru Islam. Perbedaannya adalah dalam memperingati 1 (satu) Suro didasarkan pada perhitungan tahun pertama yang diawali Rabu Wage atau lebih dikenal dengan sebutan Aboge.

Menjelang Bulan Suro, umat Buddha di Desa Prigi melakukan tradisi antar masakan ketan yang disebut dengan punggahan. Umat Buddha memasak ketan dan makanan lain untuk diberikan kepada umat Islam. Tujuannya untuk membalas kebajikan umat Islam saat menjelang bulan puasa yang juga mengantarkan ketan kepada umat Buddha. Puncak dari tradisi punggahan ini adalah pada saat bulan purnama. Mereka melakukan sembahyang di Vihara dengan membawa ketan, pasung, apem, pisang, dan tumpeng. 

Setelah melakukan punggahan, umat Buddha di Desa Prigi menjalani puasa sampai malam pangkareman. Pangkareman adalah hari tenggang sebelum memasuki 1 (satu) Suro. Pada masa pangkareman ini umat Buddha tidak melakukan aktivitas atau pekerjaan rutin. Mereka mengganti aktivitas rutinnya dengan pengendalian diri dan ibadah. Hubungan antara 1 (satu) Suro dan pangkareman adalah pengibaratan kelahiran manusia yang bertaruh dengan nyawa. Hal tersebut mengingatkan bahwa manusia akan menghadapi perjuangan hidup dan menjalani kelahiran Tahun Baru Saka ke depannya. 

Pelaksanaan Tradisi 1 Suro di Desa Prigi
Pada hari 1 Suro, umat Buddha mengawalinya dengan ziarah ke makam leluhur. Mereka menaburkan bunga dan baca paritta di pesarean leluhur. Tujuannya agar para leluhur yang sudah meninggal bisa terlahir kembali dengan bahagia. 

Selesai membaca paritta, umat Buddha berkumpul di pelataran makam Mbah Pujud. Makam Mbah Pujud merupakan makam yang dianggap sentral pemujaan di desa ini. Mereka berkumpul dan membaca Paritta Pelimpahan Jasa dari Paritta Vandana, Saranagamana Patha, Buddhanussati, Dhammanussati, Sanghanussati, Karaniyametta Sutta, Vijaya Sutta, Ettavata dan Meditasi. Dilanjutkan pesan Dharma.

Setelah pembacaan parrita perlimpahan, umat Buddha membuat kesepakatan untuk berkumpul melaksanakan puja bhakti peringatan 1 Suro di Vihara. Lalu mereka berkumpul kembali dan beribadah di Vihara Dharmajati, dengan menggunakan bahasa Jawa dengan sarana pura sesaji dan renungan menyambut Tahun baru Sakha. Lalu ibadah ini diakhiri dengan sungkeman.

Yang membuat menarik dari Desa Prigi adalah setelah selesai ibadah di Vihara, umat Buddha dan umat Islam berkumpul kembali untuk berkeliling jalan desa dengan tujuan sebagai rasa syukur telah diberikan karunia yang berlimpah dan kerukunan desa. Setelah berkeliling desa, mereka kembali ke rumah masing-masing untuk bersiap menerima kunjungan dari keluarga, saudara, dan tetangga yang beragama Islam. Hal tersebut mirip dengan perayaan Idul Fitri, di mana umat Islam berkumpul dan berkeliling ke rumah keluarga, saudara, dan tetangga untuk saling bersilaturahmi. 

Tradisi 1 Suro di Desa Prigi ini bisa menjadi salah satu contoh baik untuk memelihara tradisi yang sudah ditinggalkan leluhur. Tradisi masyarakat Desa Prigi merupakan contoh yang baik bagi seluruh umat beragama di Indonesia, karena mewujudkan masyarakat yang memiliki toleransi tinggi, rukun, serta saling menghormati satu sama lain dalam kehidupan yang damai dan harmonis.  

Pada masing-masing agama, pasti terdapat sisi perbedaan di dalamnya yang tidak bisa dihindarkan. Tetapi perbedaan tersebut justru dapat menjadi sarana untuk menjadikan kita saling menghormati satu sama lain. Semoga masyarakat Indonesia bisa menjadikan Desa Prigi sebagai panutan dan motivasi dalam membangun sikap toleransi yang lebih baik lagi.

Yayuk Sri Rahayu, S.Ag.