Toleransi dan Kerukunan

Peringatan Hari Toleransi Internasional (International Day for Tolerance) yang jatuh setiap tanggal 16 November merupakan momentum untuk mengedukasi publik tentang pentingnya toleransi dalam kehidupan bangsa yang multikultur. Toleransi yang jujur dan tidak dibuat-buat. Toleransi yang tumbuh dari hati, persis sebagaimana diajarkan dalam kitab suci. Toleransi yang membuat hidup ini jadi rukun, meski berbeda agama, keyakinan, suku, etnis, dan golongan.

Semestinya, setiap hari adalah hari toleransi. Setiap orang saling menghormati dan menghargai atas berbagai perbedaan yang ada. Penghormatan dan penghargaan kepada sesama yang tidak menuntut balas. Penghormatan dan penghargaan kepada umat lain yang dilandasi semangat kemanusiaan dan perdamaian. Dengan toleransi dan kerukunan, agenda kehidupan umat beragama terjamin keberlangsungannya dan pembangunan nasional lebih mudah terwujud.   

Untuk mewujudkan hal itu, setiap diri dapat menjadi pejuang-pejuang toleransi dan kerukunan yang berkomitmen untuk terus merekatkan nasionalisme di atas kemajemukan. Kita optimistis bahwa modal sosial-budaya dan agama ini dapat merukunkan dan mendamaikan. Di saat yang sama kita mesti waspada bahwa potensi konflik bernuansa agama yang dapat menyebabkan disintegrasi bangsa mudah sekali tersulut oleh hal-hal sepele.

Soal mendasar yang menjadi sebab ketidakrukunan antarumat beragama dapat diringkas dalam dua hal. Pertama, ketidaktahuan tentang agama sendiri. Kedua, ketidakmauan mengenal agama orang lain. Sebab itu, menjadi umat beragama yang paripurna membutuhkan tirakat belajar yang panjang dan melelahkan. 

Bukan hanya umat, bahkan tokoh agama pun tidak boleh berhenti belajar tentang ilmu agama yang dalam dan luas itu. Mengimani doktrin-doktrin agama, lalu mengamalkannya dalam kehidupan nyata bukanlah proses sekali jadi. Beragama yang benar tidak cukup hanya modal semangat saja. Semangat terus belajar membuat umat dapat bersikap rendah hati dan dewasa dalam beragama. Umat yang rendah hati, tidak takabur kepada sesama dan tidak merendahkan orang lain. Umat yang dewasa terkontrol emosi keagamaannya, rasional, dan tidak mudah marah.

Ketidakmauan mengenal dan memahami agama lain juga menjadi 'penyakit' ikutan yang efeknya serius. Bagaimana mungkin mengukur kebenaran agama orang lain dengan ukuran kebenaran agama kita. Jika itu yang selalu kita lakukan, pasti makin memperuncing perbedaan.

Semua agama jelas berbeda keyakinan dan ritual agamanya. Kita tidak berhak menyalahkan keyakinan dan ritual agama orang lain, sebagaimana orang lain juga tidak pantas mencampuri urusan keyakinan dan ritual agama kita. Maka, jika kita mau menghargai dan menghormati keyakinan orang lain, maka mereka akan menghargai dan menghormati agama kita.

Debat teologis untuk mencari yang benar—dengan perspektif ilmu perbandingan agama—mungkin saja dilakukan, tetapi harus dalam ruang khusus dan dilakukan oleh para teolog. Kajian teologis-filosofis-komparatif membutuhkan modal ilmu (ilmu agama kita dan ilmu agama orang lain) yang cukup untuk memasuki wilayah tersebut. 
 
Psikologi Terancam
Namun demikian, relasi antaragama di Indonesia sudah cukup baik: rukun dan damai. Tapi bukan berarti tanpa masalah. Sesekali ada kompetisi, kontestasi, dan tensi yang dinamis. Adanya ‘masalah’ dalam relasi ini, tidak selalu berdampak negatif. Berlomba-lomba menjadi umat terbaik merupakan sisi positif yang perlu dipahami dan dikelola sehingga perbedaan membawa berkah bukan sebaliknya.

Pertemuan-pertemuan lintas agama yang digelar di semua level, menunjukkan adanya dinamika baik yang muncul di permukaan maupun yang dipendam. Soal pendirian tempat ibadah merupakan salah satu masalah yang muncul di permukaan. Soal ini berpotensi menggangu kerukunan. Sifatnya kasuistik, yakni tidak semua kelompok minoritas merasa sulit atau dipersulit oleh kelompok lain untuk mendirikan tempat ibadah. 

Masalah lain yang jarang diungkap dan didialogkan secara jujur adalah problem konversi agama. Semua agama khawatir adanya islamisasi, kristenisasi atau berbagai proses kegiatan penyebaran suatu agama di suatu daerah. Kerapkali muncul pemahaman sempit sampai pada kesimpulan agama lain adalah ancaman bagi agama yang bersangkutan. 

Semua umat beragama sangat serius menanggapi isu ini. Bahkan konversi agama telah dijadikan sebagai perspektif dalam melihat umat dan kegiatan agama orang lain. Semuanya dianggap islamisasi, kristenisasi, hinduisasi dan seterusnya. Akhirnya, yang muncul adalah ketakutan dan kecurigaan terhadap kelompok lain. 

Yang ditakutkan bukanlah sekadar pendirian tempat ibadah. Tapi penyebaran agama yang berakhir pada pemurtadan. Jika ada umat agama tertentu membantu umat agama lain, yang segera terpikir adalah telah terjadi kegiatan penyebaran agama di tempat tersebut. Jarang yang berpandangan bahwa agama lain adalah sahabat agama kita untuk bersama-sama berjuang menuju pada kebaikanbersama. 

Isu pemurtadan membuat umat tidak rukun. Muncul sikap saling curiga karena ada ketidakjujuran dalam beragama. Ketidakjujuran dipicu oleh rasa terancam. Dan rasa terancam merupakan bukti umat tidak memahami agamanya sendiri dan agama orang lain. Padahal, umat yang merasa terancam oleh agama orang lain sama artinya dengan meragukan kebesaran dan keagungan Tuhan yang pasti akan menolong hamba-Nya.

Tulisan ini sebelumnya tayang di kompas.com dengan judul "Toleransi dan Kerukunan" (https://nasional.kompas.com/read/2021/11/16/11423501/toleransi-dan-kerukunan)