Tinggal Dalam Dia, Maka Kamu Berbuah Banyak

Saudara-saudari yang terkasih. Pada hari Minggu Paskah V, Gereja Katolik mengajak umat Katolik untuk merenungkan Injil Yoh. 15:1-8. Injil Yohanes menyajikan pesan-pesan kepada pembaca melalui suatu perumpamaan. Kali ini, Yohanes menampilkan perumpamaan pokok anggur dan ranting-rantingnya.

Bapa diinterpretasikan sebagai “pengusaha” yang memiliki kebun anggur dan Yesus diinterpretasikan sebagai “pokok anggur” atau pohon, dan para murid-murid Yesus sebagai “ranting-rantingnya”. Sementara itu, “anggur” adalah buah-buah kebaikan, keselamatan, dan kebahagiaan. Yohanes menampilkan “anggur yang banyak” sebagai penanda di mana Bapa sebagai “pemilik kebun anggur” akan memetik pada saatnya. 

Simbolik pesan yang ditampilkan melalui perumpamaan pohon anggur menggambarkan “suatu organisme” yang hidup, yang keseluruhannya menjadi “mozaik” yang indah karena pada saatnya panenan akan berlimpah.

Sebagai organisme yang hidup, ranting tidak akan menghasilkan buah bila putus, patah, atau lepas dari pohon anggur. Sebagai jaringan kehidupan sebagaimana pohon, ranting dan buah diibaratkan berada dalam kesatuan yang saling menghidupi. Ranting tidak akan menghasilkan buah bila patah dan jatuh dari pohon. Pun ranting tidak akan menghasilkan buah yang baik kalau ranting itu “ditumbuhi” dengan “benalu” atau jamur yang merusak. 

Kesatuan ini menjadi ukuran buah yang baik di mana para murid-murid bersatu dengan Yesus. Kesatuan dan relasi yang utuh, bukan setengah-setengah antara “ranting dan pohon”, benar-benar merupakan relasi beriman para murid Yesus yang tidak akan putus, dan senantiasa tumbuh dan berkembang serta menghasilkan keselamatan.

Kisah Para Rasul 9:26-31 menceritakan bagaimana Paulus yang bertobat, - dari pembunuh murid-murid yang mengikuti Kristus menjadi pewarta Kristus Tuhan, berani mewartakan Injil Tuhan di tengah-tengah umat di Damsyik agar keselamatan juga dialami oleh bangsa-bangsa lain. Pengalaman kesatuan dan relasi erat dengan Kristus ini membawa Paulus menjadi saksi akan kebangkitan Tuhan, dan banyak orang percaya dan beriman kepada Kristus. Paulus tumbuh sebagai murid yang diandalkan sebagai buah-buah kepercayaan kepada Kristus, Sang Pokok Anggur.

Selanjutnya, hari Minggu ini juga dibacakan kisah bacaan I Yoh 3:18-24.  Yohanes berpesan agar dalam suatu komunitas para murid Kristus tetap menjaga rasa saling percaya, dan saling mengasihi satu dengan yang lain. Pesan ini juga mau mengatakan kepada umat Katolik untuk menjaga dan menghidupinya. Sebab rasa saling percaya dan saling mengasihi juga merupakan buah-buah sebagai murid Kristus. Rasa saling percaya dan saling mengasihi mendatangkan kebaikan-kebaikan lain dalam komunitas.

Komunitas akan menjadi hidup, dan persaudaraan sejati akan berjalan karena dalam komunitas itu tidak ada orang yang disingkirkan, tidak ada orang yang disakiti, tidak ada orang yang diabaikan dan tidak ada orang yang merasa paling hebat.  

Saudara-saudari yang terkasih. Kita adalah “ranting-ranting” Kristus. Sebagai umat beriman Katolik, para murid Kristus hendaknya menghidupi dan menghayati kesatuan yang erat dengan “pokok anggur”. Hendaknya para murid senantiasa mengupayakan kebaikan-kebaikan yang berguna bagi orang-orang di sekitar kita. Hendaknya para murid terus menjaga relasi dan kesatuan dengan pokok anggur yakni Kristus agar dapat terhindar dari keburukan-keburukan atau perbuatan jahat, atau perbuatan iri dengki, perbuatan licik, dan perbuatan-perbuatan korupsi.

Pada akhirnya, para murid hendaknya bersatu dengan Kristus sebagai sumber hidup dan sumber inspirasi kita untuk menghasilkan buah-buah kebaikan di lingkungan kerja, di masyarakat, dan orang-orang sekitar. Marilah kita berdoa semoga Tuhan senantiasa menguatkan kita dalam melaksanakan tugas dan perutusan untuk mendatangkan kebaikan-kebaikan, dan keselamatan sehingga “pengusaha” yang adalah Bapa sendiri akan memasukkan kita dalam kerajaan-Nya kelak.

Dengan keyakinan ini, marilah berlomba untuk mendatangkan kebaikan-kebaikan di lingkungan terdekat kita, dan bukan hanya berbicara seperti orang yang tidak beriman. Amin.

 

Albertus Triyatmojo (Direktur Urusan Agama Katolik)


TERKAIT