Tersenyum Saat Senang dan Sedih

Jayaṁ veraṁ pasavati, dukkhaṁ seti parājito’. Upasanto sukhaṁ seti, hitvā jayaparājayaṁ. Pemenang akan dimusuhi, pecundang hidup menderita. Mereka yang meninggalkan kemenangan dan kekalahan berbatin damai, hidup Bahagia. (Dhammapada, Sukhavaggo; 15:201)

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Jawa dan Bali yang dimulai tanggal 3 Juli 2021 diperpanjang hingga 26 Juli 2021. Mengingat wabah corona masih belum turun secara signifikan,  gagasan perpanjangan PPKM ini disarankan juga para ahli epidemologi agar Covid 19 benar-benar dapat ditekan penyebarannya.

Hal ini tentu disambut dengan  penuh antusias dan pesimisme yang saling kontradiktif di tengah masyarakat. Ada yang senang, namun juga ada yang bersedih karena berbagai alasan. Semua ini merupakan realita yang senantiasa mewarnai dinamika kehidupan kita.

Namun, jika kita ingat pepatah “dan ini pun akan berlalu”, maka kita akan menyadari bahwa segala sesuatu tidak kekal (anicca). Kegembiraan satu ketika akan berakhir begitu pula sebaliknya, kesedihan tidak akan selamanya merundung umat manusia.

Sedih dan senang merupakan fenomena batin dan pikiran yang dipengaruhi oleh kondisi fisik dan lingkungan. Sebagaimana kemenangan dan kekalahan yang menimbulkan senang dan tidak senang, siswa Buddha yang bijaksana senantiasa mengendalikan pikirannya agar senantiasa terjaga dan tidak terpengaruh oleh kondisi tersebut secara berlebihan. Karenanya pikiran perlu diarahkan kepada hal-hal baik yang dapat dilakukannya.

Dalam kitab SangHyang Kamahayanikan disebutkan:

“Mapa ṅ hayu ginawayaken deniṅ citta? Apa yang baik dilakukan oleh pikiran? Selain tan goṅ rāga (mengendalikan gairah seksual), tan goṅ dveṣa (tidak membenci), tan goṅ moha (tidak berpandangan sesat), tan goṅ irṣyā (tidak iri hati), juga tan goṅ ṣoka (tidak bersedih mendalam), dan  tan goṅ reņa (tidak merasa senang berlebihan)”.

Selain melaksanakan prokes secara ketat, mengikuti vaksinasi, dan patuh PPKM, pikiran yang damai disinyalir dapat membangkitkan harmoni, keceriaan, mengurangi stress serta meningkatkan imunitas tubuh. Dengan demikian diharapkan kita akan terhindar dari penularan virus dan bakteri. Pikiran yang tenang juga dapat menerima segala kemungkinan yang telah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan terjadi. Disaat senang maupun sedih kita akan senantiasa tersenyum.

Semoga pandemi Covid-19 yang telah meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan kita terutama ekonomi global, yang telah diupayakan dengan berbagai cara baik cara-cara lahiriah (nyata/teknis) melalui penerapan prokes (mencuci tangan memakai masker, menjaga jarak,  menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas), melaksanakan program vaksinasi massal, dan terakhir PPKM darurat, juga melalui cara batiniah dengan bersama-sama melafalkan doa memohon kepada Tuhan Yang Esa akan segera berakhir.