Terkait Krisis Timteng, Kedubes AS Diminta Berdialog Dengan Tokoh Islam Indonesia

Jakarta, 17/7 (Pinmas) - Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta diminta pro-aktif berdialog dengan para tokoh Islam berbagai organisasi sehubungan dengan aksi militer Israel di Palestina dan Lebanon sehingga sentimen keagamaan dan solidaritas keummatan yang muncul akibat krisis itu tidak berdampak negatif bagi kepentingan dalam negeri Indonesia. "Kedubes AS di Jakarta harus secara aktif ikut menenangkan organisasi-organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Indonesia dengan melakukan dialog dengan para pemimpin ormas/keagamaan maupun dengan para tokoh sentral di Departemen Pertahanan , Panglima TNI dan Kapolri," kata pengamat intelijen, Wawan H. Purwanto di Jakarta, Senin.      

Sentimen keagamaan di Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim mudah tersulut akibat konflik Israel-Palestina dan Timur Tengah pada umumnya sehingga keterpaduan langkah antisipatif berbagai pihak sangat diperlukan, katanya."Jadi harus `bareng-bareng` (bersama-sama). Unsur-unsur keagamaan dan Dubes AS harus aktif, dan situasinya akan menjadi carut marut di Indonesia jika langkah antisipatif gagal tidak dilakukan karena perasaan sentimen itu semakin meluas," katanya.       Indonesia selalu terpengaruh oleh krisis di kawasan itu padahal negara itu sudah masuk kategori "sasaran teror". Dalam konflik ini, Indonesia tidak hanya direpotkan oleh harga minyak yang bisa mencapai 100 dolar AS per barel jika krisis di sana tidak segera berakhir tetapi juga dampak negatif dari sentimen berlebihan, katanya.      Amrozi (terpidana mati dalam kasus Bom Bali 2002-red.) saja pun bergerak dengan alasan kondisi umat Islam yang menjadi korban konflik di Palestina, katanya.      

Sementara itu, terkait dengan situasi di Timur Tengah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Selasa (18/7) akan bertemu dengan para duta besar negara Arab di Jakarta untuk mencari masukan dari mereka guna menentukan sikap RI terhadap Israel di tengah serangan Israel yang makin membabi buta ke Libanon hingga menghancurkan berbagai fasilitas penting di Beirut serta memaksa warga asing, termasuk  WNI, untuk keluar dari Libanon.      "Besok Presiden akan memanggil para duta besar negara-negara Arab untuk membicarakan hal itu," kata Juru Bicara Kepresidenan, Dino Patti Djalal.  Dino belum memberikan gambaran tentang hasil apa yang diharapkan dari pertemuan Yudhoyono dan para duta besar negara-negara Arab.

Namun, ia menekankan  bahwa masalah serangan Israel akan dibahas oleh Presiden dan para diplomat Arab tersebut.Pertemuan itu akan berlangsung di tengah seruan berbagai pihak di Indonesia, yang meminta pemerintahan Yudhoyono-Jusuf Kalla untuk bersikap lebih keras dan konkret dalam menghadapi agresi militer Israel.      Presiden Partai Keadilan Sejahtera, Tifatul Sembiring, misalnya, pada Minggu (16/7) mengatakan bahwa kutukan keras serta imbauan saja terhadap Israel tidak cukup untuk dapat memaksa negara tersebut menghentikan agresi militernya. Menurut Tifatul, langkah konkret yang seharusnya dilakukan pemerintah adalah berupaya kerasa melobi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Amerika Serikat, Uni Eropa dan negara-negara Arab untuk mendesak Israel menghentikan aksi-aksi brutalnya itu.(Ant/Ims)