Stafsus Menag: Jajaran Kemenag Harus Pro Aktif Silaturahim ke LPQ

Cirebon (Kemenag) --- Stafsus Menteri Agama bidang Hubungan Antar Kementerian/Lembaga, TNI/Polri, Kerukunan dan Toleransi, Nuruzzaman, meminta jajaran Kementerian Agama di daerah untuk lebih sering menyapa stakeholdersnya, termasuk para pengasuh lembaga pendidikan Al-Quran (LPQ).

Pesan ini disampaikan pria yang akrab disapa Bib Zaman ini kepada para Kasi Pendidikan Al-Quran saat memberikan pembekalan acara “Penyusunan Buku Moderasi Beragama Pendidikan Al-Qur’an” di Cirebon. Agenda ini berlangsung tiga hari, 11-13 Maret 2022.

“Sekurangnya, para Kasi yang hadir ini perlu silaturahim ke Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) atau Pesantren, minimal seminggu sekali turun ke lapangan, untuk menyapa, dan seterusnya. Dengan silaturahim itu, maka akan terjadi komunikasi yang lebih akrab dengan mereka. Hal itu juga bagian dari pelayanan prima untuk menjemput bola, bukan menunggu di kantor saja,” ujarnya di Cirebon, Jumat (11/3/2022). 

Menurutnya, nilai-nilai moderasi beragama dapat disampaikan kepada para ustadz atau santri saat bersilaturahim. Sehingga, Kementerian Agama dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti berita-berita negatif yang dapat menodai keberadaan Pesantren dan Pendidikan Keagamaan Islam.

Sebelumnya, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Dr. Waryono Abdul Ghafur mengajak jajaran Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, pusat dan daerah, untuk aktif dalam setiap upaya merawat harmoni dan menguatkan moderasi beragama. 

“Menyampaikan moderasi beragama kepada masyarakat harus melihat audience. Dalam konteks Lembaga Pendidikan Al-Qur’an yang notabene dimulai sejak usia dini hingga dewasa, maka diperlukan buku yang disusun dengan bahasa dan kreasi menarik, seperti gambar animasi maupun kartun. Hal itu diperlukan sebagai distingsi khusus di lingkungan Lembaga Pendidikan Al-Qur’an,” imbuhnya.

Kepala Sub Direktorat Pendidikan Al-Qur’an, Mahrus mengutarakan bahwa buku Moderasi Beragama pada Pendidikan Al-Qur’an akan dibuat menjadi buku saku serial. Sejumlah tema yang telah dirumuskan antara lain terkait adab terhadap Al-Qur’an, dan sejarah sanad keilmuan pembelajaran Al-Qur’an di Indonesia. Menurutnya, sanad juga bagian dari pembelajaran Al-Qur’an yang moderat, supaya tidak terkesan instan, tetapi ada proses dan tahapan-tahapannya. 

“Buku saku ini akan dihiasi dengan pesan-pesan edukatif, misalnya pada cover belakang, atau sisipan buku yang menyampaikan keragaman budaya dan suku yang menjadi kerangka Bhinneka Tunggal Ika atau semacamnya, terkait Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tuturnya. 

Usulan buku serial tersebut, lanjut Mahrus, merupakan hasil diskusi bersama para pengkaji moderasi beragama dari Rumah Moderasi Beragama di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), praktisi pendidikan Al-Qur'an, para Kepala Seksi Kantor Kementerian Agama Kota/Kabupaten dari sejumlah wilayah, serta para pejabat fungsional Subdit Pendidikan Al-Qur’an. 

“Semoga kegiatan tersebut menjadi kontribusi lain Pendidikan Al-Qur’an melalui direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren untuk bangsa Indonesia,” harapnya. (ME/Yusr)