Spiritualitas dan Mi'raj di Era Metaverse

Perayaan Isra Mi'raj tahun ini serasa spesial. Selain masih dalam suasana pendemi, juga sedang ramai orang membincang era "metaverse". Suatu masa di mana sebagian orang kehilangan unsur-unsur kemanusiaannya karena hidup serba digital, robotik, dan mekanistik. Akibatnya, aspek-aspek "rasa" dari heart (qalb) yang menjadi bagian penting dari struktur jiwa manusia semakin berkurang secara drastis.

Jika merujuk pada karateristiknya, manusia sejatinya lebih menyukai merawat "rasa" dengan sesama secara langsung. Pertemuan tatap muka lebih memiliki "sentuhan" emosional dibanding dengan sambungan maya. Saat meet-up langsung dengan sesama akan tumbuh "feel" terdalam yang menghubungkan energi-energi positif pada setiap individu.

Demikian juga dalam hubungan manusia dengan Tuhannya. Manusia yang pada hakikatnya merupakan makhluk ruhani yang selalu merindukan asal ruhnya. Ruh yang bersumber dari Zat Yang Maha Wujud. Simpul-simpul spirit telah menjadi pendorong manusia mencari titik kebahagiaan hakikinya. Kualitas spiritual pada manusia menjadi modal penting untuk selalu dekat dengan Tuhannya.

Hanya saja, di tengah "kegandrungan" manusia pada media teknologi berbasis internet yang memudahkan manusia dalam banyak hal telah menggeser sensitifitas emosi, bahkan meredupkan sinyal-sinyal spiritual. Kekuatan spiritual manusia-manusia modern melemah karena tekanan jiwa-jiwa rendah yang bersumber dari kesenangan fisik. Dominasi daya jiwa tirani (ammarah) yang melekat pada manusia mengecilkan kekuatan daya yang menghubungkan dengan Tuhan. 

Menurut August Comte, semakin modern sebuah masyarakat akan semakin jauh dari agamanya. Namun pendapat Comte tersebut justru tidak seiring dengan realitas masyarakat modern. Dalam kompleksitas kehidupannya, masyarakat modern justru semakin haus terhadap nilai-nilai spiritualitas. Fenomena inilah yang oleh Harvey Cox disebut sebagai "turning east".

Jika merujuk pada makna terminologisnya, dinamika kebangkitan spiritualitas manusia modern ternyata tidak selalu berkaitan dengan Tuhan (divinity). Spiritualitas model ini hanya berfungsi sebagai pelarian psikologis, obsesi, dan kebutuhan ruhani sesaat. Spiritualitas manusia modern bukan sebagai bagian integral dari kehidupan, tetapi sekedar pemuasan rasa ingin tahu yang hanya sampai pada batas mental dan sebagai terapi atas beragam persoalan hidup yang kian rumit. 

Jika kita cermati, fenomena arus kegandrungan aspek spiritualitas masyarakat modern adalah bangkitnya fenomena new age, menjamurnya metode healing therapy, gerakan "back to nature", dan semacamnya. Memang terdapat unsur-unsur spiritualitas, tetapi tidak selalu "dihubungkan" dengan aspek transendensi diri dengan The Other, atau Zat Yang Mutlak. 

Secara psikologis, Abraham Maslow mengistilahkan fenomena tersebut dengan "pengalaman puncak" (peak experience). Yaitu suatu keadaan dimana seseorang mengalami kebahagiaan yang luar biasa, yang dapat terjadi pada seseorang yang telah mencapai aktualisasi. Istilah ini digunakan Maslow merujuk pada keadaan kesadaran kesatuan, dimana seseorang mampu mengaktualisasikan diri akan memiliki perasaan menyatu dengan alam. Ia merasa tidak ada batas antara dirinya dengan alam semesta.

Pada kondisi semacam ini, hakekat spiritualitas bukan lagi menjadi persoalan yang penting. Bagi para konsumen spiritualitas ini, hal yang penting adalah tujuan mereka tercapai. Mereka tidak memperdulikan akan kemana orientasi spiritualitas yang digelutinya, apa rujukan agamanya, dan seperti apa relasinya dengan Tuhan. Bahkan, Tuhan pun bukan lagi menjadi hal yang penting bagi mereka demi untuk menemukan "kebahagiaan" versi mereka yang lepas dari transendensi ketuhanan.

Shalat sebagai Mi'raj

Momentum peringatan Isra' Mi'raj yang jatuh pada tanggal 27 Rajab (28/2) mengingatkan kembali akan pentingnya kita untuk mengoptimalkan "Mi'raj" kepada Allah, Zat Pemilik Alam. Jika merujuk pada pengertian Mi'raj yang dialami  Rasulullah saw adalah perjalanan spiritual dari Masjidil Aqsha menuju Sidratil Muntaha, sebuah "tempat" langit ketujuh.

Pengalaman terdalam Rasulullah saw saat Mi'raj selain mengalami peristiwa "bertemu" dengan Nabi-nabi terdahulu, juga menghadapnya Rasulullah kepada Allah SWT. Beliau mendapatkan perintah untuk melaksanakan sholat sebanyak 50 kali dalam sehari. Namun, Rasulullah mengajukan permohonan keringanan kepada Allah SWT  berkali-kali, hingga akhirnya mendapatkan perintah sholat lima waktu dalam sehari, dan dijalankan umatnya hingga saat ini.

Mi'raj Rasulullah SAW tersebut harus menjadi media melakukan perjalanan spiritual bagi umatnya, yaitu melaksanakan shalat fardhu lima waktu dalam sehari. Kalimat "Shalat adalah mi'raj bagi seorang Muslim" menjadi penting. Artinya, dengan menjalankan shalat yang baik, seorang hamba sedang melakukan perjalanan spiritual ke haribaan ilahi. Dengan sholat, seorang hamba merasakan kenikmatan dan ketenangan yang tak ternilai. Karena  shalat merupakan puncak dari dzikir.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita dituntut melaksanakan "mi'raj" sebagai puncak spiritualisme hamba. Apalagi dalam sholat terdapat sesi sujud, yaitu gerakan dan sikap yang menunjukkan pada titik lemah manusia sebagai makhluk Allah disertasi penyucian dan pengagungan terhadap-Nya. Sujud adalah kenangan terindah manusia pasca kematian. 

Allah dalam Alquran menyebutkan: "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku." (QS: Thaha:14). Juga dalam ayat lain: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'du 28).

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana seharusnya Mi'raj dilakukan di era Metaverse? Perubahan apapun di dunia ini, selama manusia masih berkesempatan untuk Mi'raj harus tetap dilakukan. Munculnya teknologi canggih yang mempermudah manusia dalam kehidupannya tidak semestinya menjadi alasan mereka meninggalkan Tuhan, sebagai pusat dari seluruh keberadaan alam ini. 

Meningkatnya arus spiritualisme manusia modern seharusnya tidak berhenti pada "kebahagiaan" mental semata, yang hanya menghubungkan hingga pada pemenuhan kebutuhan hidup di dunia. Keterhubungan manusia dengan di luar dirinya harus diarahkan kepada Tuhan (divinity) melalui proses transendensi tertinggi (ma'rifatullah), sehingga akan menemukan kebahagiaan sejati karena "bertemu" dengan Dzat Yang Maha Tinggi.

Sehingga, era metaverse yang membawa manusia pada titik tertinggi peradapan akal (sains), bukan berarti manusia tidak lagi memiliki konektifitas dengan Tuhan. Justru, kemajuan peradaban manusia harus menjadi momentum untuk meningkatkan sisi-sisi spiritualisme bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari Tuhan. Tuhan adalah pusat kembalinya keberadaan di dunia, sehingga manusia harus terus melakukan Mi'raj kepada-Nya.[]

Thobib Al-Asyhar, dosen Psikologi Islam pada SKSG Universitas Indonesia, Plt. Karo Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama.