Rendah Minat Masyarakat Sumbar Jadi Mubalig di Daerah Lain

Padang, 23/7 (Pinmas) -  Minat masyarakat Sumbar  menjadi mubalig di daerah lain masih rendah, ditandai minimnya pengiriman tenaga agama asal daerah itu menyusul dua bulan terakhir Sumbar hanya mampu mengirim empat orang dari 80 mubalig yang diminta Pemprov Sumut. "Informasi atas kebutuhan mubalig untuk Nias, Sumatera Utara, sudah ditawarkan tapi banyak yang tidak berminat dengan alasan antara lain tidak mau meninggalkan kampung halamannya," kata Ketua Bidang Dakwah MUI Sumbar H Mas`oed  Abidin kepada ANTARA di Padang, Minggu.       

Menurut Mas`oed Abidin, minat masyarakat Sumbar menjadi mubalig di daerah lain masih rendah karena jihat mereka juga rendah, sehingga Pemrop Sumut justru  meminta tenaga mubalig dari Jawa Barat. Masyarakat Jabar sendiri, kata dia, justru mempertanyakan sebab banyak ulama Jabar belajar ke Sumbar.        "Di Sumbar banyak mubalig yang punya titel sarjana namun mereka enggan  mengabdi di rantau, dan lebih banyak yang ingin menjadi PNS padahal kesempatan menjadi PNS terbatas," katanya.      

Ia menyatakan, keberadaan mubalig di Nias dan daerah sekitarnya saat ini sangat dibutuhkan untuk memberi siraman rohani pascabencana gempa yang melanda  daerah itu  setahun terakhir. Siraman rohani, kata dia,  dibutuhkan untuk menumbuhkan kesabaran, sebab tanpa kesabaran  mustahil motivasi akan muncul.       Sedangkan  motivasi penting sebagai modal memperbaiki kondisi mental dan fisik yang runtuh akibat bencana gempa.

"Medan banyak masalah dan wajar mereka meminta provinsi tetangga terdekatnya yakni Sumbar untuk menyediakan tenaga mubalig," katanya. Ia prihatin,  karena banyak lulusan sekolah tinggi agama yang menghabiskan waktu untuk diri sendiri dan jarang yang bisa bertahan menjadi mubalig.        Terkait potensi lulusan IAIN dan sekolah tinggi Ilmu Agama lainnya di Sumbar, yang cukup luar biasa, Mas`oed mengisyaratkan saatnya pemerintah meningkatkan kualitas dan kuantitas pelatihan bagi mereka. "Lulusan IAIN dan sekolah tinggi Ilmu Agama lainnya harus menjadi `suluh bendang` (juru penerang atau penyampain pesan agama) sehingga perlu menyiapkan diri menjadi imam dan khatib," katanya.(Ant/Ims)