Relasi Kontekstual Ratoh Jaroe dan Pendidikan Agama Islam 

Setelah diberlakukannya pembelajaran tatap muka di sekolah secara bertahap, aktivitas ekstrakurikuler para pelajar juga mulai dijalankan. Jika diamati, aktivitas tersebut mulai menggeliat di berbagai penjuru tanah air. Salah satu yang menyita perhatian adalah perlombaan tarian berasal dari Aceh, Ratoh Jaroe. 

Belakangan, hampir tiap pekan perhelatan lomba Ratoh Jaroe dapat ditemui di sekolah atau madrasah di Jakarta dan sekitarnya. Di tengah berbagai kesulitan dan terbatasnya keuangan sekolah dan madrasah, para pelajar dan orang tua bahkan bersedia melakukan pembiayaan mandiri demi mengikuti kegiatan ini. Hal ini memperlihatkan bahwa Ratoh Jaroe belum mendapat perhatian signifikan dari sisi pengelolaannya.   

Fenomena ini tentu saja menarik, bukan hanya karena penerimaan siswa yang demikian masif pada Ratoh Jaroe, namun juga berupa kesempatan emas untuk meneguhkan Ratoh Jaroe sebagai bagian dari penanaman sifat luhur dan akhlak Islami di tengah kendala yang ada. 

Ratoh Jaroe bukan hanya mendorong sikap saling membantu dan presisi ketepatan gerak dalam tariannya, tapi ia juga membangun spiritualitas melalui dendang ilahiah yang disuarakan. Untuk semua itu, hebatnya, Ratoh Jaroe berkembang dan makin marak di kalangan para pelajar tingkat dasar dan menengah (SD – SMA dan sederajat), khususnya di kawasan Jabodetabek. 

Ratoh Jaroe juga menunjukkan, berkesenian adalah bagian dari upaya memupuk rasa saling memiliki antardaerah. Dalam semangat ini, Aceh terasa tidak berjarak karena begitu dekat dalam rutinitas siswa di berbagai wilayah tanah air lainnya. Silang budaya seperti ini tentu saja mampu membangun semangat kebhinekaan dan persatuan pada diri para pelajar.     

Dengan rata-rata puluhan penari dalam satu grup dan proses latihan yang dialui, Ratoh Jaroe pelan membentuk tradisi dan disiplin budayanya sendiri. Hal ini tentu sangat menarik dicermati, khususnya bagaimana memikirkan agar Ratoh Jaroe bukan hanya perihal pentas dan perlombaan saja, tapi juga mampu menjadi bagian dari internalisasi nilai - nilai Islami dan budi pekerti luhur pada siswa.       

Spiritualitas Relijius
Pada titik ini, aktivitas berkesenian Ratoh Jaroe sejalan dengan pandangan mengenai kesenian dengan muatan spiritualitas relijius (Mamannoor: 2002), yakni keyakinan bahwa terlibat dalam kesenian nernuansa relijius mampu menumbuhkan dan mentransmisikan nilai – nilai untuk bertindak positif.        

Keberadaan dan penerimaan Ratoh Jaroe, khususnya di kalangan pelajar ibu kota dan perkotaan lainnya menegaskan satu hal penting bahwa yang popular dan diterima luas oleh Generasi Millennial dan Generasi Z tidak selalu harus datang dari gemerlap panggung artis K-pop atau kepungan konsumerisme dan beragam industrialisasi budaya.   

Kesadaran tentang kehadiran ilahiah dalam bekesenian Ratoh Jaroe dalam beberapa hal mengingatkan konsep sastra profetik-nya Kuntowijoyo (Maklumat Sastra Profetik: Kaidah, Etika, dan Struktur Sastra, 2013). Dalam perspektif ini, Kuntowijoyo menggambarkan betapa sastra mampu menyampaikan tiga hal penting, yakni humanisasi, liberasi, dan transendensi. 

Ketiga hal tersebut, dalam pandangan Kuntowijoyo, pararel atau sejalan dengan semangat amar ma'ruf (menyuruh kebaikan) nahi munkar (mencegah kemungkaran), dan tu'mina billah (berimah pada Allah). Kuntowijoyo menyimpulkannya atas permenungan terhadap Al Qur'an Ali Imran:110.

Secara paradigmatik, kesadaran tersebut mendorong kepada apa yang disebutnya sebagai epistemologi strukturalisme transendental, sarana ibadah, dan keterkaitan antarkesadaran. Singkatnya, pemahamaman dan penerimaan nilai transendental (ilahiah) dapat dibangun dari kerja sastrawi yang dilandasi kesadaran ilahiah itu sendiri. Sebagaimana terjelaskan di atas, semangat dan pemahaman transendental dalam sastra profetik mudah ditemukan dalam kesenian Ratoh Jaroe par excellent. 

Spiritualitas dan praktik luhur Ratoh Jaroe mestinya mampu membangun dan sejalan dengan pengembangan Pendidikan Agama Islam di sekolah dan madrasah dalam perspektif perubahan kurikulum kini yang dikenal dengan Kurikulum Merdeka Belajar, setidaknya pada dua ranah pengembangan. 

Pertama, nilai filosofis dan spiritualitas yang dikandung Ratoh Jaroe idealnya mampu mengisi perlunya kolaborasi dan inter-relasi pemahaman beragam topik dan materi kurikulum. Saat ini, pemberlakuan Kurikulum Merdeka Belajar mendorong pelajar untuk mampu bersikap kritis dan berpikir relasional. Dalam pemahaman ini, Ratoh Jaroe seyogianya bukan hanya dimaknai sebagai aktivitas keterampilan menari dan kekompakan tim saja. 

Lantunan dan seruan para pelajar putri dan Syahie (penabuh rebana dan pengatur ritme tarian) yang menyebut asma Allah, perlunya sikap mulia, dan ketangguhan perempuan dalam gerak ritmis dan bertenaganya, menjadikan Ratoh Jaroe sebagai padanan yang serasi antara gerak dinamis secara fisik dan laku spiritual.    

Dengan beban untuk berlatih gerakan yang membutuhkan ketahanan dan kekuatan fisik, Ratoh Jaroe juga memerlukan kekuatan fisik dan displin menjaga kebugaran para pelajar. Artinya, jenis tarian ini dan aktivitas serupa dapat mendorong para pelajar untuk berkegiatan positif sekaligus meningkatkan kualitas fisik yang pada akhirnya mampu mendukung aktivitas pembelajaran karena kesehatan yang terjaga. 

Kedua, meski berupa kegiatan ekstrakurikuler, Ratoh Jaroe harusnya mampu dikembangkan lebih jauh dari level kurikuler tambahan. Profil Projek Pelajar Pancasila, sebagai bagian dari Kurikulum Merdeka yang tengah digalakkan pada berbagai jenjang pendidikan, dapat didorong untuk menjadi alat analisis dan sikap dasar pelajar dalam memahami dan mengamalkan nilai luhur di balik Ratoh Jaroe dan tarian serupa lainnya. 

Dalam konteks ini, para pelajar dapat didorong untuk memahami lebih jauh mengenai filosofi tarian Ratoh Jaroe dan khazanah seni budaya lokal lainnya yang mampu memperkuat pemahaman nilai Pendidikan Agama Islam. Diharapkan, pendekatan kreatif yang berangkat dari semangat untuk menemukan nilai luhur dari kearifan dan budaya lokal ini mampu memperkuat keyakinan diri berwawasan dan berbudaya lokal tanpa harus tertinggal dari perkembangan sosial budaya yang ada. 

Nusantara menyediakan khazanah tarian yang beragam. Dalam kaitan ini, makna dan pesan penting Ratoh Jaroe senada dengan beberapa tarian serupa, misalnya Seudati (Aceh), Zapin (Riau), Rudat (Lombok), dan kesenian tari lainnya. Mendekatkan pelajar pada khazanah tarian nusantara dan mendorong mereka untuk memahami dan mengamalkan nilai mulia di balik tarian tersebut pada akhirnya mau tidak mau menjadi perhatian bersama. 

Para pelajar tersebut tidak bisa dibiarkan sendiri dalam memahami pesan dasar di balik Ratoh jaroe dan kesenian serupa. Mereka perlu dibantu untuk tetap menjalankan dan menikmati ekstrakurikuler Ratoh Jaroe, di samping mampu menemukan nilai dan makna positif di balik tarian tersebut.           

Ratoh Jaroe sudah membuktikan diri mampu mengembangkan kompatibilitas di tengah tren dan gempuran budaya asing. Kita tahu, teknologi informasi dan diplomasi budaya telah memudahkan sebaran budaya yang mewarnai setiap aspek kehidupan. Oleh karenanya, diperlukan langkah bersama untuk menjaga, menguatkan, dan memfasilitasi kegiatan positif ini.   

Daya tahan, bahkan gerak dinamis dan penerimaan Ratoh Jaroe di kalangan pelajar eloknya mendorong semua pihak untuk bersegera mengelolanya sebagai bagian penting dari pendalaman dan kompetensi Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti secara umum.   

Saiful Maarif (Asesor SDM Aparatur Direktorat PAI - Kemenag)


REKOMENDASI