Puja Namaskara 

Te tādise pūjayato, Nibbute akutobhaye; Na sakkā puññam sakhātum, Imettamapi kenaci. Ia yang menghormati orang-orang suci yang telah menemukan kedamaian dan telah bebas dari ketakutan, maka jasa perbuatannya tak dapat diukur dengan ukuran apapun. (Dhammapada, Syair:196)

Puja menjadi aktivitas keagamaan rutin dikalangan umat Buddha. Puja memiliki arti menghormat terhadap obyek tertentu. Laku puja ini sudah dilakukan oleh para siswa Buddha sejak masa kehidupan Buddha hingga saat ini. Laku puja sudah menjadi budaya dan biasanya dipraktikkan dimanapun dan kapanpun oleh umat Buddha ketika bertemu dengan sesama umat Buddha, saat di vihara, candi, dan obyek pemujaan lainnya.

Pada masa Buddha Gotama, puja dilakukan oleh para Bhikkhu sebagai bentuk penghormatan kepada Buddha yang dikenal dengan Vatha. Vattha berarti merawat guru Buddha, yang dilakukan dengan membersihkan ruangan, mengisi air, dan lain- lain. Setelah itu para Bhikkhu duduk dan mendengarkan khotbah dari Buddha Gotama. Kebiasaan yang dilakukan oleh Bhikkhu tersebut kini menjadi sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh umat Buddha pada masa sekarang. Meneladan dari laku luhur itu, umat Buddha pada masa sekarang biasanya melakukan puja dengan membersihkan altar Buddha, menyiapkan persembahan di altar Buddha, mengulang kembali ajaran Buddha, atau bernamaskara. 

Satu hal penting yang perlu dipahami oleh umat Buddha dalam melaksanakan laku puja adalah Namaskara. Namaskara merupakan bentuk puja/menghormat dengan cara bersujud yang disertai dengan beranjali. Namaskara memang tidak bisa dilakukan di sembarang tempat dan kepada sembarang orang. Namaskara dilakukan pada tempat, obyek, dan orang yang tepat. Aktivitas namaskara yang dilakukan oleh umat Buddha dapat ditemui ketika umat Buddha berada di Vihara, di depan altar Buddha, Candi, Stupa, maupun bertemu dengan Bhikkhu. Penghormatan dengan namaskara juga biasa dilakukan umat Buddha kepada kedua orang tuanya pada saat momen-momen tertentu seperti hari waisak maupun hari-hari penting lainnya.  

Dalam manggala sutta, guru agung Buddha Gotama menjelaskan “Puja ca Pujani¬yanam, etam manggalamut¬ta¬mam” yang berarti menghormati yang patut dihormati merupakan berkah utama. Pertanyaannya adalah siapa yang dimaksud dengan orang yang patut dihormati dalam agama Buddha? Buddha, para Bhikkhu/Bhiksu, orang suci, dan orang tua adalah orang yang paling layak mendapatkan penghormatan. 

Melakukan puja dengan namaskara harus dibarengi dengan kesadaran, ketulusan, kebijaksanaan, dan dengan pengertian yang benar. Memberikan penghormatan yang demikian akan memberikan manfaat berupa umur panjang (ayu) paras bagus (vanno), kebahagiaan (sukham), dan kekuatan (balam). Manfaat lain yang diperoleh dari mereka yang melakukan namaskara dengan benar adalah akan menurunkan keakuan/ego dan kesombongan di dalam diri sehingga menjadi orang yang rendah hati.

Melaksanakan Puja namaskara memang memberikan manfaat yang cukup besar bagi manusia baik pada kehidupan ini maupun kehidupan yang akan datang. Akan tetapi, guru agung Buddha Gotama memberikan nasihat dan petunjuk bahwa ada penghormatan yang tertinggi yaitu dengan mempraktikkan Dhamma. Melalui praktik Dhamma dengan benar akan dapat menuntun umat manusia menuju pencerahan sejati.

Mari kita senantiasa mempraktikkan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang selalu mempraktikkan laku puja. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.


TERKAIT

Pradakshina

Yadnya

Bijak dalam Memilih

Uposatha