Prof. Azyumardi Azra, Transtelektual Penembus Batas

Setelah Prof. Nurcholish Madjid, mungkin nama Prof. Azyumardi Azra yang paling sering muncul dan mewarnai jagat intelektualisme Islam di Indonesia. Ketokohoan akademiknya sangat paripurna, mulai dari jelajah keilmuan, kiprah pada institusi keilmuan, sampai pada sebaran goresan keilmuan yang setiap saat bisa diakses. 

Bahkan beliau berpulang saat menuju sebuah kancah yang disebut sebagai konferensi, arena pengabdian yang layak disebut "tiada tara". Detak nafasnya berhenti pada "passion" kehidupannya, justifikasi fakta yang susah untuk tertolak. 

Beliau guru bagi banyak orang, khususnya bagi mereka yang ingin merintis intelektualitas Islam di negeri ini. Mereka ingin menjadi murid bagi semuanya. Motifnya sederhana, ingin mendapat pengesahan tentang keilmuan yang digeluti. Lebih dari itu, anak-anak intelektualnya ingin disebut dekat dengannya, karena cara itulah yang menjadi pemotivasi untuk memacu penguasaan bidang keilmuannya. 

Saya pun berharap seperti itu, meskipun tidak sesukses dengan yang lain. Saya sudah diajar oleh beliau sejak memulai usaha untuk belajar ke luar negeri melalui program karantina yang disebut "pembibitan dosen". Buku-bukunya, kolomnya  di media cetak menjadi bacaan utama. Tapi saya sangat tahu bahwa jarak intelektualitas itu terjadi karena saya kurang akseleratif dalam memacu keilmuan, dan sering kehilangan fokus dalam mengembangkan spesifikasi. Mungkin itulah yang membuat nama saya muncul tenggelam di benak beliau. 

Setidakpentingnya sebagai murid intelektual, saya masih tetap mendapat apresiasi dari beliau khususnya beberapa tahun terakhir. Setiap mengirim coretan pendek tentang fenomena sosial keagamaan di sebuah group WA di mana beliau mejadi anggota group, saya selalu mengecek apakah beliau sudah membacanya. 

Bahkan saya menjadi "gede' rasa" saat coretan seri saya di setiap subuh Ramadan, secara konsisten dibukanya paling dahulu. Saya tidak tahu apa beliau membacanya atau sekadar membuka WA di group itu, tapi itu tidaklah begitu penting. Yang penting, saya juga menemukan justifikasi tentang jalan menuju kepedulian intelektual dari "suhu" dan "sumbu" keilmuan negeri ini. 

Satu yang paling membekas saat saya sempat berbicara di sebuah "seminar online" di mana beliau sebagai narasumber. Saya memperhadapkan sebuah paradigma keilmuan perguruan tinggi keagamaan yang saya sebuat sebagai "kereta keilmuan". Lalu saya menyodorkan sebuah istilah "transtektual" sebagai stasiun dari kereta keilmuan tersebut. Saya mengurai bahwa tidak cukup hanya menjadi intelektual pada kehidupan yang penuh anomali. 

Kita butuh menjadi transtelektual, intelektul organik yang tidak ada matinya, intelektual yang tidak akan tertinggal di ruang kosong. Intelektual yang menguasai bidangnya, mempengaruhi pertumbuhan dan perdebatan bidang lain. Transtelektual terbentuk dari gerbong-gerbong kereta yang saling tersambung itu, mulai dari lokomotif institusi, gerbong Islam, gerbong Sains dan gerbong Teknologi. Gerbong tersebut tersambung dengan inter, multi, dan transdisipliner. 

Beliau merespon secara apik, mengapresiasi istilah yang saya sodorkan, sambil menyampaikan kritik mengena dari tawaran paradigma itu. Beliau menyampaikan kereta itu jalannya lambat, seharusnya diganti dengan istilah kereta cepat (shinkansen), karena larinya cepat untuk sampai pada stasiun transtelektual. 

Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa  Prof. Azra adalah sosok Transtelektual sejati. Beliau perintis kajian transmisi jaringan dengan menulis disertasi transmisi jaringan ulama yang banyak diikuti oleh pengkaji jaringan berikutnya. Beliau secara terstruktur membangun dan menguatkan jaringan keilmuan perguruan tinggi keagamaan dan memperkuat jati diri kesarjanaan dengan mendirikan jurnal Studia Islamika. 

Tak berhenti disitu, kesarjanaan beliau menembus sampai pada ruang aktualisasi yang lebih luas. Sebaran gagasannya setiap saat muncul bukan hanya pada ruang ilmiah yang besifat spesifik tetapi sampai pada ruang populer seperti layar kaca. Ciri penyampaian idenya dingin dan datar, tetapi kritis dan penuh makna. Seiring dengan usia yang makin lanjut, keberadaannya semakin berlanjut. Eksistensinya semakin terasa. Semangat keilmuannya tidak pernah redup, dan jiwa kewartawanannya tidak pernah surut. Dua sisi yang memperkuat identitasnya sebagai akademisi aktivis. 

Pergumulan gagasannya  bahkan semakin jauh melintasi dirinya sebagai wujud  yang mulai rapuh. Puncaknya menjadi ketua Dewan Pers Indonesia, dunia yang selama ini menjadi pernak penting dari jiwa kritisismenya, dan menjadi pelengkap utama dari isting instelektualitasnya. Beliau berpulang saat bertolak ke sebuah sentrum pergumulan media dan keilmuan. Wujudnya mati, tapi dua hal ini tetap menjadi sisi yang tidak pernah mati dari dirinya, karena kontribusi kehidupannya sudah begitu jauh melintasi sekat dunia, dan tak berbatas. Selamat jalan guru bangsa, guru peradaban, dan guru bagi para mahaguru.

Hamdan Juhannis (Rektor UIN Alauddin)


REKOMENDASI