Omzet Pedagang Martabak Ini Naik 4 Kali Lipat Berkat Bantuan KUA

Banjarmasin Timur (Kemenag) --- Pandemi Covid-19 memberikan dampak memilukan bagi sebagian besar masyarakat. Sebagian merasakan kehilangan orang-orang yang dicintai, sebagian lainnya terpaksa mengalami keterpurukan ekonomi. 

Hal ini pula yang dirasakan Nurlela Hasanah, pedagang martabak terang bulan di Pasar Kuripan, Banjarmasin Timur,  Kalimantan Selatan. Sejak Pandemi Covid-19 menyerang, penjualan penganan berbahan dasar terigu disertai isian kacang, cokelat, dan keju ini mengalami penurunan yang signifikan. Pasar sepi. Pendapatan pun lebih sering nihil. Tak jarang Nurlela pulang dengan tangan hampa. 

Padahal, sebelum pandemi saja pendapatan Nurlela dan suami tidak bisa dibilang berlebih. Selama empat jam berjualan di pasar, mulai pukul 07:00 - 11:00 WITA, ia hanya memperoleh keuntungan sebesar 50 ribu rupiah. 

“Dulu saya hanya menerima keuntungan 50 ribu rupiah per harinya, karena sebentarnya waktu berjualan,” kisah Nurlela, Senin (20/12/2021). 

Secercah harapan mulai dirasakan Nurlela dan suami kala Kementerian Agama (Kemenag) meluncurkan program KUA Percontohan Ekonomi Umat. 

“Alhamdulillah, bantuan Kementerian Agama melalui program KUA Percontohan Ekonomi Umat datang memberikan semangat,” ujarnya. 

Program yang digawangi  oleh Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf ditujukan untuk 110 keluarga binaan pada 11 KUA Percontohan Ekonomi Umat di Indonesia. Masing-masing keluarga pemilik usaha kecil dan terpilih oleh KUA, diberikan bantuan usaha senilai 10 juta rupiah. Nurlela salah satunya.  

Ia merupakan salah satu keluarga binaan di KUA Banjarmasin. Nurlela mengatakan, bantuan itu kemudian dipergunakan untuk mengembangkan usahanya. Selain membuat gerobak untuk kue gerobak terang bulan agar dapat menjajakan dagangan di luar pasar, ia juga mulai membuka usaha penjualan perlengkapan ibadah. 

“Bantuan digunakan untuk pembelian perlengkapan usaha penjualan alat-alat ibadah seperti sajadah, peci, baju koko, dan pembuatan gerobak untuk jual terang bulan di luar pasar,” tuturnya. 

Nurlela mengatakan, sejak membeli gerobak, penjualan kue terang bulan mengalami kenaikan sampai 4x lipat. Jika sebelumnya Nurlela hanya memperoleh keuntungan  50 ribu rupiah per hari, sekarang ia bisa mengantongi  laba hingga  200 ribu rupiah per hari. Belum ditambah hasil penjualan perlengkapan ibadah sebesar 500 ribu rupiah per bulannya. 

“Alhamdulillah atas nikmat yang saya terima. Semoga usaha saya menjadi berkah dan bisa membantu masyarakat,” tutur Nurlela. 

Di tempat berbeda, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Tarmizi sangat optimis KUA bisa menjadi sentra pemberdayaan ekonomi umat. Alasannya, kata dia, posisi KUA sangat strategis. “Letak KUA itu sangat strategis sebab KUA berada di tengah masyarakat. KUA tahu betul di mana kantong-kantong dhuafa dan siapa yang punya potensi muzaki,” ujarnya. 

Ia berharap, bantuan afirmasi yang diberikan oleh Kemenag ini dapat mendorong pertumbuhan  ekonomi umat. Adapun 11 KUA percontohan ekonomi umat tersebut yaitu KUA Matangkuli, Aceh Utara; KUA Gunung Toar, Riau; KUA Sematang Boang, Sumatera Selatan; KUA Gunung Sugih, Lampung; KUA Duren Sawit, Jakarta; KUA Ciawigebang, Jawa Barat; KUA Sidoarjo, Jawa Timur; KUA Banjarnegara, Jawa Tengah, KUA Sewon, Yogyakarta; KUA Banjarmasin, Kalimantan Selatan; dan KUA Biringkanaya, Sulawesi Selatan. 

(Tommy)