NU Bahas Infotainment, Face Off, Hingga Islam Rahmatan Lil Alamin

Surabaya, 26/7 (Pinmas) - Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konperensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di Surabaya pada 28-30 Juli akan membahas sejumlah masalah agama dan politik kebangsaan, diantaranya hukum tayangan infotainment, operasi face off, kuis SMS berhadiah, hingga Islam Rahmatan Lil Alamin. "Munas Alim Ulama memang akan membahas masalah-masalah agama, termasuk masalah agama yang aktual, sedangkan Konbes NU akan membahas materi keorganisasian dan rekomendasi seperti larangan rangkap jabatan dan Islam Rahmatan Lil Alamin," ujar Ketua Panitia Nasional Munas Alim Ulama dan Konbes NU, Prof Dr KH Said Agil Siradj MA, di Surabaya, Rabu.   

Menurut dia, masalah agama yang ada sebenarnya sudah dibahas, namun akan diplenokan dalam Munas Alim Ulama itu, diantaranya tayangan infotainment yang memiliki rating tinggi itu diharamkan karena menjelek-jelekkan orang, kuis SMS berhadiah diharamkan karena ada unsur judi, tapi operasi face off diperbolehkan, apalagi untuk kebahagiaan berumah tangga.     "Munas Alim Ulama juga membahas perempuan yang kehilangan suami, maka masa tunggu-nya sampai berapa tahun, apakah satu atau empat tahun, seperti ditinggal suami yang terkena tsunami atau ditinggal isteri yang menjadi TKW tanpa berita, kemudian jika akhirnya menikah lagi dan tiba-tiba orang yang ditunggu datang, maka harus bagaimana," ungkapnya.   

Ketua PBNU itu menyatakan Munas Alim Ulama juga akan membahas globalisasi, liberalisme, pluralisme, dan Islam ala NU yang Rahmatan Lil Alamin. "Islam Rahmatan Lil Alamin itu moderat, toleran, dan imbang atau adil, karena itu NU sejak dulu akan membela keutuhan NKRI dan mengawal Dasar Negara Pancasila," paparnya.    Hal itu bukan basa-basi atau merupakan strategi, melainkan prinsip NU yang diperjuangkan untuk mengayomi kemajemukan masyarakat Indonesia. "Tapi, kami juga merekomendasikan persoalan internasional yakni mengutuk agresi Israel dan mendesak PBB mengirimkan pasukan perdamaian ke Lebanon," tegasnya.   

Ia menambahkan bahwa Munas Alim Ulama dan Konbes NU yang akan dibuka Wapres H Jusuf Kalla pada 28 Juli itu justru akan mengihtiarkan "ukhuwah nahdliyyah" (persaudaraan sesama NU) melalui Silaturrahmi Ulama pada 27 Juli yang akan dihadiri ulama dan politisi NU dari PKB, PPP, Partai Golkar, PKS, dan sebagainya.     "NU tidak akan mengurusi perbedaan yang ada, karena politik praktis itu merupakan perbedaan kepentingan, sehingga konflik akan selalu menyertai. Namun NU akan berkepentingan mempertemukan mereka agar mereka tetap dapat dipertemukan di dalam NU," katanya, didampingi Wakil Rois Syuriah PBNU KH Masyhuri Naim.   

Informasi yang diperoleh ANTARA menyebutkan sejumlah ulama dan tokoh NU seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Abdullah Faqih (ulama sepuh), dan ketua PKB dari dua versi yakni Drs H Choirul Anam (Cak Anam) dan Muhaimin Iskandar MSi akan hadir dalam Silaturrahmi Ulama pada 27 Juli dan pembukaan Munas Alim Ulama dan Konbes NU pada 28 Juli.    Munas dan Konbes NU juga akan mengundang pembicara dari luar, antara lain Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto (28/7), Menag (28/7), Mendiknas (28/7), Mentan (29/7), dan Menkes (29/7), sedangkan Menko Kesra Ir H Aburizal Bakrie dijadwalkan menutup Munas dan Konbes NU pada 30 Juli malam hari.(Ant/Ims)