No Dollar, Sir..!

Mekkah, 28/11 (Pinmas) - Jeddah adalah salah satu kota yang pergerakan ekonominya cukup pesat di Arab Saudi. Di kota ini, penduduknya dari berbagai suku bangsa dan bahasa. Ada yang berasal dari negara-negara sekitar Timur-Tengah lainnya, Afrika, dan Asia. Masyarakatnya pun cukup dinamis, meski ciri khas negara muslim masih sangat kental dalam kehidupan sehari-harinya. Setiap aktivitas seakan berhenti sesaat tatkala panggilan Adzan berkumandang. Seperti di negara-negara lainnya, masalah sosial tetap saja ada, termasuk di Jeddah. Contohnya adalah para pengemis. Menurut pedagang di sebuah pusat pertokoan, mereka semakin aktif ketika musim haji tiba.

Soalnya, saat itu, kota ini mulai dipadati oleh pendatang dari berbagai negara. Pengemis ini pun berasal dari beragam bangsa. Mereka ada yang fasih berbahasa Arab, Inggris, dan bahasa lainnya tempat mereka berasal. Mereka kerap mendatangi para pengunjung untuk meminta sedekah, dengan berbagai alasan, yang paling umum adalah demi sesuap nasi. Tempat `mangkal` para pengemis itu tentunya adalah lokasi yang banyak pengunjung. Sebisa mungkin, pengunjung yang justru tengah membelanjakan uangnya untuk membeli berbagai barang.

Hanya, mereka lebih banyak memilih tempat-tempat seperti di dekat kios makanan dan tempat penjualan minuman. Kerap juga mereka langsung mendatangi pengunjung sambil menengadahkan tangannya. Seperti yang terlihat di salah satu pusat perbelanjaan di Corniche commercial center di Balad, Jeddah, Arab Saudi, para pengemis banyak terdapat di pelataran pusat jajanan di halaman gedung pertokoan. Mereka duduk-duduk di trotoar dan ada pula yang hilir-mudik. Mereka banyak yang berkulit hitam. Dialek mereka berbicara ketika meminta-minta lebih mirip beraksen India. Ada pula yang lebih mirip raut wajahnya dengan etnis dari Afrika. ``Haji..,`` sapa seseorang ketika dia mendekat ke salah seorang pengunjung yang tengah memesan roti isi daging. Yang disapa pun menoleh.

Dia pun langsung menengadahkan telapak tangannya dan berkata-kata dalam bisikan. Memang, kata-katanya tak dapat dimengerti, namun secara umum dipahami kalau ibu yang tampak berusia lanjut itu memohon sedekah. Tak berapa lama, orang yang disapanya itu pun mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan uang satu lembar senilai satu riyal. Si ibu itu pun kemudian pergi. Di dekat trotoar tadi, ada satu peminta-minta yang menghampiri tiga pengunjung pria asal Indonesia yang tengah makan bakso di salah satu pojokan . Laki-laki itu berkulit hitam yang menampakkan dia berasal dari benua Afrika. Dia pun langsung menghampiri salah seorang dari para pengunjung itu dan mulai menengadahkan tangannya ke hadapan orang tersebut. Saat itu pula, sang pengunjung pun mengeluarkan dompetnya. Uang satu lembar berwarna hijau kusam pun keluar dari dompet. Pengemis itu pun menerimanya. Bukannya langsung pergi, pengemis itu tetap diam mematung di hadapan pemberi sedekah itu. Dia malah menerawangi uang tersebut sambil mengerutkan keningnya. Sedetik kemudian, dia pun mengembalikan uangnya ke si pemberi sambil mengibas-ibaskan tangannya tanda menolak uang pemberian itu. Si pemberi pun heran. ``No Dollar, Sir,`` katanya.

Pemberinya baru sadar kalau uang itu adalah satu dolar Amerika Serikat. Uang dolar itu pun dimasukkan kembali ke dalam dompet dan pria itu pun menukarnya dengan uang berwarna coklat kusam senilai satu riyal. Diberikannya uang itu. Rupanya, pengemis itu pun tak mau pergi juga. Tindak-tanduknya yang tadi pun diulangi lagi. Uang satu riyal itu diterawanginya juga. ``Riyal-riyal,`` katanya sambil kembali mengibaskan tangannya. Dia mengerucutkan jemarinya dan menggerak-gerakannya ke arah mulut sebagai pertanda butuh makan. Si pemberi pun paham kalau pengemis itu minta ditambah uangnya beberapa riyal. Hanya, usaha pengemis itu untuk meminta tambahan dihalangi oleh pelayan kios bakso itu. Pengemis itu pun diusirnya pergi. Meski tak puas, uang satu riyal pun masuk ke kantong pengemis itu dan dia pun berlalu. (Dewi/MCH Mekkah)