Niat Baik Belum Tentu Langsung Dibalas Baik

Kalau kita pernah membaca kumpulan cerita inspiratif yang ditulis oleh KH. Arman Arroizy dalam buku 30 kisah teladan, kita akan menemukan sebuah tulisan yang menarik. Cerita yang mungkin dinarasikan dari kisah nyata yang terjadi pada tradisi dunia pesantren. 

Salah satunya berkenaan dengan tradisi sowan. Di pondok pesantren, sowan kyai adalah salah satu tradisi yang kental yang memiliki banyak makna. Sowan kepada kepada kyai dilakukan oleh para santri,  wali santri, para pejabat dan masyarakat pada umumnya. Sebagaimana kita ketahui bersama, masyarakat kita adalah masyarakat yang religius. Semua persoalan kehdupan selalu didasarkan pada nilai-nilai keagamaan. Oleh karena itu, kyai selalu menjadi rujukan semua orang untuk mendapatkan arahan, petunjuk, dan nasehat-nasehat keagamaan.

Dalam buku cerita 30 Kisah Teladan tersebut diceritakan bahwa hari itu, sejak pagi di rumah kyai sudah berbondong-bondong tamu dengan pelbagai  latar belakang dan beragam keperluan yang ingin sowan.  Sambil menunggu kyai keluar menemui mereka, satu persatu tamu memasuki ruangan utama yang telah disediakan. Begitu kyai keluar, tamu-tamu berebut mencium tangan, meski tentu saja pak kyai tidak meminta dicium tangannya. Sebagai bentuk penghormatan, memang sudah biasa para santri, orangtua santri dan masyarakat yang sowan ke kyai selalu berjabat tangan dan mencium tangannya. Ini semata-mata wujud penghormatan bukan mengkultuskan sebagaimana yang sering dituduhkan oleh orang-orang yang tidak paham kultur pesantren dan selalu melihat sesuatu dari sisi negatifnya.

Ketika pak kyai sedang asyik berbincang-bincang dengan para tamu, dari kejauhan terlihat sosok perempuan putih, cantik, datang bersama seorang laki-laki. Mungkin laki-laki itu suami atau saudaranya. Keduanya hadir untuk meminta nasihat, doa, petuah dari kyai, sebagaimana para tamu lainnya. Tiba-tiba, perempuan itu kentut dengan suara keras di tengah banyak orang. Mungkin dia lagi sakit perut, menahan sakit atau karena sebab sebagainya sehingga peristiwa ini terjadi. Tetapi yang jelas ini di luar kebiasaan. Kita tentu juga tidak menyalahkan meski ini di luar kebiasaan.

Peristiwa yang tidak biasa ini langsung membuat suasana hening. Ibu cantik, putih dan murah senyum itu tiba-tiba mukanya merah, pucat pasi, mungkin merasa malu dengan pak kyai dan para tamu yang ada. Dengan wajah menunduk terbata-bata menyampaikan hajat dan maksud kedatangannya sowan ke kyai. 

Pak kyai dengan arif, santun, dan sabar tidak langsung seketika merespon ungkapan tamu perempuan yang sedang gundah hatinya karena sambil menahan rasa malu di dapan tamu-tamu lainnya. Akhirnya kyai bersikap yang aneh dan tidak sebenarnya. Di depan tamu perempuan yang sedang terhimpit dan menahan rasa malu, kyai akhirnya berpura-pura seperti orang tuli, melongok dan seolah-olah tidak mendengarkan suara apapun. 

Sontak wajah perempuan itu kembali ceria, segar, dan tersenyum karena menduga kyai adalah seorang yang tuli. Dia yakin peristiwa tadi tidak terdengar oleh kyai. Padahal kita ketahui semua, kyai hanya pura-pura tuli untuk menutupi aib atau rasa malu dari tamunya yang harus dihargai dan dimulyakan. Dengan suara lirih perempuan itu bergumam, “Alhamdulillah ternyata kyainya tuli. Apa yang terjadi pada diri saya tadi beliau tidak mendengar”. 

Tidak sebatas bergumam seperti itu di depan kyai, ternyata setelah keluar dari rumah kyai, perempuan ini bercerita di mana-mana dengan mengatakan bahwa ternyata Kyai Itu Orangnya Tuli. Akhirnya kabar dan berita yang disampaikan perempuan tersebar kemana-mana. Tentu setiap berita dan informasi yang tersebar di masyarakat seperti ini ada yang mempercayai dan ada pula yang sangat teliti dan cermat mencernanya. Bagi kyai tentu ini tidak masalah karena semua ini dilakukan dengan niat baik untuk kebaikan orang lain, meskipun yang bersangkutan membalas sebaliknya. Dan menjadi pembelajaran yang menarik, ternyata Semua Niat Baik Belum Tentu di Balas Baik, kadang-kadang ada yang tertunda dan terasa pahit untuk sementara.

Demikian juga yang dialami Gus Yaqut Menteri Agama RI saat ini, niat baik beliau yang ingin menciptakan kehidupan umat beragama yang rukun, toleran, dan harmoni dengan memberikan contoh bervariasi yang jelas, justru disimpulkan dengan gegabah dan dibalas dengan tudingan-tudingan kebencian, caci maki, dan respon yang selayaknya tidak terjadi jika mereka yang melakukan ini menyimak dengan hati-hati, cermat dan tentu tidak ada rasa kebencian dalam hati. Dan kita yakin mereka yang lantang dengan keras membuat ejekan dan hinaan terhadap Gus Menteri, mereka akan berubah setelah menyaksikan tayangan video Gus Menteri secara utuh terkait masalah ini. Yang terpenting bersihkan hati dulu dari rasa kebencian dan silakan minta klarifikasi bila butuh penjelasan. Kalau seseorang menggunakan kaca mata hitam pasti yang terlihat gelap dan hitam. Pastikan niat dan cara pandang sebelum memberi pernyataan dan membuat kesimpulan.

Dengan diberikannya klarifikasi dan pelbagai penjelasan, mudah-mudahan mereka yang  sudah terlanjur menebarkan kebencian dengan tuduhan-tuduhan yang tidak semestinya kepada Gus Menteri akan menyadari kesalahannya dan kembali bersama-sama untuk  membangun kebersamaan dengan terus menjaga toleransi, kerukunan dan harmoni.  Kita semua yakin, kebaikan tidak pernah hilang dan pada saatnya pasti akan terlihat terang benderang.

Imam Safe’i (Kapusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan, Kemenag)