New Covid Delta, Perang Mental, dan Refleksi Saat Isoman

Saat ditelepon oleh kolega, bahwa sebaiknya saya melakukan tes antigen karena ada yang dinyatakan positif di kantor, hati ini langsung berkecamuk, antara tes atau tidak.  Tracing seperti ini sebenarnya bukanlah yang pertama, karena saya sudah beberapa harus swab, baik antigen maupun PCR, karena ada sejawat yang terkonfirmasi positif. Pun, swab karena kebutuhan persyaratan melakukan perjalanan dinas. Semua hasilnya negatif.

Namun, untuk tracing kali ini, jujur mental saya agak down seiring adanya varian baru Covid-19 yang disinyalir sangat cepat penularannya. Bahkan, ada kolega yang sudah vaksin dua kali juga terpapar.

Setelah berdiskusi dengan istri, disepakati untuk swab antigen. Saat itu saya merasa tidak ada gejala, dan alhamdulilah hasilnya negatif. Namun tiga hari pasca tes ini, saya mengalami demam tinggi dan tidak enak badan (nggreges). Sempat turun setelah minum obat, namun demam lagi dengan kondisi lebih parah. Sebab, demam itu disertai tulang-tulang yang berasa remuk, mulut pahit dan tidak nafsu makan. Akhirnya saya menghubungi dokter dari NU Care untuk kembali melakukan Swab Antigen. Hasilnya, saya dinyatakan positif berdasarkan swab, alhamdulilah istri negatif. 

Saya juga melakukan Swab PCR dan hasilnya terkonformasi positif dengan CT Value 19 - 20. Sejak itu, saya menjalani Isoman di rumah.

Dinamika Isoman

Mempunyai anak kecil menjadi tantangan tersendiri saat menjalani isoman. Apalagi, anak saya yang terkecil (Hannan), selama PPKM ininl cenderung lebih lengket. Maklum, tiap hari bisa bersama ayahnya. Sementara, dia juga belum memahami pentingnya protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19, maunya tetap mendekat ayahnya yang sedang isoman di kamar. 

Sering sekali, pintu kamar diketuk. Tidak jarang disertai tangisan dan rengekan Hannan minta digendong ayahnya. Ibunya berusaha menenangkan, meski mungkin dipahami Hanan sebagai menghalangi dirinya mendekati Abahnya. 

Hari terus berlalu. Saya terus berupaya menerapkan protokol kesehatan secara ketat selama isoman. Ada pembagian kamar mandi dan tempat makan untuk sementara waktu. Demikian juga dalam proses mencuci pakaian, dipisahkan.

Salah satu tantangan besar Isoman adalah kenyataan bahwa saya berada di rumah, tapi tidak bisa berinteraksi dekat dengan anggota keluarga. Bersyukur, dengan di rumah, saya masih dapat mendengar dan melihat aktifitas mereka di rumah.

Pentingnya Dukungan

Saat kali pertama mengumumkan positif Covid-19, ada beberapa hal yang saya rasakan berat. Padahal, saya biasa memberikan motivasi orang agar lebih optimistik dalam hidup ini, utamanya dalam dunia pendidikan. Namun, saat divonis positif Covid, saya merasa diserang secara mental, ada semacam negative self talk untuk “melemahkan diri” saya. Misalnya, saya merasa akan sulit sembuh, bahkan kemungkinan meninggal dunia karena varian baru Covid ini, dan lain sebagainya.

Saya bersyukur bisa bangkit dari kondisi ini dan meningkatkan self confidence dengan memanfaatkan doa dan dukungan para sahabat, baik yang disampaikan langsung melalui telepon atau pesan WA, maupun melalui media sosial lainnya.

Lebih dari itu, tanpa diduga, kepedulian para sahabat terus mengalir  Ada yang mengirim madu, herbal, ramuan minuman tradisional, kelapa hijau, makanan favorit, hingga buah-buahan. Bahkan, ada juga yang mengirim tim dokter ke rumah (medical visit) untuk memberi semangat. Saat itu, saya mendapat injeksi vitamin C dosis tinggi, ditambah magnesium plus, serta infus Zinc, Selenium, dan  L-Carnitine.

Kedatangan dua dokter ini sangat tepat, karena saat itu kondisi saya sedang lemah dan sempat muntah-muntah. Saya juga diberi obat agar bisa lebih nyaman tidur. 

Berkah silaturahmi dan doa, saya merasa banyak mendapat dukungan. God will help those, who help themselves. Alhamdulillah, tumbuh optimisme dan itu menjadi salah satu kunci utama proses penyembuhan. Saya pun terus berupaya menghindarkan diri dari hal negatif yang dapat menurunkan mental.

Selama isoman, ada salah satu moment dzikir, doa dan muhassabah yang menyentuh hati. Saya bermuhassabah akan banyaknya dosa yang diperbuat, sembari membaca laa ilaaha illa anta subhaanak innii kuntu minaz-zhaalimiin. Setiap saya membaca, menetes air mata diiring permohonan ampunan kepada-Nya.  Ini menjadi salah satu pengalaman dan kenikmatan spiritual saat isoman. 

Saya merasa, penyakit ini sebagai surat cinta Allah Swt agar bisa lebih mendekat kepada-Nya.

Rasionalitas dan Spiritualitas

Positif Covid-19 menjadi momentum saya untuk melalukan refleksi spiritual, menggali hikmah yang harus terus bisa diingat diterapkan dalam kehidupan mendatang. Kita tentu berharap, pandemi Covid-19 ini segera berlalu. Sudah banyak anak manusia yang terpapar, bahkan meninggal. Selain itu, keterbelahan sikap dan pandangan juga sangat menguras energi. Tidak sedikit yang sampai jatuh kepada cara beragama yang emosional.

Pada masa pandemi Covid seperti ini, penting bagi kita untuk juga mendengar penjelasan para pakar dan ahli, utamanya di bidang  pandemi. Juga penting mengedepankan “rasa empati” terhadap tenaga medis, atau mereka yang keluarganya jadi korban virus ini. Salah satu caranya, disiplin 5M, terapkan protokol kesehatan, dan terus berdoa.

Dualisme Sikap

Agama mengajarkan kita bahwa menghindarkan diri dari kerusakan (kemafsadatan) itu diutamakan dari upaya mendapatkan kemaslahatan  (dar’ul mafaasid muqqaddamun 'alaa jalbil mashaalih). Dalam konteks pandemi, menjauhi kerumunan sangat dianjurkan untuk memutus rantai penularan. Beribadah di rumah juga di anjurkan. Meski tokoh agama, MUI, dan pemerintah sudah memberi penekanan, namun sikap masyarakat masih terbelah, ada yang pro dan kontra.

Sebagian masyarakat pedesaan misalnya, mereka merasa daerahnya aman dari penyebaran Covid dan  beranggapan bahwa virus ini tidak ada. Resistensi ini diperkuat dengan sejumlah berita hoaks yang beredar. Kalaupun ada yang sakit, dinilai sebagai sakit biasa, panas dan batuk yang sering dialami sebelumnya. Sehingga, jika diminta untuk swab, baik Antigen maupun PCR, mereka cenderung menolak. Kondisi ini berpotensi pada terjadinya penularan.

Masyarakat pedesaaan umumnya lebih mendengar penjelasan tokoh adat atau ulama setempat. Karenanya, sosialisasi bahaya Covid serta kebijakan mengatasinya perlu dilakukan dengan mengedepankan peran tokoh masyarakat dan ulama.

Dualisme sikap juga terjadi pada segmen masyarakat yang tinggal di perkotaan atau perumahan. Sebagian besar mereka relatif lebih mengindahkan imbauan pemerintah. Pada segmen ini, peran pengurus rumah ibadah sangat penting dalam memberikan sosialisasi dan edukasi.

Akhirnya, kita semua tentu berharap pandemi Covid ini segera berakhir. Pandemi digarapkan dapat semakin menyatukan masyarakat, untuk saling tolong-menolong. Bahwa di atas segala-galanya, ada aspek kemanusiaan yang utam. Semoga Allah meridai kita. Aamiin

 

M. Adib Abdushomad, M.Ed., Ph.D (Kasubdit Kelembagaan Diktis, Kemenag)