MTQN XXI 2006, Panen Raya Bagi PKL Kendari

Kendari, 3/8 (Pinmas) - Panen raya, itulah mungkin isitilah yang tepat bagi para pedagang kaki lima (pkl) apakah itu PKL mereka dadakan atau yang sudah berprofessi lama. Tidak hanya itu, para penjual jasa “pengojek”-pun terkena bias dari kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional XXI  2006 di Kendari, Sultra. Maraknya penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXI tahun 2006 di Kendari, Sulawesi Tenggara, mamang dirasakan berdampak positif sekali oleh masyarakat kota Kendari dan sekitarnya.

Event yang cukup lama ditunggu tunggu oleh masyarakat Sultra, khususnya Kendari ini memberikan geliat tersendiri bukan hanya bagi masyarakat pengais rezeki di atas, masyarakat awam, ibu ibu rumah tanggapun seakan mendapat kebebasan untuk turun mulai sore menuju arena utama yang terletak di tengah kota dengan motto “Kendari Kota Bertaqwa”.Malam hari, berduyun meninggalkan arena secara beriringan dengan berjalan kaki ada yang naik angkot ada pula yang naik ojek atau berkendaraan sendiri tentu saja setelai acara pada hari itu usai. Pemandangan di atas nyaris terlihat setiap sore hinggamalam di Jln Pasaino, Jln Abdullah Silondaie, Jln Abunawas dan Jln Saranani yang mengelilingi arena utama berupa banguna rumah adat Kendari, Baruga.

Tidak salah kalau Kakanwil Depag Sultra Drs H Abdul Muis D menyataka, kegiatan berskala nasional yang berlangsung selama 7 hari di ibu kota propinsi bumi “anoa” ini merupakan panen raya bagi para pedagang kaki lima yang menggelar jualan mereka di tempat tempat yang disediakan oleh panitia. Nyaris tidak ada tempat yang lowong di sekitar arena utama MTQ Nasional XXI 2006 ini.Arena utama di atas merupakan alun alun kota Kendari bekas rawa yang berhasil “disunglap” menjadi lahan yang menjanjikan bagi masyarakat kota yang berpenduduk226.000 jiwa lebih, Di atas lahan inilah berdiri sebuah bangunan rumah adat Kendari, Baruga yang menjadi panggung utama di arena kegiatan bernuansa Islami nasional 3 tahun sekali itu. Para pedagang yang terdiri dari ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) kota “jambu mente” ini terlihat meggelar dan menjajakan dagangan mereka, tidak terhitung jumlah mereka di arena “Pameran dan Bazar” MTQN XXI 2006 ini.

Tidak tanggung tanggung memang, dagangan tersebut mereka gelar mulai dari pagi hingga larut malam dan dengan sabar menunggu pembeli. Yang mereka jual mulaidari permen, buah buah, souvenir, hingga pakaian dan sepatu. Mereka ialah para pedagang baik dari luar kota maupun PKL setempat yang berbaur memanfaatkan event ini dengan mengambil tempat dan sudut sudut ruang yang dinilai tidak mengganggu. Event ini benar benar menjadi saat yang menjanjikan penghasilan yang luar bisa bagi mereka masyarakat kecil. RP 1 JUTA PERHARI Datang dan pulang dari Kendari menurut Thamrin Diwa, warga kota Kendari, jangan lupa membawa kacang mede sebagai oleh oleh sekaligus souvenir.

Seperti diakuinya hasil kebun sekaligus “home industri” masyarakat dan pulau Muna, Buton dan Kolaka ini berhasil mengangkat nama Kendari sebagai penghasil jambu mente  Simaklah penjelasan pak Irham yang menggelar jualan kacang “mede” (demikian orang Jakarta menyebut kacang ini) di lokasi Pameran dan Bazar, seharinya dia bisa memperoleh hasil Rp 1 juta dari hasil jualannya yang sengaja dia datangkan dari desa Lombe Buton. Kacang khas yang berasal dari “jambu monyet” ini dia datangkan dari tempat asalnya tidak kurang dari 1 ton.MARTINMaraknya MTQ XXI 2006 Kendari, punya arti tersendiri bagi para penjasa “ojek” diantaranya Martin, warga Jalan Lepo-lepo, Kendari.

Pemuda kelahiran, kampung Makale, Toraja, Sulawesi Selatan, ini mengaku sudah 5 tahun menjadi warga kota Kendari dan sejak 3 tahun lalu menjadi pengojek setelah berhasil membeli sebuahsepeda motor. Alat angkutan beroda dua inipun menjadi andalannya untuk mengais rezeki di kota bumi ”anoa” ini. Hasil “tarikan” mulai pagi hingga jam 10.00 wita malam cukup lumayan dengan memasang tarif berkisar Rp 2.000,- hingga Rp 5.000,-“Selama ada acara MTQ ini lumayan pemasukan yang saya peroleh sampai Rp 80.000,- setiap harinya sebelumnya saya hanya memperoleh paling tinggi Rp 50.000”, jelasayah dari 2 putera ini sembari menambahkan bahwa penghasilan tersebut cukup untuk kebutuhannya dengan keluarga. (thamrin)