Meneliti Hakikat Masalah Kehidupan

Bila kita melihat kenyataan di dalam kehidupan saat ini, banyak hal-hal yang membuat kita semakin kesal,  bingung, marah, dan sebagainya. Karena banyak persoalan-persoalan yang sangat beraneka ragam  di sekeliling kita sehingga membuat miris.

Contoh, orang sering menyerang keburukan orang lain, memfitnah di sana-sini, berperilaku kejam tanpa cinta kasih, dan sebagainya.

Melihat kenyataan tersebut, apa yang dapat kita perbuat? Semua ini tidak lain adalah kembali ke hati nurani kita masing-masing. Cara yang harus dilakukan adalah meneliti hakikat tiap perkara dari dalam diri sendiri.

Meneliti hakikat tiap perkara merupakan langkah awal bagi seseorang dalam melakukan pembinaan diri yang menjadi kewajiban hidup manusia. Meneliti hakikat tiap perkara adalah kondisi batin yang siap mempelajari asal muasal apapun di kehidupan ini. 

“Tiap benda mempunyai pangkal dan ujung dan tiap perkara mempunyai awal dan akhir. Orang yang mengetahui mana hal yang dahulu dan mana hal yang kemudian, ia sudah dekat dengan Jalan Suci" (Da Xue Bab Utama: 3)

Semua yang perilaku atau perbuatan seseorang tentu ada awal penyebabnya, datang dengan tidak sendirinya. Kalau saja kita sudah menelaah baik-baik yang ada di dalam diri, memeriksa setiap kekurangan yang ada dalam diri, maka saya rasa tidak mungkin terjadi hal yang tidak kita inginkan. Sebelum kita menilai orang lain, terutama kekurangan yang dimilikinya, maka kewajiban kita untuk melihat ke dalam diri sendiri. Kita harus dapat meneliti hakikat tiap perkara di dalam menghadapi segala macam rona-rona kehidupan yang saat ini kita sedang jalankan!

Manusia mempunyai kekuatan batin, kemampuan berfikir yang tinggi, maka sudah selayaknya tidak ada hal yang tidak dapat diketahui. Banyak orang melihat atau mendengar sesuatu hanya dari luarnya saja, tanpa mengklarifikasi atas kenyataan yang ada. Bahkan, kemudian diberi tambahan di sana-sini yang sifatnya mengacaukan, sehingga akhirnya menjadi semakin jauh dari kebenaran.

Mari kita pahami ajaran Nabi Kongzi seperti yang disuratkan di dalam Kitab Sabda Suci, “Seorang susilawan (Junzi) terhadap persoalan di dunia, tidak mengiyakan atau menolak mentah-mentah. Hanya Kebenaranlah yang dijadikan ukuran". (Lun Yu Bab. IV:  10)

Jadi dalam meghadapi segala macam persoalan-persoalan kehidupan, kita tidak serta-merta menerima begitu saja yang kita terima. Jangan langsung mengiyakan atau menolaknya, tetapi kebenaran yang kita pergunakan sebagai tolok ukur. Sehingga, diri kita tidak terjebak dalam persoalan yang terjadi di sekitar kita.

Di sisi lain, Nabi Kongzi sudah memberi bimbingan hidup, bahwa kita harus menjadi manusia yang penuh dengan kecerdasan yang dilandasi sifat bijaksana dalam menyikapi segala persoalan di dalam kehidupan saat ini. Kita tidak hanya asal menerima begitu saja apa yang ada, melainkan kita pelajari baik-baik asal muasal yang terjadi.

Nabi Kongzi bersabda: “Banyaklah mendengar, sisihkanlah hal yang meragukan dan hati-hatilah membicarakan hal itu. Dengan demikian akan mengurangi orang lain menyalahkan. Banyaklah melihat, sisihkan hal yang membahayakan dan hati-hati menjalankan hal itu. Dengan demikian akan mengurangi kekecewaan sendiri." (Lun Yu Bab. II : 18)

Mari kita kembalikan kepada diri sendiri untuk memulainya. Tentu kita harus meneliti hakekat tiap perkara itu yang dilandasi dengan kecerdasan serta adanya tekad yang kuat. Sehingga, segala yang kita teliti akan memberikan kebaikan, bukan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan juga orang lain.

Mari kita simak ayat suci berikut: “Apa yang tidak baik dari atas, tidak dilanjutkan ke bawah. Apa yang tidak baik dari bawah, tidak dilanjutkan ke atas. Apa yang tidak baik dari muka, tidak dilanjutkan ke belakang. Apa yang tidak baik dari belakang, tidak dilanjutkan ke muka. Apa yang tidak baik dari kanan, tidak dilanjutkan ke kiri. Apa yang tidak baik dari kiri, tidak dilanjutkan ke kanan. Inilah Jalan Suci yang bersifat siku" (Da Xue Bab. X: 2)

Artinya, bahwa segala persoalan kehidupan, terutama yang tidak sesuai dengan kebenaran, janganlah sekali-kali kita teruskan kepada orang lain. Karena sekali saja kita teruskan, maka orang lain yang menerimanya kemungkinan akan meneruskannya juga kepada orang lain dan seterusnya. Sehingga semakin banyaklah hal yang tidak baik menjadi berkembang. Bila kita menerima sesuatu yang tidak baik, maka hanya kita yang menyimpannya. Kemudian dipahami benar-benar dan tidak mencontoh ketidakbaikan itu untuk dijalankan. Dan inilah sikap seorang bijaksana.

Memeriksa kekurangan pada diri sendiri dan tidak menyerang kekurangan yang ada pada orang lain menjadikan kehidupan seseorang menjadi lebih tenang, lebih damai, tanpa ada beban yang memberatkan. Di sisi lain, tanpa mencampuri kehidupan orang lain, maka akan terjaga kerukunan dan keharmonisan hidup dengan sesama.

Memeriksa diri lebih penting untuk menilai kekurangan diri sendiri daripada menilai kekurangan pada orang lain. Murid Nabi Kongzi yang bernama Zengzi telah memberikan bimbingan kehidupan, agar kita senantiasa memeriksa diri setiap hari. “Tiap hari aku memeriksa diri dalam tiga hal; sebagai manusia adakah aku sampai berlaku tidak Satya? Bergaul  dengan kawan dan sahabat, adakah aku sampai berlaku tidak dapat dipercaya? Dan adakah ajaran Guru (Nabi) yang sampai tidak kulatih?" (Lun Yu Bab. I: 4)

Dengan memeriksa diri sendiri, kita akan mengetahui sejauh mana kekurangan yang dimilikinya. Sehingga, bila sudah mengetahui kekurangan tersebut, akan lebih mudah untuk memperbaikinya dan selanjutnya dapat menjalankan kehidupan dengan sebaik-baiknya. 

Akhirnya, marilah kita bersama-sama meneliti hakikat tiap perkara dalam diri masing-masing. Bahwa dalam menghadapi segala permasalahan kehidupan, jangan kita menelan mentah-mentah apa yang kita terima. Kita telaah atau teliti terlebih dahulu, sehingga tidak merugikan diri sendiri maupun merugikan orang lain.

 

WS. Wichandra, SE (Rohaniwan Khonghucu)