Menag: Umat Islam Perlu Berbondong-bondong Ke Lebanon

Jakarta, 10/8 (Pinmas) - Menteri Agama M Maftuh Basyuni menegaskan tidak perlunya umat Islam berbondong-bondong ke Lebanon dan Palestina untuk berperang melawan Israel. "Jihad perang itu tidak tepat, kita berbondong-bondong ke sana mau apa, nanti lalu mati, malah menjadi beban," kata Menag menjawab pertanyaan pers, di Jakarta, Kamis.   

Kalau mau membantu, ujar Menteri, cobalah membantu dengan doa atau apa saja yang diperlukan seperti uang, pangan, atau obat-obatan.  Menteri menegaskan bahwa sekarang ini yang terjadi di Lebanon dan Palestina bukanlah perang agama, tetapi Israel telah melakukan kejahatan kemanusiaan yang bukan saja ditujukan kepada umat Islam tetapi juga kepada umat lain.   

Menurut Menteri, Presiden juga telah berusaha maksimal dengan mendesak dunia untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan Israel itu dan sudah siap mengirimkan pasukan yang berada di bawah payung PBB.   Sebelumnya sebanyak 2.000 laskar jihad dari Front Pembela Islam (FPI) siap berangkat ke Lebanon dan Palestina untuk bertempur bersama laskar Hizbullah melawan Israel, kata Ketua Tim Monitoring Mujahiddin FPI, Sholeh Mahmud Nasution. "Sekitar 2.000 laskar `mujahiddin` itu adalah bagian dalam Komite Pembebasan Al-Aqsa (KPA) yang telah dibentuk sejak tahun 2002," katanya.  

Bahkan, ujarnya, FPI telah mengirimkan 20 sukarelawannya untuk bertempur bersama pasukan Hizbullah di Lebanon lima hari yang lalu.  "Ini adalah inisiatif FPI mengingat krisis antara Israel dan Lebanon bukan hanya masalah agama (Islam dan Yahudi), tapi juga masalah kemanusiaan," katanya.    Sholeh mengatakan, 20 sukarelawan itu telah tiba di Lebanon melalui Kuala Lumpur (Malaysia), Damaskus (Suriah), kemudian masuk ke Lebanon melalui jalan darat. Laskar mujahiddin yang mayoritas berasal dari Jakarta dan Slawi, Jawa Tengah, itu juga telah dibekali pelatihan selama empat tahun secara mental, keihklasan dan strategi perang, katanya.   

Dia mengatakan para laskar mujahiddin FPI kini telah sampai ke Lebanon dan tengah melakukan pelatihan oleh laskar Hizbullah mengenai pengenalan dan strategi medan perang di Lebanon selama 7 hari.    Dia mengatakan, FPI menyadari bahwa Pemerintah Indonesia tak setuju dengan pengiriman sukarelawan tersebut. Karena itu FPI akan bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi pada nasib mereka.   "Kami menyadari pengiriman Laskar Jihad FPI akan mengundang kontrovensi dari Pemerintah. Tapi apapun yang terjadi para sukarelawan tersebut mengaku siap untuk mati sebagai syuhada," katanya.   Namun, dia mengatakan, ia belum bisa memastikan kapan FPI akan memberangkatkan sukarelawannya lagi karena masalah biaya yang mencapai Rp15 juta hingga Rp20 juta per orang. (Ant/Ims)