Menag Bersama Dubes RI untuk UEA Bahas Tata Kelola Masjid Syeikh Zayed Solo

Jakarta (Kemenag) --- Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menggelar rapat bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk Persatuan Emirat Arab (UEA), H.E. Husin Bagis.

Rapat secara daring tersebut membahas rencana persiapan peresmian Mesjid Syeikh Zayed dan pembangunan Islamic Center Solo di Surakarta, Jawa Tengah hingga pengiriman imam masjid Indonesia untuk Uni Emirat Arab.

Hadir mendampingi Menag, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag, Adib, Stafsus Wibowo Prasetyo dan Kabag TU Pimpinan Sidik Sisdiyanto. 

Dalam pertemuan tersebut, Menag Yaqut mengatakan bahwa sesuai arahan Presiden Joko Widodo, nantinya pengelolaan Mesjid Syeikh Zayed di Solo yang menjadi replika Masjid Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi akan diserahkan kepada Kementerian Agama.

"Ini sudah kami pikirkan bersamaan dengan tata kelola masjid. Waktu saya dipanggil Presiden dan beliau menanyakan soal pengelolaan masjid Syeikh Zayed. Dan kami meminta pengelolaannya di Kementerian Agama agar secara ideologi lebih terjaga. Presiden menyetujui dan beliau juga meminta jika disetujui Islamic Center Solo menjadi penunjang kegiatan di masjid," ujar Menag, Kamis (29/9/2022).

"Draf kerjasamanya sudah ada dan tentunya akan kami diskusikan kembali untuk dilaporkan kepada Presiden Joko Widodo," sambungnya.

Dubes RI untuk Uni Emirat Arab (UEA) H.E. Husin Bagis menambahkan bahwa pihak UEA juga berencana akan menanggung semua biaya pembangunan Islamic Center Solo yang akan menjadi penopang kegiatan Masjid Syeikh Zayed.

Untuk itu, ia berharap Kemenag segera menyiapkan draf kerja sama pembangunan Islamic Center Solo yang akan dibiayai oleh UEA. Draf kerja sama antara Indonesia dan UEA tersebut nantinya akan dibahas saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali pada November 2022. 

"Dari pihak UEA sudah oke kalau mereka yang akan membiayai pembangunan Islamic Center Solo, tinggal kita siapkan draf kerja samanya. Selain itu kami juga berharap Kemenag dapat segera memenuhi kuota imam mesjid Indonesia untuk UEA. Tahun ini baru 70 imam masjid dan kami berharap tahun 2023 mendatang Kemenag dapat menyiapkan 130 imam masjid tambahan karena kuota imam mesjid Indonesia untuk UEA itu mencapai 200 imam masjid," kata Husin Bagis.

Terkait kebutuhan imam masjid Indonesia untuk UEA disampaikan Menag tidak semudah yang dibayangkan. Sebab mencari imam masjid Indonesia yang sempurna dengan hafal 30 juz Alquran bukan pekerjaan mudah.

"Sebelumnya sudah pernah kami sampaikan bahwa mencari manusia sempurna atau imam masjid yang hafal Al-Qur'an, qari dan bisa berbahasa Arab itu ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami. Kami pernah mengusulkan agar grade yang diberikan UEA diturunkan sedikit seperti hafal 15 atau 20 juz," tandas Menag.