Melestarikan Keanekaragaman Hayati

Uṭṭhānen’ appamādena saññamena damena ca, dīpaṃ kayirātha medhāvī yaṃ ogho nābhikīrati. Dengan usaha yang tekun, semangat, disiplin, dan pengendalian diri, orang bijaksana membuat pulau bagi dirinya sendiri yang tidak dapat dihanyutkan oleh banjir. (Dhammapada, syair 25)

Indonesia merupakan negara kepulauan tropis yang kaya akan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. Namun, kekayaan alam ini jika tidak dijaga dan dipelihara dengan baik dan sungguh-sungguh akan menimbulkan bencana serta penderitaan bagi masyarakat serta lingkungan ekosistem itu sendiri. Di musim hujan, hutan yang tidak terjaga dan terpelihara dengan baik, akan mengakibatkan terjadinya bencana tanah longsor maupun banjir bandang. Kemarau akan menjadi lebih lama karena perubahan iklim akibat pemanasan global yang disebabkan rumah kaca dan gundulnya hutan-hutan tropis. 

Keanekaragaman hayati merupakan istilah yang digunakan untuk keanekaragaman sumber daya alam, meliputi jumlah, spesies, gen, flora dan fauna dari suatu ekosistem di suatu kawasan yang sangat penting karena berkaitan erat dengan kehidupan manusia sebagai salah satu bagian di dalam sistem kehidupan itu. Dibanding daerah gurun maupun kutub, daerah tropis dan lingkungan kepulauan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang lebih banyak dan lebih kompleks karena sangat cocok untuk tumbuh lebih banyak, lebih beraneka macam pepohonan, dan menjadi tempat yang cocok untuk hidup beraneka satwa yang merupakan satu kesatuan dalam suatu sistem kehidupan saling bergantung dan memengaruhi satu sama lain.

Ketidaktahuan dan kesalahan mengelola dan memanfaatkan sumberdaya dapat berakibat punahnya satu kehidupan sehingga sangat merugikan anak cucu. Mereka tidak dapat menjumpai buah-buahan tropis karena telah musnah oleh pembalakan atau kebakaran hutan atau hanya dapat mengenal dan menimang boneka binatang lucu yang sudah punah. Karena itu, setiap orang harus berperan aktif mengampanyekan pelestarian sumber daya alam dan keanekaragama hayati serta disiplin dan bertanggungjawab untuk melestarikannya agar generasi mendatang dapat pula menikmatinya. 

Tanggungjawab tersebut dapat dilakukan dengan melakukan tindakan konkret seperti menanam pohon di pekarangan rumah sampai reboisasi/penghijauan, mengendalikan diri dalam mengekploitasi sumberdaya alam, seperti pembukaan lahan perkebunan, penambangan, maupun eksplorasi minyak bumi, dan senantiasa berorientasi kepada pelestarian alam dan keanekaragaman hayati ekosistem di sekitarnya dalam kegiatan ekonoms lainnya. 

Pembalakan hutan dan penangkapan binatang yang dilindungi merupakan musuh besar bagi usaha pelestarian keanekaragaman hayati yang harus diperangi oleh semua warga masyarakat tanpa kecuali.

Buddha mengajarkan para bhikkhu untuk tidak menyakiti makhluk lain, bahkan dalam Vinaya (peraturan para bhikkhu) bhikkhu tidak diperbolehkan menginjak rumput. Hal ini mengandung filosofi ajaran (Dharma) bahwa sebagai umat Buddha wajib menjaga dan melestarikan lingkungan hidup sebagai satu kesatuan keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati yang lestari akan berdampak pada sehatnya ekosistem, cuaca dan iklim di bumi sehingga dapat meningkatkan taraf kesehatan hidup manusia.

Guru Agung Buddha mengajarkan kepada umatnya untuk memandang segala fenomena yang terjadi di alam semesta ini adalah sesuatu hal yang saling berinteraksi dan memengaruhi. Semua berjalan sesuai dengan hukum sebab akibat yang saling bergantungan (Paticcasamuppada). 

Segala hal yang dilakukan akan mengakibatkan dampak yang dapat dirasakan, karenanya umat Buddha perlu menghargai lingkungan sebagai penunjang pencapaian kesucian batin. Melihat ke dalam diri dengan melatih meditasi dan menyadari bahwa diri sendiri merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari alam semesta. Selamat Hari Keanekaragaman Hayati.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.


TERKAIT

Pengetahuan Dasar Agama Khonghucu

Menjadi Ibu yang Kuat

Mengendalikan Sapta Timira