Mari Berbagi Kebaikan

Saudara terkasih. Tuhan Yesus memaparkan sebuah cerita, gambaran tentang situasi di alam baka, surga dan neraka, sebagai imbalan dari setiap perbuatan manusia yang berperilaku baik dan terpuji, juga berperilaku jahat. Tokoh atau pemeran dalam kisah ini, antara lain: seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, setiap hari hidup dalam kemewahan dan bersukaria. Pelaku berikutnya adalah Lazarus, orang miskin, pengemis yang duduk dekat pintu rumah orang kaya itu dan makan makanan yang jatuh dari meja si kaya. 

Sungguh miris Saudara, gambaran orang kaya dengan situasi berfoya-foya, kelimpahan makanan dan orang miskin duduk menunggu makanan jatuh dari meja orang kaya. Tentu ini salah satu gambaran situasi sosial di zaman Yesus, tapi situasi masyarakat di zaman sekarang juga kadang tidak jauh berbeda. Ketika meninggal dunia, Lazarus dijemput para malaikat untuk menikmati kebahagiaan surga, sementara si kaya mengalami penyiksaan dalam api neraka.

Mungkin muncul dalam pikiran kita, “Itu kan salah si miskin sendiri kenapa dia tidak mau bekerja dan membuat hidupnya menjadi lebih baik?” 

Perlu diketahui, orang miskin dalam kisah ini juga adalah penderita sakit. Manusia sering sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi pada titik tertentu dia tidak bisa menolak sakit yang menimpa dirinya. Manusia sudah berusaha, tetapi pada saat tertentu dia tidak bisa menolak kegagalan yang menimpa dirinya. Sering orang miskin dan sakit mendapat perlakuan tidak wajar, malah dalam keterpurukannya mereka juga kadang dihina dan dikucilkan dari pergaulan. Sebuah kondisi yang sungguh memprihatinkan.

Kisah teks Injil ini mengajak kita untuk memiliki semangat berbagi, peduli kepada sesama di sekitar kita, saling menolong, dan berperilaku pantas kepada sesama manusia. Seperti pada teks Injil lainnya, Yesus mengajarkan hukum cinta kasih, mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi diri sendiri tanpa membedakan latar belakang suku, agama, ras, ataupun etnis, karena semua manusia diciptakan oleh Tuhan yang sama. Karena siapa pun dia, apa pun kondisinya, darimana pun asalnya, apa pun agama atau etnisnya, dia adalah ciptaan Tuhan, Sang Pemilik Kehidupan, dari mana semua makhluk berasal dan kepada-Nya semua makhluk akan kembali.

Tuhan telah menciptakan manusia dengan berbagai kondisi dan kemampuan. Mari kita saling menerima, saling menghargai, saling menolong, dan saling mengajak untuk terus berusaha, bekerja keras, penuh semangat, serta jujur dan selalu bersyukur di dalam doa agar hidup setiap orang menjadi lebih baik dari sekarang. Mari berusaha lebih giat untuk mengembangkan potensi diri, agar hidup kita menjadi lebih bermakna bagi diri sendiri, keluarga, dan bisa memberi kebaikan bagi sesama di sekitar kita.

Sebagai umat beragama dan beriman, mari kita lakukan hal-hal baik, yang positif, dan bermanfaat bagi diri sendiri, sesama di sekitar kita dan lingkungan agar hidup kita menjadi bermakna. Kita hindari perbuatan negatif, seperti perilaku koruptif yang mengorbankan kepentingan masyarakat kecil. Mari kita tingkatkan perilaku hidup jujur, rela berkorban bagi kepentingan masyarakat, dan peduli pada yang lemah. Mari laksanakan pemahaman iman dalam perbuatan nyata yang bermanfaat bagi kehidupan lebih banyak orang. Semoga.

 

Robertus Billarminus I Made Suryanta, S.Ag. (Pembimas Katolik Provinsi Bali)