Kisah Penyuluh Agama di Morotai, Jadi Penyejuk Pasca Tragedi 1999

Morotai (Kemenag) --- Masih penting dan perlukah kehadiran penyuluh agama Islam di tengah masyarakat khususnya di Morotai? Pertanyaan ini mengemuka dalam pertemuan antara jajaran Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama dengan puluhan penyuluh agama Islam di Kabupaten Morotai, Provinsi Maluku Utara. 

Puluhan penyuluh di pulau paling utara Provinsi Maluku Utara yang hadir pagi itu saling menatap satu dengan lainnya. Pertanyaan ini sengaja disampaikan Subkoordinator Administrasi Penyuluh Agama Islam. Ditjen Bimas Islam Alif Purwoko untuk menepis pandangan bahwa kehadiran penyuluh agama binaan Kementerian Agama tidak berfungsi maksimal di tengah masyarakat. 

Sejurus kemudian para penyuluh serentak mengangkat tangan dan berebut memberi jawaban dan pandangan. "Sangat perlu, sebab warga dan anak-anak di Morotai membutuhkan penyuluh agama Islam," jawab Jamiluddin, seorang Penyuluh Agama Islam asal Morotai Selatan, Senin (18/10/2021).

"Kami juga berperan dalam menyejukkan umat Islam dan umat beragama lainnya di Morotai pasca peristiwa bentrok sosial pada tahun 1999. Masyarakat Morotai butuh kami (penyuluh agama Ialam)," sambung Jamiluddin. 

Perpaduan dari beragam agama yang ada di pulau ini menjadi cerminan tentang sikap toleransi yang ditunjukkan penduduknya. Itu semua tidak lepas dari peran penyuluh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh agama. 

"Sehingga sejak tragedi 1999 sampai sekarang, toleransi dan kerukunan umat beragama sangat terjaga di Kabupaten Pulau Morotai," katanya. 

Ia menyatakan, kehadiran penyuluh di Pulau Morotai bak suluh atau penerang bagi umat Islam dalam mendekatkan diri kepada Sang Khalik. 

Para penyuluh agama Islam di Morotai, lanjutnya, juga berperan dalam menepis isu-isu yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk berkontribusi dalam memberikan pemahaman tentang Covid-19 dan program vaksinasi. 

"Saat Covid-19 dan program vakisnasi, penyuluh agama Islam turun langsung dan mengajak masyarakat di desa-desa untuk mengikuti arahan pemerintah dan Kementerian Agama, seperti memakai masker dan mengikuti vaksinasi. Meski honor yang kami dapatkan jauh lebih rendah daripada penyuluh pertanian, namun itu tidak menyurutkan semangat kami," tuturnya. 

"Kita bahkan bersama penyuluh agama lainnya di Morotai turut menepis berita-berita hoaks terkait Covid-19, vaksinasi dan tentang Islam itu sendiri," lanjutnya. 

Pembinaan Penyuluh Agama Islam terkait Program Bimbingan Masyarakat Islam serta Bimtek Pembuatan Media Publikasi untuk Program-program Kebimasislaman di Kabupaten Morotai Provinsi ini turut dihadiri Subkoordinator Bina Paham Keagamaan M. Idham dan Subkoordinator Evaluasi dan Program Ditjen Bimas Islam Rahmania. 

Penyuluh Agama Islam di Morotai Utara. Salman menuturkan keberadaan penyuluh di daerah paling Utara di Morotai itu sangat penting, khususnya dalam menunjukkan Islam yang Rahmatan lil alamin. 

"Tidak hanya mengajarkan anak-anak desa baca Al-Quran, tata cara berwudhu, salat  dan pemahaman Islam yang moderat, kami juga membimbing dan membina warga mualaf. Kalau mereka tidak kita dampingi, bisa berdampak terhadap citra Islam itu sendiri," kata Salman.

Kesempatan diskusi ini dimanfaatkan para penyuluh agama dari berbagai kecamatan di Kabupaten Pulau Morotai untuk menyampaikan tantangan mereka dalam menjalankan tugas. Misalnya, munculnya sekelompok orang yang menyarankan masyarakat untuk tidak salat di masjid, atau secara terang-terangan menolak ceramah ustad tertentu. 

"Namun semua itu tidak berlangsung lama, kami para penyuluh agama Islam langsung mengandeng MUI dan tokoh agama untuk mengajak mereka yang terlalu ekstrem tersebut kembali ke tengah. Jadi peran penyuluh di Kabupaten Morotai sangat penting dan akan selalu dibutuhkan oleh masyarakat. Begitu juga dengan masyarakat di desa binaan," kata Suaib, penyuluh agama Islam dari Morotai Timur.

Subkoordinator Administrasi Penyuluh Agama Islam. Ditjen Bimas Islam Alif Purwoko mengatakan, selain silaturahim dengan penyuluh agama Islam, pihaknya juga memberikan pembinaan dan koordinasi terkait program Bimas Islam. 

"Di Kabupaten Pulau Morotai, terdapat 41 penyuluh agama Islam. Dari total penyuluh itu, ada satu orang yang tidak bisa hadir karena posisinya berada di daerah paling utara di Pulau Morotai," kata Alif

Silaturahim dan pembinaan penyuluh ini dirangkai dengan dialog interaktif terkait program yang dirumuskan Kementerian Agama. "Penyuluh agama Islam merupakan indikator dari kinerja Kemenag. Baik buruknya Kementerian Agama ada di penyuluh agama Islam. Jangan sampai ada para penyuluh berseberangan dengan kebijakan yang disampaikan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Kita harus saling mendukung. Program Kemenag tidak akan berjalan maksimal tanpa peran para penyuluh agama," tandas Alif. 

Ia menambahkan penyuluh agama Islam harus bermain sosial media seperti Youtube, IG dan Facebook. Pasalnya semua informasi saat ini banyak disampaikan melalui sosial media. 

"Para penyuluh juga bisa menjadi benteng terhadap isu-isu keagamaan yang beredar di daerahnya masing-masing. Kita harus aware terhadap media sosial.. Ayo mulai dari sekarang kita proaktif di sosial media. Penyuluh agama Islam dituntut mengawal Moderasi Beragama di tengah masyarakat dengan menjaga kerukunan dan toleransi serta menjaga kearifan lokal," katanya. 

"Tunjukkan bahwa penyuluh agama Islam itu penting dalam menjaga keberagaman dalam keberagamaan," harapnya. 

Usai dialog interaktif dan pembinaan, puluhan penyuluh juga mendapat bekal pelatihan singkat membuat flayer dan konten media sosial kreatif dari tim Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama.