Kemenag Siapkan Fasilitator Peningkatan Kompetensi Guru & Pengawas Madrasah Daerah 3T

Surabaya (Kemenag) --- Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama memberikan pendampingan peningkatan kompetensi bagi guru, pengawas, dan kepala madrasah di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). 

Upaya yang dilakukan adalah menyiapkan fasilitator bagi peningkatan kompetensi guru, pengawas, dan kepala madrasah di daerah 3T. Proses ini diselenggarakan di beberapa wilayah, antara lain NTT, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua Barat, dan Kalimantan Utara. 

"Penyelenggaraan Pendidikan di 3T ini memiliki kompleksitas problem. Guru harus memiliki kemampuan yang melampaui kompetensi di atas rata-rata," kata Direktur GTK Madrasah Muhammad Zain saat menyampaikan arahannya secara daring, Senin (31/10/2022). 

Menurutnya, aktifitas pelatihan untuk mereka harus menggunakan metode khusus dan distingtif, tidak bisa disamakan dengan model pelatihan ala perkotaan. 

Kepala Subdit Bina GTK MA/MAK Anis Masykhur menambahkan, fasilitator program ini harus memiliki dua kemampuan tambahan, yaitu: meneliti dan analisis sosial. Sebab, guru di daerah 3T banyak memainkan peran ganda, guru mapel tertentu dan mapel lainnya. 

Guru agama misalnya, kadang juga harus mengampu Matematika, Kimia, atau mata pelajaran lainnya. Sebab, SDM nya memang sangat terbatas. Bahkan, sering ditemukan, guru mengajar di madrasah saat pagi, dan mengajar di masyarakat sore harinya. 

“Maka, dengan memiliki dua kompetensi tersebut secara memadai, ia akan dapat memetakan permasalahan secara tuntas, sehingga langkah penyelesaian juga dapat dianalisis secara tepat,” ujar Anis.

“Kemampuan meneliti dan analisis sosial menjadi modal dalam mengatasi pelbagai permasalahan yang ada di hadapannya,” sambungnya.

Dua kompetensi ini, sebut Anis, juga akan menjadikan guru lebih percaya diri ketika mengajar.  Untuk analisis sosial, Dosen UIN Syarif Hidayatullah ini mencontohkan model "Iceberg Analysis" dan "U Proses: Otto Schammer dan Peter Senji”. 

Menurutnya, dalam kurikulum merdeka, sebenarnya juga telah disediakan, meski polanya dalam bentuk yang sederhana. "Misalnya, seorang pendidik harus terbiasa menggali informasi dengan mempertanyakan penyebab setiap peristiwa hingga level (minimal) tiga," tuturnya.  

Pelatihan ini dilaksanakan sejak 28 Oktober - 1 Novemper. Fasilitator yang dihadirkan berasal dari lima provinsi yang memiliki keistimewaan, yakni: Sulawesi Tengah, NTT, Kalimantan Utara, Papua Barat, dan Maluku. (n15)