Kemenag Gelar ToT Fasnas Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif

Jakarta (Kemenag) --- Ditjen Pendidikan Islam Kemenag menggelar ToT Fasilitator Nasional (Fasnas) Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif berbasis Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial (GEDSI). Kegiatan satu hari ini digelar secara daring, bekerjasama dengan INOVASI dan Froum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI).

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Muhammad Zain, menilai pelatihan ini sangat strategis untuk melahirkan fasilitator yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di madrasah. “Sesuai filosofi Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, anak-anak difabel adalah anak-anak kita sendiri, yang berhak mendapatkan pembelajaran efektif, mereka tidak boleh ditinggalkan,” ujarnya di Jakarta, Rabu (16/6/2021).

“Saya berharap akan lahir fasilitator berkualitas dengan tiga indikator, pengetahuan yang cukup, skills memadai, dan berintegritas,” lanjutnya.

Hal senada disampaikan Direktur Program INOVASI Mark Heward. Dia berharap ToT ini nantinya dapat berdampak pada penyelenggaraan pendidikan inklusif yang lebih baik di madrasah. “Kita harapkan, selesai kegiatan ini, para fasilitator yang dilatih dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan. Pendamping dari FPMI untuk mengawalnya,” katanya.

Sebagai Direktur INOVASI, Mark Heward mengaku senang bisa mendukung program Kemenag dalam memperkuat pendidikan inklusif. “Kegiatan ini tentu mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM) Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas untuk membangun ekonomi dan kesejahteraan di Indonesia,” tegasnya.

Baginya, perempuan dan laki-laki mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan. “Perempuan dapat menjadi dokter, insinyur, dan mengisi di beberapa posisi penting sama seperti laki-laki,” katanya.

Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Daniel Woods mengatakan, setiap orang memahami nilai dan pentingnya GEDSI, serta bagaimana kebijakan pemerintah di semua tingkatan dapat menerapkannya. Dalam konteks ini, Kementerian Agama mempunyai peran yang sangat penting, terutama melalui madrasah, serta jaringan organisasi keagamaan. 

“Pemerintah Australia bangga dapat bermitra dengan Kementerian Agama untuk mendukung peningkatan hasil belajar bagi semua siswa di madrasah. Kami percaya pada kekuatan kemitraan. Bermitra dengan mitra pembangunan, masyarakat sipil, semua bagian dari sistem sekolah, berbagai bagian dan tingkatan pemerintah di Indonesia, adalah kunci untuk memastikan bahwa pendidikan di Indonesia inklusif,” jelasnya.

“Melalui rangkaian lokakarya ini, saya berharap kita akan melihat lebih banyak pengembangan dan implementasi pendidikan inklusif di madrasah yang berkualitas. Semoga rangkaian workshop ini dapat menginspirasi dan bermanfaat bagi fasilitator dan anggota Tim Pendamping dari FPMI yang hadir. Saya berterima kasih kepada Anda semua atas komitmen dan dukungan Anda yang terus berlanjut,” sambungnya.

Kasubdit Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Raudlatul Athfal Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Siti Sakdiyah, dalam laporannya mengatakan bahwa ToT ini menjadi bagian dari wujud kehadiran pemerintah dalam pendidikan dengan memberi kesempatan kepada semua kalangan untuk mendapatkan layanan pendidikan. ToT ini diikuti 50 orang dari berbagai provinsi, didampingi dari 13 FPMI yang sudah dibentuk tahun 2020 yang diharapkan dapat mendampingi para peserta. 

“Sejumlah narasumber yang diundang, berasal dari Kemenag, Kemdikbud, dan akademisi perguruan tinggi, praktisi dan pemerhati pendidikan,” tandasnya.

Hadir dalam pembukaan ini, Tenaga Ahli Kedeputian V Kantor Staf Presiden (KSP), Sunarman Sukamto, Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Moh. Isom, Ketua Forum Pendidik Madrasah Inklusi (FPMI) Supriyono, M.Pd., panitia dan peserta. (RedG/Ibda)