Kata Gus Menteri soal Generasi 2030

Jakarta (Kemenag) --- Hari ini, Kamis (28/10) masyarakat Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Bagaimana Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau sering disapa Gus Menteri menjawab pertanyaan dalam Ngobrol Online @Tempo tentang “Generasi 2030”. Berikut petikan wawancara Gus Menteri:

Tempo: Gus, bagaimana moderasi beragama di kalangan generasi muda saat ini? 

Menag Yaqut: Kita sering mendengar kalau generasi muda saat ini mereka adalah penduduk pribumi dari dunia digital. Anak muda kalau tidak terkoneksi dengan dunia digital dia bukan anak muda. Segala bentuk informasi, ilmu pengetahuan, layanan, hiburan itu semua bisa diakses dalam dunia digital bahkan dalam genggaman anak muda ini melalui gadget yang mereka pegang.

Jadi untuk moderasi beragama, maka bagi kami di Kementerian Agama tidak ada pilihan lain. Karena kita tahu generasi muda ini jumlah terbanyak dari sekian ratus juta penduduk Indonesia. Pilihannya adalah apa yang ada di Kementerian Agama itu,  semua layanan yang ada di Kementerian Agama termasuk dalam mengkampanyekan moderasi beragama, itu yang kita transformasikan ke dalam dunia digital ini. 

Kita sudah tahu bahwa generasi muda ini mereka yang menjadi tumpuan, bukan hanya soal moderasi, tapi sekaligus juga soal perdamaian dan peradaban dunia. Di tangan pemuda ini nanti masa depan perdamaian dan peradaban dunia nanti saya kira ditentukan penguasaan pemuda terhadap teknologi dan informasi. Ini menjadi sebuah kekuatan generasi muda supaya bisa berdiri banyak, bisa nendang bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia secara umum.

Penguatan moderasi beragama ini maupun transformasi digital di dalamnya merupakan bagian dari program prioritas di Kementerian Agama. Kita mengembangkan layanan Super App. Layanan Super App ini mudah diakses, lengkap layanannya dan yang penting user friendly. Aplikasi ini bisa diakses melalui android atau ios. Itu layanan digital yang mengaplikasikan seluruh layanan digital yang dikelola di Kementerian Agama.
Melalui Super App ini kita berharap pengarusutamaan moderasi beragama di kalangan anak-anak muda ini juga semakin mudah. Seperti yang saya katakan di awal, anak anak muda ini tidak bisa lepas dari dunia digital, bisa lepas dari gadget mereka.

Maka pemahaman-pemahaman tentang moderasi beragama tentang perlunya moderasi beragama, pemahaman terhadap keberagaman dan keberagamaan itu kita dekatkan kepada mereka melalui dunia digital. Ini yang sedang dilakukan di Kementerian Agama.

Gus, mengapa isu agama itu menjadi bahasan di kalangan anak muda saat ini? Bagaimana agar mereka tidak salah langkah melihat perbedaan beragama di Indonesia ini?

Jadi ini, kita memiliki tantangan yang tidak hanya semata-mata urusan duniawi saja. Tantangan duniawi ini juga harus kita jawab. Kita tau tantangan duniawi selain tantangan ukhrowi apa saja. Kita tahu anak-anak muda ini adalah anak-anak yang haus dengan pemahaman atau pingin mendekatkan diri dengan agama.

Dan kami juga memiliki kepentingan anak anak ini bukan hanya mengejar dunia saja, akhiratnya juga. Akhiratnya itu melalui apa ? tentu mengejar akhirat ini melalui wawasan keagamaan. Nah tantangan ini juga tidak kalah berat dengan tantangan duniawi, malah menurut saya jauh lebih berat menjawab tantangan kebutuhan ukhrowi mereka, keagamaan anak-anak muda ini lebih berat menjawab dari pada tantangan yang bersifat duniawi.

Apalagi di saat sekarang kita tahu akses reformasi sangat mudah. Anak anak muda di sisi lain dan saat yang sama tertantang terus dan haus akan pengetahuan pengetahuan termasuk wawasan keagamaan. Mereka bisa mengakses dengan mudah bahan bacaan melalui banyak media.

Tidak banyak orang mengatakan bahwa saat ini di mana masanya hilangnya kepakaran. Jadi semua orang menjadi pakar. Melihat grup-grup WA, pembaca dari platform di media digital. Dengan membaca mereka sudah merasa ahli, mereka bisa mengatakan apa saja. Kami merasa ini semacam situasi yang menguntungkan sekaligus mengkhawatirkan .
Karena mudahnya akses ini, banyak anak-anak muda kita tahu atau tidak mengakses ilmu-ilmu keagamaan yang tidak otoritatif atau kurang otoritatif, bahkan cenderung menuju pemahaman-pemahaman yang ekstrim. Jadi kita harus memberikan pemahaman yang memang harus kita pahami.

Kita tahu era digital informasi seperti yang dikatakan Gus Menteri, tadi begitu cepat. Infomasi apapun bisa diperoleh. Bagaiana menjaga kalangan muda, kalangan milenial kita bisa menatap dengan moderasi beragama yang lebih baik? 

Karena penduduk jaman ini, menjadikan internet sebagai rujukan. Pengembangan sains termasuk teknologi informasi menurut saya perlu kita integrasikan dengan nilai-nilai agama. Sehingga apa yang mereka akses di dunia digital termasuk apa yang ada di dalamnya, bisa membawa kemaslahatan. 

Salah satu cendikiawan Turki, Said Nursi mengatakan bahwa pikiran itu harus diterangi ilmu pengetahuan dan hati perlu diterangi dengan agama. Ketika dua hal ini digabungkan, maka kebenaran akan terungkap. Namun ketika dipisahkan karena ada fanatisme misalnya, pada yang pertama dan timbul keraguan pada yang kedua.

Signifikasi kampanye penguatan pemahaman keagamaan dalam moderasi beragama penting untuk tidak hanya dilakukan secara konvensional saja. Tetapi juga harus mengoptimalkan serangan digital apalagi dimasa pandemi.

Kita tahu bahwa tantangan di masa pandemi orang-orang tidak bisa berkumpul dalam skala banyak. Jika sebelum masa pandemi kita bisa melihat para Ustadz, Ulama, Penceramah, Kyai dan seterusnya bisa menyampaikan pemahaman-pemahaman keagamaan di ruang publik dengan jumlah audiens yang luas sekarang tidak bisa lagi,  maka pilihannya adalah masuk dunia digital. 

Dan ternyata masuk ke dunia digital sebenarnya audiensnya jauh lebih luas dibanding pertemuan-pertemuan secara konvensional.  Oleh karena itu , transformasi  digital pilihan yang tak bisa dihindarkan .

Bagaimana pemerintah khususnya Kementerian Agama melihat moderasi beragama di Indonesia ke depannya. Apa tantangan yang harus diatasi dan bagaimana cara kita melihat peta kerukunan, keakraban dan toleransi ke depannya ?

Kami dari Kementerian Agama sedikit menghindari terminologi toleransi, intoleransi. Dalam pandangan kami diksi tolerasi, intoleransi ini sangat plastis artinya satu pihak bisa menuduh pihak lain intoleran dan sebaliknya. 

Karena diksi yang plastis ini kemudian kami merasa bahwa ungkapan yang paling tepat untuk mengajak orang supaya bertoleransi itu ya moderasi beragama. Moderasi beragama itu bagaimana mendekatkan yang kanan agak ke tengah, yang agak ke kiri ke tengah. Yang terlalu fanatik menjadi moderat dan yang liberal pun kita tarik agar lebih memahami nilai-nilai keagamaan. 

Lalu jika yang ditanyakan apa tantangannya dan bagaimana cara pemerintah mendorong moderasi dan toleransi pada anak-anak muda tentu yang pertama adalah pendidikan. Kita harus mampu masuk kedalam jalur-jalur pendidikan dan pemerintah sebenarnya sudah melakukan riview, kurikulum agar pengetahuan yang diberikan keapada generasi muda Indonesia itu bisa mengarah kepada penguatan moderasi beragama dan sudah dimasukkan kedalam kurikulum pedidikan dan tentu disaat yang sama bagaimana menjaga harmoni dalam keberagaman. Di RPJMN juga sudah dimasukkan.

Pemuda hari ini harus diberikan pemahaman pendidikan yang mendalam agar mereka tahu pengetahuan keagamaan yang baik itu seperti apa, tapi pengetahuan keagamaan itu juga tidak mengarah pada kebenaran. Kita tidak boleh mengajarkan kebenaran tapi mengklaim bahwa satu-satunya milik kita dan diberlakukan kepada orang lain. 

Memang kita memang harus fanatik terhadap agama kita, fanatik terhadap keyakinan kita tetapi itu hanya berlaku internal untuk diri kita sendiri, ini yang kita sampaikan ke anak anak muda. Kepada orang lain kita harus menghargai bahwa mereka memiliki keyakinan yang mungkin sama kuatnya yang yang berbeda dengan kita. Oleh karena itu kita harus saling menghormati. 

Kita sering mengatakan bahwa kita semua punya hak,  tetapi masing-masing hak kita dibatasi oleh hak orang lain. Jadi ini untuk menjaga tidak boleh ada klaim pembenaran bahwa sayalah yang paling benar sementara yang lain salah, bahwa ada kebenaran versi lain yang diyakini orang lain itu juga harus dihargai. Dan Kemenag sudah menyiapkan duta duta moderasi beragama. Duta-duta ini penting agar mereka bisa mendiskusikan dan mengkomunikasikan terkait moderasi beragama ini dengan kawan-kawan mereka dengan gaya mereka yang lebih mudah agar suatu saat nanti mereka bisa menyebarkan virus moderasi beragama ini kepada temannya yang lain.

Terima kasih Gus Menteri semoga moderasi beragama lebih baik, kita akan menjadi bangsa yang lebih maju dan beradab.