Jangan Kehilangan Kesadaran

Ye jhānappasutā dhīrā, nekkammūpasame ratā, devā pi tesaṁ pihayanti, sambuddhānaṁ satīmataṁ.

Orang bijaksana yang tekun bersamadhi, yang bergembira dalam kedamaian pelepasan, yang memiliki kesadaran sejati dan telah mencapai Penerangan Sempurna, akan dicintai oleh para dewa. (Dhammapada, Syair 181)

Di saat pandemi Covid-19 yang belum sepenuhnya berakhir, kita semua dikejutkan oleh fenomena alam yang terjadi baru-baru ini. Ada gempa di Malang, Jawa Timur, banjir bandang, badai dan tanah longsor di Nusa Tenggara Timur. Peristiwa menyebabkan lebih dari seratus orang meninggal, puluhan orang hilang, kehilangan tempat tinggal dan mengungsi. Demikian pula peristiwa bom bunuh diri yang meledak di depan Gereja Katedral di Makassar, Sulawesi Selatan.

Fenomena alam dan gangguan keamanan tersebut dapat membuat kita semua merasa miris, was-was, dan khawatir. Jika perasaan ini terus menerus menghantui, kita akan menghadapi permasalahan pikiran seperti stress dan kecemasan yang berimbas pada gangguan kesehatan fisik seperti insomnia dan hipertensi. Karenanya, diperlukan kesadaran untuk memahami dan kesiapan menghadapi setiap kondisi perubahan baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan.

Dalam ajaran Buddha, kesadaran (sati) memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga pengendalian pikiran. Hal ini meliputi kesadaran terhadap kondisi eksternal yaitu obyek-obyek atau kondisi dari luar tubuh seperti cuaca, fenomena alam atau kejadian-kejadian tersebut di atas, maupun kondisi internal seperti kesadaran terhadap kondisi tubuh, perasaan, maupun mental atau pikiran.

Kesadaran ini dapat dilatih secara intens dengan meditasi berkesadaran penuh (mindfulness) atau praktik meditasi pengembangan batin (vipassana). Seseorang yang telah memiliki kesadaran penuh, tidak akan pernah merasa khawatir di manapun berada. Hal ini disebabkan karena dalam dirinya telah dipahami sepenuhnya bahwa segala sesuatu adalah tidak kekal (anicca).

Dengan pengetahuan mendalam atas ketidakkekalan itu, orang akan dapat memahami bahwa setiap perubahan yang terjadi, baik yang disebabkan oleh fenomena alam, gangguan keamanan, atau kondisi lainnya seperti: politik, ekonomi, dan sosial, adalah perubahan yang wajar terjadi, yang mungkin akan terjadi, yang akan dapat terjadi, dan yang akan menimpa siapa saja.

Melalui latihan hidup berkesadaran atau praktik vipassana, kita dapat mengetahui akan pentingnya kesadaran dalam mempertahankan kondisi batin untuk diam di sini, pada saat sekarang ini. Artinya, ia tidak terikat pada memori masa lalu, maupun kecemasan akan masa yang akan datang.

Kesadaran (sati) juga dapat mengetahui dengan seksama mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka yang berkesadaran penuh juga mampu mengakomodasi diri sendiri maupun masyarakat untuk terikat pada nilai-nilai dan norma-norma Buddhis yang luhur dengan menahan diri dan tidak melakukan perbuatan jahat yang merugikan orang lain.

Kesadaran untuk dapat menerima kondisi yang berbeda juga sangat penting. Benar bahwa akibat pandemi Covid-19 juga telah mengubah pola kehidupan kita, termasuk dalam menunaikan ibadah. Hampir dua kali berturut-turut kita semua belum dapat merayakan hari besar keagamaan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Demikian pula dalam menunaikan ibadah sehari-hari atau ibadah hari besar keagamaan. 

Kepatuhan terhadap protokol kesehatan juga mempengaruhi tata peribadahan. Kesemuanya itu tentu membutuhkan adanya kesadaran yang baik sehingga dapat menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Inilah arti penting kesadaran sebagaimana yang diajarkan oleh Guru Agung Buddha kepada umatnya.

Semoga kita semua tidak kehilangan kesadaran yang kita miliki sehingga senantiasa mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi.

Selamat menunaikan ibadah puasa kepada para sahabat Muslim dan Muslimah, semoga selalu mendapat keberkahan yang melimpah.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 

Caliadi (Dirjen Bimas Buddha)