Jamaah Indonesia Kasih Teladan Orang Arab

Madinah, 9/1  (Pinmas) - Kericuhan kecil itu terjadi hanya 10 meteran depan pintu Ka’bah. Sabtu sore, akhir Desember lalu itu, adzan Ashar sebentar lagi berkumandang. Jamaah Masjidil Haram makin membludak saja pada hari keenam menjelang wukuf itu. Pusaran jamaah tawaf yang mengalir deras bak air bah, sejak ba’da dhuhur, sore itu mulai mengecil. Karena sebagian muthawwifin (pelaku thawaf), yang berada pada radius 10 meteran dari dinding Ka’bah, mulai duduk membentuk shaf, bersiap-siap shalat Ashar. Putaran thawaf yang belum lengkap akan dilanjutkan ba’da Ashar.Di antara muthawwifin pria yang pada uduk, terdapat lima jamaah wanita. Tak terlihat identitas mereka dari negara mana.

Tapi dari postur tubuh dan raut muka, mereka mirip orang Turki, Kurdi, atau Irak. Mereka mengenakan abaya hitam, tanpa penutup muka. Semuanya nenek-nenek.Tiba-tiba dari arah belakang datang petugas berjubah putih plus surban pernak-pernik merah-putih memperingatkan keberadaan jamaah wanita itu. “Hajjah .. hajjah .. berdiri .. berdiri .. perempuan di belakang,” kata petugas itu.Tapi jamaah wanita itu menolak. Beberapa pria di keliling wanita itumembela. Rupanya mereka serombongan, da sepuluhan orang, dan mengaku saling bersaudara. Mereka sedang umroh. Buktinya, si pria mengenakan baju ihm.Satu petugas tak cukup, datang lagi ptugas dari arah hajar aswad (dari kiri jamaah), juga berjubah putih, dengan surban kotak-kotak kecil hitam-putih. Petugas itu datang dengan melafalkan hadis Nabi.

“Rasulullah Saw bersabda, sebaik-baik shaf perempuan adalah di belakang. Mohon berdiri … ayo berdiri ..,“ kata petugas itu.Dengan logat Arab terbata-bata, seorang jamaah pria di samping serombongan nenek-nenek itu membela, “Kami sedang thawaf, belum selesai, kami di sini, supaya nanti bisa langsung melengkapkan thawaf.”Melihat aksen Arabnya yang kurang bagus, sepertinya mereka asal Turki atau Kurdi. Sampai petugas itu tanya, dengan intonasi tinggi, “Kalian berbahasa Arab?”. “Ya, kami berbahasa Arab,” jawab jamaah pria itu, dengan intonasi tak kalah tinggi. Di depan Ka’bah itu, suasana makin memanas “Kalian tidak bisa menentang hadis Nabi,” petugas itu menambahkan.“Bagaimana ini ada jamaah wanita tanpa mahram (kerabat dekat), apalagi di belakangnya ada orang lelaki,” ujar petugas itu sambil memegang-megang abaya jamah wanita agar berdiri dan mundur. Si pria tadi membela, “Kami ini mahram mereka, ini adik saya, itu kakak saya, yang sana, itu suaminya.”Si petugas tak mau kalah. “Kalian paham bahasa Arab kan?” tanya petugas itu masih meragukan kemampuan komunikasi jamaah.

“Muslim yang baik, bila mendengar hadis Nabi, harus menerima, bukan menentang. Shaf jamaah wanita di belakang jamaah pria,” katanya.“Tolong berdiri, law samah (please!), mohon berdiri baik-baik, jangan sampai kami menggunakan kekerasan,” kata petugas itu sambil melirik beberapa askar yang berdiri dekat dinding Ka’bah.Rombongan jamaah itu masih ngotot menolak. Bila jamaah pria sibuk membalas argumen petugas, dengan gaya ngotot khas Arab, jamaah wanitanya sibuk berdoa, agar tak terusir dari tempat itu. Entahlah, bagaimana merekamemaknai larangan berdebat (la jidala) saat ihram.Karena himbauan petugas “sipil” tak dihiraukan, petugas berseragam polisi mulai mendekat. Tapi masih memberi persuasi, “Mohon berdiri .. jangan sampai dengan kekerasan.” Sebagian jamaah lain tampak mulai gerah dengan kericuhan yang mengganggu kekhusyukan itu.

Ada yang nyeletuk, “Udahlah berdiri .. pergi ..”. Ada juga jamaah Indonesia asal Solo yang jengkel, “Wes mangkat kono .. mangkat .. mangkat ..”. Eh, jamaah wanita yang diminta pergi itu menanggapi juga, “ana la a’rif ..” sambil mengangkat dua tangan dan bahu badan. Jadinya, Jaka Sembung bawa golok! Nggak nyambung ..!Di tengah kebuntuan itu, tiba-tiba perhatian petugas beralih ke posisitiga shaf di depan jamaah Arab tadi. Di situ ada sepasang suami-istri jamaah Indonesia. Keduanya terpaksa duduk di situ karena saat thawaf mereka harus berhenti, mengingat semua orang di sekitarnya duduk membentukshaf.Pasangan itu diminta pindah ke belakang. Tanpa pikir panjang, keduanyapindah. Melihat jamaah Indonesia pindah, rombongan jamaah Arab itu barubersedia pindah ke belakang.MCH/Asrori)