Jajan Es Cendol di Kebayoran

Jakarta (Kemenag) --- Dibesarkan di Leteh, Rembang, saya terbiasa dengan jajanan kampung. Karena itu, saya kadang kangen juga dengan jajanan kampung, salah satunya Es Cendol.

Itu yang saya rasa saat melihat bapak tua jualan Es Cendol di bilangan Kebayoran, Jakarta Selatan. Selain kangen dengan rasa Es Cendol, saya juga dapat pelajaran dari semangat bapak tua itu mencari nafkah untuk keluarga.

Saya belajar bahwa semua hanya proses. Dalam sebuah tujuan, hidup ini hanya perjalanan. Jika dipercepat, Allah ingin kita bersyukur. Sebaliknya, jika terasa lambat, Allah sedang ingin kita lebih bersabar.

Bayangkan, simbah 82 tahun ini, tetap setia dengan usahanya untuk sangu ibadah. Belajarkah kita?

Saya posting pengalaman ini di media sosial. Banyak teman dan sahabat yang menanggapi postingan tersebut. Ardini M. Ghazali misalnya, menanyakan apakah pedagang tersebut tahu bahwa yang beli adalah seorang Menteri Agama.

"Niku simbah sadar kalau sek tumbas Menteri Agama, mboten nggih?," tanya Ardini

Saya menduga tidak. Makanya, saya jawab ringan saja, "Insya Allah nggak". 

Sahabat saya lainnya yang berkomentar antara lain Achmad Budi Prayoga. Dia menulis, "Betapa banyak kebaikan dan kebijaksanaan yang sederhana di sekitar kita yang tak menuntut dipandang dan dibicarakan. Sungguh beruntung, kita mampu diberikan kepekaan melihat hal-hal luar biasa nan sederhana itu, Gus."

Belajar bisa dari mana saja, termasuk dari Penjual Es Cendol.