ICIS Bahas Rencana Aksi Atasi Konflik Agama dan Ketegangan Timur-Barat

Jakarta, 13/6 (Pinmas) - Konferensi Cendekiawan Islam Internasional (ICIS) II yang akan berlangsung pada 20-21 Juni 2006 lebih diarahkan pada rencana aksi untuk mengurangi konflik baik antar aliran di kalangan Islam maupun ketegangan antara Timur dan Barat. "Jika pada ICIS pertama sasaran kita adalah mempersamakan persepsi untuk mengedepankan Islam moderat, pada ICIS ke II kita akan mengarah pada aksi, terutama meredakan konflik antar kelompok Islam maupun ketegangan antara Timur dan Barat," kata Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, Hasyim Muzadi, di Jakarta, Senin.

ICIS II akan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 20 Juni 2006 di Hotel Borobudur Jakarta dan akan hadir dalam pembukaan tersebut PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi yang negaranya saat ini menjadi Ketua Organisasi Konferensi Islam (OKI). Lebih dari 50 negara menyatakan akan mengirim utusan untuk menghadiri konferensi para cendikiawan Islam yang dimotori PB NU tersebut. Menurut ketua panitia ICIS II, Rozy Munir, ICIS II mengundang 300 peserta, 130 di antaranya dari 57 negara. Hingga saat ini, menurut Rozy, sudah 54 negara yang memastikan akan mengirim utusannya ke konferensi tersebut dan hanya Cina, Bahrain serta Tunisia yang belum menyatakan kepastian untuk hadir.  

Pada bagian lain Hasyim Muzadi juga menjelaskan terjadinya pergeseran pandangan kalangan agamawan yang mulai menyadari pemanfaatan simbol-simbol agama untuk kepentingan di luar agama itu sendiri. Ia mencontohkan permintaan maaf yang dikemukakan gereja-gereja Amerika karena mereka merasa tidak mampu menghentikan tindakan pemerintahnya serta permintaan maaf gereja-gereja Denmark atas kasus penghinaaan terhadap Nabi Muhammad SAW oleh media Denmark Jyllands-Posten meskipun itu sama sekali tidak melibatkan gereja ataupun umat Kristen. Menurut Hasyim pemahaman baru agamawan sangat menggembirakan karena kini semakin jelas bahwa agama selama ini hanya menjadi `kedok` dalam konflik yang sebenarnya lebih bersifat politik, keamanan dan ekonomi.

Rangkaian penyelenggaraan ICIS sendiri sudah akan dimulai pada tanggal 19 Juni, yaitu dengan diadakannya jamuan santap malam oleh Wapres Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden, Jakarta.Sejumlah negara di luar negara-negara Timur Tengah yang sudah menyatakan akan mengirimkan utusannya pada ICIS II, antara lain Amerika Serikat, Australia, Kanada, Jerman, Jepang, Perancis, Spanyol, Belanda, Turki, dan Swedia. Menurut Rozy Munir, beberapa negara, termasuk Mauritius dan Uganda, juga menyatakan tertarik untuk hadir dalam ICIS II  kendati sebelumnya tidak diundang.(Ant/Myd)