Hukum Tentang Anak Memadai, Namun Tak Berjalan Optimal

Jakarta, 19/7 (Pinmas) - Perangkat hukum tentang perlindungan dan kesejahteraan anak sudah cukup memadai, namun dalam kenyataanya instrumen tersebut tidak berjalan optimal dalam menjamin perlindungan dan penegakan hak anak. Hal itu diungkapkan Menteri Agama dalam sambutannya yang dibacakan Sekjen Depag Bahrul Hayat ketika membuka Seminar Hari Anak Nasional (HAN) 2006 bertema `Membangun Akhlak Mulia Anak Indonesia,` yang berlangsung di Jakarta, Rabu.   Saat ini, urainya, masih banyak terjadi pelanggaran hak anak, baik berupa kekerasan, eksploitasi, perlakuan yang salah, penelantaran, diskriminasi bahkan tindakan yang tidak manusiawi. Ia mengatakan, anak-anak yang berasal dari keluarga yang secara status ekonomi, pendidikan dan sosial tergolong lemah, masih banyak yang dipaksa bekerja di luar batas kelayakan, bahkan mengabaikan hak-hak anak itu sendiri.    

Hal itu disebabkan oleh masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap substansi hukum yang ada atau belum maksimalnya usaha sosialisasi yang dilakukan pemerintah. Sebagai bangsa, katanya, pasti mendambakan anak-anak Indonesia yang tumbuh secara sehat secara jasmani dan rohani, memiliki kecerdasan yang unggul dalam era persaingan global, memiliki cita-cita tinggi serta sikap optimis dan memiliki akhlak mulia.    Sementara itu pembicara lain Prof. Dr. M. Quraish Shihab, mengatakan, anak tidak dapat dituntut menampilkan akhlak mulia, jika tidak ada lahan untuk menjadikan mereka mampu menampilkannya, yakni perhatian orang tua, keluarga, bacaan yang bermutu dan lingkungan yang sehat. Menurut mantan Menag itu, kepribadian anak, kemandiriannya serta hak-haknya adalah syarat utama untuk lahirnya akhlak mulia."Dari sekian banyak tuntunan guna menyiapkan lahan subur bagi perkembangan akhlak mulia, adalah penghormatan terhadap anak," kata Quraish.    S

etiap anak, kata Quraish, dilahirkan atas dasar fitrah, dan kedua orang tuanyalah yang menjadikan menyimpang dari fitrah tersebut, demikian sabda Nabi Muhammad Saw, sehingga karena itu anak yang menyimpang, dapat menyeret orang tuanya ke neraka akibat kelalaian mendidik.   Di tempat yang sama, pakar pendidikan Dr Arief Rahman MPd mengingatkan agar semua pihak berperan dalam membentuk anak-anak yang tangguh."Kita sering diingatkan agar jangan meningggalkan di belakangmu keturunan yang lemah," ujarnya seraya menyebut ada lima kelemahan; lemah iman, lemah akal, lemah perasaan, lemah jasmani dan lemah sosial.   

Guna mengatasi masalah itu, kata Arief, maka pembangunan harus pula diarahkan pada pembangunan budaya, agama dan pemerintahan yang baik. "Kalau pemerintah selalu memberi nuansa yang meragukan atau `double standar`, maka akhlak tidak muncul dengan baik," tandas Katua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO itu.   Dikatakannya bahwa akhlak mulia itu datang dari orang-orang yang berakhlak, media yang berakhlak serta pemerintahan yang berakhlak dan bahwa anak berakhlak mulia tergantung dari keteledanan. (Ant/Ims)