Harmoni Panca Sradha dengan Pancasila

Om Swastyastu. Om Ano Badrah Krtavo Yantu Visvatah. Ya Tuhan, semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru. 

Umat sedharma di manapun berada, semoga dalam keadaan sehat dan berbahagia. Mimbar Hindu kali ini mengangkat tema Harmoni Panca Sradha dengan Pancasila. 

Keharmonisan tentu menjadi dambaan dari setiap umat manusia. Kedamaian dan kesejukan jiwa akan terpancar apabila kehidupan beragama didasari dengan keteguhan hati dan pikiran yang diliputi oleh rasa keyakinan. Keyakinan merupakan dimensi terkuat bagi umat Hindu untuk melakoni segala aktivitas keberagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, agama itu sendiri merupakan bentuk dari sebuah keyakinan. 

Keyakinan dalam ajaran agama Hindu disebut dengan Panca Sradha yang terdiri dari lima bagian, di antaranya: (1) yakin dengan adanya Ida Sang Hyang Widhi Wasa, (2) yakin dengan adanya atman, (3) yakin dengan adanya karma phala, (4) yakin dengan adanya punarbhawa, (5) yakin dengan adanya moksa yang merupakan pokok dari ajaran tattwa sebagai hakikat kebeneran. 

Kelima keyakinan ini kemudian menjadi pondasi yang dijadikan sebagai dasar pijakan bagi umat Hindu dalam berkehidupan di lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.  

Umat sedharma yang berbahagia. 
Berkenaan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, dalam ajaran Hindu, ada yang disebut dengan dharma negara yang disandingkan dengan dharma agama. Dharma negara ini merujuk pada sikap dari setiap warga negara untuk dapat berguna dan bermakna bagi bangsa dan negaranya, serta mampu mengantisipasi perkembangan dan perubahan masa depannya. Untuk itu, diperlukan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai moral, dan nilai-nilai kemanusiaan yang tercakup dalam Pancasila. 

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, menyiratkan makna bahwa setiap warga negara hendaknya memiliki keyakinan yang kuat terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap dimensi kehidupan. Dasar tersebut memungkinkan setiap warga negara bertindak dan berbuat kebaikan sesuai ajaran agama sesuai aturan moral etika yang mengikat di dalamnya. Para pendiri bangsa meyakini bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan kehendak dari Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai posisi tertinggi dalam keyakinan menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Begitu pula dalam ajaran panca Sradha, umat Hindu meyakini bahwa Tuhan sesungguhnya hanya satu atau tunggal yang kemudian disebut Brahman. 

Brahman secara etomologi dari kata brh yang artinya meluap atau melingkupi semua atau dengan bahasa sederhana bahwa Brahman yang melingkupi semua kehidupan. Chandogya Upanisad III.14.1 menegaskan sarvam kalvidam brahma artinya semua ini adalah Brahman. Alam semesta serta kehidupannya adalah Brahman. Atas dasar keyakinan tersebut, umat Hindu searah dengan dasar falsafah Pancasila yang pertama, yaitu berketuhanan atau memiliki keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dasar keyakinan inilah yang mendorong setiap umat Hindu untuk tunduk pada falsafah Pancasila yang pertama bahwa kemerdekaan serta berkat kehidupan ini bersumber dari yang satu, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Pancasila sebagai dasar negara yang memberikan tuntunan secara rohani untuk menjadi manusia yang beradab, sebagaimana sila kedua, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Artinya, setiap warga negara hendaknya diperlakukan sama secara kemanusiaan. Sebab, inti atau sumber kehidupan dari setiap orang adalah sama. Ajaran Hindu meyakini adanya atma. Yaitu, keyakinan adanya percikan terkecil atau pemberi hidup pada setiap manusia yang bersumber dari Brahman. Maka dari itu, ajaran umat Hindu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan karena percaya dengan adanya hukum karma phala yang senantiasa menuntun umat Hindu melakukan perbuatan yang baik untuk mewujudkan kualitas diri dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara dengan mengimplementasikan ajaran tat twam asi. 

Sahabat pelita dharma yang saya banggakan.
Tat Twam Asi menegaskan bahwa itu adalah kamu. Setiap orang memiliki nilai kemanusiaan yang sama dengan kamu, maka wajiblah memperlakukan orang secara sama. Mahawakya "Tat Twam Asi" yang dipetik dari Chandogya Upanisad memiliki dua arti, yaitu: metafisika dan etika. Secara metafisika, ungkapan ini berarti; jati diri atau esensi manusia adalah sama dengan hakikat Tuhan (Atman adalah Brahman). Secara etika, karena semua manusia memiliki esensi yang sama dan berasal dari sumber yang sama, maka semua manusia (mahluk) adalah satu keluarga, satu keluarga suci. Sebagai satu keluarga, setiap manusia harus saling menjaga, saling membantu, saling memelihara dan bersama-sama menuju tujuan yang sama untuk menjaga persatuan. 

Hal tersebut termaktub dalam kitab Atharwaveda III.30.4 sebagai berikut: Yena deva na viyanti no ca vidvisate mithah. Tat krnmo brahman vo grhe samjnana purunebhyah. (Wahai umat manusia! Bersatulah, dan rukunlah kamu seperti menyatunya para dewata. Aku telah anugrahkan hal yang sama kepadamu, oleh karena itu ciptakanlah persatuan di antara kamu).

Pemahaman mantra ini penting dalam upaya mengamalkan sila ketiga, yaitu persatuan Indonesia. Persatuan ini diharapkan dapat membentuk kemuliaan umat untuk dapat saling menghargai dan menghormati setiap perbedaan, baik berupa perbedaan ras, suku, agama dan budaya yang merupakan bentuk dari keanekaragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dengan cara memahami filosofi  konsep ajaran Hindu yaitu “Vasudhaiva Kutumbakam” kita adalah bersaudara dan Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda-beda tetapi tetap satu untuk berdaulat sebagai rakyat Indonesia. 

Hal tersebut juga berkenaan dengan sila keempat, yaitu Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Artinya, rakyat merupakan ujung tombak dari siklus keberlangsungan hidup bangsa Indonesia ini. Sehingga, konsep punarbhawa hadir sebagai pemandu bahwa ada kepercayaan pada siklus perjalanan bangsa dari masa ke masa. Hal ini hendaknya menjadi atensi atau perhatian dari segenap komponen bangsa. Terlebih saat ini kondisi bangsa Indonesia sedang dilanda pandemi Covid-19, sehingga perlu ada kerjasama yang baik antara rakyat dan pemerintah untuk mewujudkan tujuan yang adi luhung. Yaitu, keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana sila kelima yang mengarah pada kesejahteraan secara jasmani yang kemudian dijiwai oleh konsep moksa yaitu mencapai kebahagiaan sejati (sukha tanpa wali dukha).

Umat sedharma yang saya muliakan, 
Demikian, uraian singkat terkait harmonisasi antara Panca Sradhha dengan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang termanifestasikan lewat pengamalan konsep dharma agama dan dharma negara melalui keyakinan umat Hindu terhadap butir-butir sila pancasila yang adi luhung. Ini perlu dipahami, dihayati, dan direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari untuk dapat mencapai tujuan yang tertinggi yaitu moksartham jagadita ya ca iti dharma.

Om Santih, Santih, Santih Om

Komang Pusparani,S.Pd.,M.Pd. (Penyuluh Agama Hindu Non PNS Kankemenag Kab Badung)


TERKAIT