Harlah Pancasila, Presiden Jokowi: Waspadai Rivalitas Ideologi.

Jakarta (Kemenag) --- Presiden Joko Widodo menjadi Inspektur Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila yang digelar secara virtual. Presiden memimpin upacara dari Istana Bogor.

Teks Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, dibacakan Ketua MPR Puan Maharani. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, di daulat membacakan doa.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maji menghadiri upacara peringatan ini secara virtual. Gusmen hadir mengenakan pakaian tradisional Sakera khas Madura, Jawa Timur, dari rumah dinas Widia Chandra Jakarta.

Pakaian tradisional yang dikenakan Gusmen, berupa baju hitam longgar atau Pesa'an dan celana hitam longgar atau Gomboran Jawa Timur. Warna hitam melambangkan sikap gagah dan pantang menyerah, merupakan kerja khas dari rakyat Madura.

Bajunya yang serba longgar melambangkan kebebasan dan keterbukaan orang Madura. Selain itu, bentuk baju yang sederhana melambangkan kesederhanaan.

Upacara kenegaraan secara virtual ini diikuti sekitar 600 lebih peserta dari dalam dan luar negeri serta para Duta Besar negara sahabat.

Dalam amanatnya, Presiden menyampaikan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni harus benar-benar dimanfaatkan untuk mengokohkan nilai-nilai Pancasila dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Walaupun Pancasila telah menyatu dalam kehidupan masyarakat sepanjang Republik Indonesia ini berdiri, namun tantangan yang dihadapi Pancasila tidaklah semakin ringan. Globalisasi dan interaksi antar belahan dunia tidak serta merta meningkatkan kesamaan pandangan dan kebersamaan.

"Yang harus kita waspadai adalah meningkatnya rivalitas dan kompetisi, termasuk rivalitas antar pandangan. Rivalitas antar nilai-nilai dan rivalitas antar ideologi," kata Presiden.

Ideologi trans nasional cenderung semakin meningkat, memasuki berbagai lini kehidupan masyarakat dengan berbagai cara dan berbagai strategi.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga mempengaruhi lanskape kontestasi ideologi. Revolusi industri 4.0 telah menyediakan berbagai kemudahan dalam berdialog, berinteraksi, dan berorganisasi dalam skala besar lintas negara.

Ketika konektivitas 5G melanda dunia, maka interaksi antar dunia semakin mudah dan cepat. Kemudahan ini bisa digunakan oleh ideolog-ideolog trans nasional radikal untuk merambah ke seluruh pelosok Indonesia, ke seluruh kalangan, dan usia, tidak mengenal lokasi dan waktu.

Kecepatan ekspansi trans nasional radikal bisa melampaui standart normal, ketika memanfaatkan disrupsi teknologi ini. "Menghadapi semua ini perluasan dan pendalaman nilai-nilai Pancasila ini tidak bisa dilakukan dengan cara-cara biasa. Diperlukan cara-cara baru yang luar biasa. Memanfaatkan perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama revolusi industri 4.0 dan sekaligus Pancasila harus menjadi pondasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berke-Indonesiaan.

"Saya mengajak seluruh aparat Pemerintahan, tokoh agama, tokoh masyarakat, para pendidik, kaum profesional, generasi muda Indonesia dan seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu padu dan bergerak aktif memperkokoh nilai-nilai Pancasila, dalam mewujudkan Indonesia maju yang kita cita-citakan. Selamat memperingati hari lahir Pancasila, Selamat membumikan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara," tutup Presiden.