Gereja Bethel Tanjungpinang dan Yang Dipertuan Muda Riau

“Dermaga sepanjang 300 ell dibangun di atas tiang pancang. Di atasnya merupakan tempat pendaratan dan kantor pelabuhan. Di sebelah kiri adalah jalan menuju Kampung Cina Amoy. Di tengah kampung terdapat kuil/kelenteng yang dikelilingi oleh tembok bata. Sebuah jalan samping mengarah dari perkemahan ke dataran yang luas, tempat berdirinya Gereja Protestan terbaik,” tulis G.F de Bruyn Kops dalam laporannya pada tahun 1855 ketika mengunjungi Tanjungpinang.

Merujuk pada deskripsi yang diberikan oleh de Bruyn Kops, setidaknya terdapat dua rumah ibadah yang sudah ada waktu itu, yakni kelenteng dan Gereja Protestan. Kelenteng yang dimaksud besar kemungkinan adalah Kelenteng Tien Huo Kong atau Vihara Bahtera Sasana yang saat ini berada di Jalan Merdeka. Sementara itu Gereja Protestan yang dimaksud tentu saja bangunan Gereja Bethel yang sudah dibangun dua dekade sejak sebelum laporan itu ditulis.

Gereja Bethel Tanjungpinang, Kepulauan Riau saat ini berada di Jln. Gereja No. 1. Riwayat sejarahnya yang panjang menjadikan gereja ini sebagai salah satu bangunan cagar budaya dengan nomor inventaris 15/BCB-TB/C/01/2007. Aroma klasik begitu terlihat dari bentuk arsitektur gereja. Suasana tempo dulu begitu kental ketika memasuki pekaranganya, bangunan berdinding tebal, jendela yang besar dan tinggi, atap pelana dengan fasad gabel step, serta menara yang menjulang ke langit dengan ornamen ayam jantan di puncaknya.

Keberadaan gereja tersebut merupakan bukti bahwa pada awal abad ke-19 agama Protestan sudah berkembang di Tanjungpinang. Hal tersebut tentu berkaitan dengan keberadaan bangsa Eropa di kota yang pada periode yang sama, terutama didirikannya Resident Tanjungpinang sebagai perpanjangan tangan Pemerintah Hindia Belanda di daerah. Setelah pihak Riau Lingga kalah dalam Perang Riau yang kemudian menewaskan Raja Haji Marhum Teluk Ketapang, bangsa Eropa mulai berdatangan ke daratan Tanjungpinang. Hal itu diawali dengan kedatangan serdadu-serdadu dan lambat laun diikuti oleh pegawai-pegawai yang akan bekerja di bawah keresidenan tersebut.  

Sejarah Pembangunan Gereja dan Keterlibatan Raja Abdurrahman
Pada catatan berjudul Berigten Omtrent Indië, Gedurende een Tienjarig Verblijf Aldaar yang ditulis oleh Pendeta Eberhardt Hermann Röttger, disebutkan Gereja Bethel didirikan pada 14 Februari 1835 dan selesai pada tahun 1836. Sebagai seorang pendeta yang pernah mengabdi di Riau pada akhir tahun 1830-an, Pendeta Röttger menyebutkan bahwa biaya pembangunan gereja merupakan sumbangan dari daerah-daerah di Hindia Belanda. Tidak disebutkan siapa arsitek yang berada di balik pembangunan gereja tersebut, akan tetapi dapat dipastikan bahwa keberadaan gereja ini tidak terlepas dari solidaritas umat Protestan yang ada di kawasan Hindia Belanda. 

Hal yang tidak banyak diketahui dari sejarah pembangunan gereja ini adalah keterlibatan pembesar Kerajaan Riau Lingga, yakni Raja Abdurrahman sebagai Yang Dipertuan Muda Riau VII. Yang Dipertuan Muda adalah sebuah jabatan yang berada langsung di bawah sultan. Jika dirujuk lagi bagaimana sejarah pendirian Masjid Raya Sultan Riau atau lebih populer dikenal dengan nama Masjid Raya Penyengat, maka Raja Abdurrahman adalah sosok yang ada dibaliknya. Sebagai Yang Dipertuan Muda yang berkedudukan di Penyengat, dapat dikatakan ia memiliki hubungan yang baik dengan para pendatang.

Pendeta Röttger menyebutkan, Raja Muda yang ada di Penyengat juga ikut menyumbang untuk pembangunan gereja. Sumbangan diberikan berupa material, seperti uang dan kayu. Memang tidak ada disebutkan secara spesifik oleh Pendeta Röttger nama Raja Muda tersebut. Akan tetapi, jika dirujuk pada tahun pendirian gereja serta masa berkuasanya Yang Dipertuan Muda Riau, maka nama yang paling cocok adalah Raja Abdurrahman yang menjabat tahun 1833-1843.

Secara fisik, terdapat sejumlah perubahan pada bentuk bangunan gereja sejak pertama kali dibangun dengan yang ada pada masa sekarang. Menjelang pertengahan abad ke-20 dilakukan sejumlah perubahan, seperti penambahan gabel step serta menara berikut loncengnya. Sekalipun demikian, ciri khas arsitektur bangunan yang ada pada gereja ini tidak ada bedanya dengan Gereja Protetan pada umumnya.

Nederlandse hervormde kerk te Tandjoengpinang; Riouw Archipel – 1918 (KITLV Leiden)

Jejak Toleransi di Awal Abad ke-19
Keterlibatan Yang Dipertuan Muda Riau dalam pembangunan Gereja Bethel Tanjungpinang merupakan wujud toleransi beragama sejak lama. Fakta ini tidak dapat diabaikan begitu saja, sebab hal itu tidak hanya dilakukan oleh masyarakat biasa, melainkan Yang Dipertuan Muda. Posisi Yang Dipertuan Muda sebagai jabatan yang langsung berada di bawah sultan dapat dikatakan sebagai representasi dari kekuasaan yang ada masa itu. 

Kerajaan Riau Lingga adalah sebuah kerajaan Islam yang menguasai kawasan Riau Kepulauan. Pulau Penyengat yang berada di seberang Kota Tanjungpinang dan menjadi tempat kedudukan Yang Dipertuan Muda tercatat sebagi pusat pendidikan pada kurun abad ke-19. Sejumlah tokoh disebutkan pernah datang untuk belajar atau mengajar di pulau ini, sebut saja Syekh Ismail, Syekh Taher Jalaludin, Syekh Syihabuddin Al-Banjari yang merupakan anak dari ulama terkenal Syekh Arsyad Al-Banjari, dan lain-lain. 

Pengaruh ajaran tasawuf juga tidak kalah kuat dibanding daerah lain di Nusantara. Tarekat Sammaniyah dan Naqsyabandiyah adalah dua tarekat yang cukup berkembang di daerah ini. Raja Ali Pulau Bayan (Yang Dipertuan Muda Riau V) misalnya, ia dikenal sebagai pengikut Tarekat Sammaniyah. Sejumlah tokoh lain, seperti Raja Abdullah (Yang Dipertuan Muda Riau IX) dan Raja Yusuf al-Ahmadi (Yang Dipertuan Muda Riau X) adalah pengikut Tarekat Naqsyabandiyah. Bahkan Raja Yusuf dikenal sebagai khalifah untuk tarekat tersebut.

Kentalnya iklim keagamaan di Tanjungpinang tidak serta merta membuat umat Islam di kawasan itu anti terhadap kepercayaan lain. Sebagai kawasan pelayaran, di Tanjungpinang terdapat beragam pendatang dengan kepercayaan masing-masing, seperti Katolik, Protestan maupun Buddha. Keterlibatan Raja Abdurrahman dalam pembangunan Gereja Protestan di Tanjungpinang merupakan bukti bahwa bibit toleransi antarumat beragama sudah dibangun sejak awal abad ke-19 di kawasan Melayu. Hal ini hendaknya dapat menjadi refleksi untuk kerukunan umat beragama di masa sekarang dan mendatang.***   

Syahrul Rahmat (STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau)