Galanggang, Surau, dan Lapau, Awal Pengenalan Moderasi Beragama di Minang

Padang (Kemenag) --- Sumatera Barat dengan etnis Minang-nya menyimpan banyak cerita yang tidak pernah habis membuat decak kagum para pelancong, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Ragam cerita itu mulai dari sejarah proklamator Muhammad Hatta, wisata alam yang memanjakan mata, hingga kuliner lezat yang tersohor hingga ke belahan dunia.

Sisi lain kehidupan toleransi di ranah Minang juga menarik untuk disimak, mengingat kekuatan adat istiadatnya yang terkenal sebagai penganut Islam yang taat dengan sistem keturuan yang menganut sistem matrilineal (sistem keturunan yang ditarik dari garis lahir dari ibu).

Lalu, bagaimana toleransi dan  kerukunan serta kebebasan beribadah umat non muslim di kota Padang dengan adat Islam yang kental dengan memegang falsafah “adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah” (adat bersedikan syariat, syariat bersendikan kitabullah), simak wawancara Tim Humas Kemenag Kurniawan dan Risna Yanti (fotografer) dengan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sumatera Barat Prof. Dr. Duski Samad dan tokoh Budha Tionghoa di Kota Padang Romo Sudharmo.

Pak Duski, sebelum ke Padang, saya sempat baca beberapa referensi tentang Suku Minang. Dan seperti daerah lainnya di Indonesia yang memiliki ciri masing-masing, Padang itu unik ya Pak?

Betul, setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing dengan segala kelebihan yang merupakan kebanggaan bangsa kita. Terlebih cerita tentang keragaman dan toleransi, termasuk Padang yang notabenenya beragama mayoritas muslim dan menganut sistem matrilineal.

Bicara tentang toleransi, bagaimana pengenalan dan pendidikan moderasi beragama di Padang, Pak?

Moderasi beragama ini sebenarnya adalah kebiasaan lama ya Mas, cerita lama yang sejak dahulu kala sudah ada di Padang, melekat dan menjadi pembahasan yang selalu menarik di surau dan lapau. Hanya saja, mungkin istilahnya yang baru dikenal masyarakat. Tapi praktiknya sudah dilakukan sejak lama. Ini dibuktikan dengan berdirinya gereja di pusat Kota Padang sejak lama di tengah mayoritas masyarakat muslim yang taat dan berpegang teguh pada syariat agama Islam.

Wah menarik nih, Surau dan Lapau ini jadi semacam ruang diskusi gitu, Pak?

Surau atau semacam musalla dari dulu tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah atau tempat mendirikan salat lima waktu sehari semalam, tapi juga pelaksanaan kegiatan adat, seperti silek tradisional, program kegiatan bagi anak yang belum menikah, pendalaman Al-Qur’an, kegiatan muda mudi dan juga tempat diskusi sebagai pengayaan informasi bagi masyarakat luas.

Nah kalau Lapau ini adalah warung, mungkin semacam warung kopi kalo di daerah lain. Selain kopi dan jajanan pasar makanan, di lapau ini lah kami orang Minang suka berdiskusi, membahas bahasan yang ringan hingga berat tapi dengan gaya yang lebih ringan, candaan tapi berisi. Walaupun obrolan ini di warung kopi, tapi biasanya ada satu atau beberapa tetua atau mungkin yang lebih berilmu atau seperti narasumber lah yang kurang lebih begitu sebagai penjelas informasi agar informasi yang diterima tidak salah pemahaman.

Pembicaraan tentang moderasi beragama di lapau ini sudah menjadi pembahasan sejak lama. Yang ngobrol pun bukan hanya muslim saja. Saya tinggal cukup lama di rumah mertua yang memiliki lapau di daerah pecinan di Padang yang dihuni banyak warga keturunan Chinese. Jadi ya ngobrolnya bersama-sama dengan lintas suku dan lintas agama juga, mendengar bagaimana moderasi beragama dari berbagai sudut pandang, baik dari suku Minang, atau suku lain dan agama selain Islam.

Obrolan warung kopi ini karena tidak formal dan sambil makan, jadi lebih santai dan lebih jujur ya Pak?

Iya benar sekali, Mas. Diskusi di lapau dan surau ini selalu seru. Tentu yang namanya diskusi tidak selalu satu fikiran. Kalo satu fikiran jadinya malah bukan diskusi jadi seperti ceramah, tapi justru ini nilai lebihnya jadi tau isi hati warga, apa yang dirasakan dan bagaimana solusinya. Ini efektif sekali untuk merekatkan hubungan antar suku dan antar umat beragama di Padang.

Selain lapau dan surau ada lagi namanya galanggang.

Nah kalau galanggang ini apa, Pak?

Galanggang ini semacam even untuk menyalurkan hobi, bakat anak-anak muda, dan ini diikuti bukan saja untuk umat muslim. Karena galanggang ini untuk mendalami bagaimana adat, kesenian daerah untuk muda mudi sehingga adat ini tidak hilang. Dan yang wajib melestarikan bukan hanya muslim saja tapi orang Padang dan itu adalah semua yang tinggal atau bermukim di sini.

Lalu bagaimana kehidupan beragama di Padang saat ini?

Tidak ada perubahan, Mas. Dari dulu sampai sekarang masih rukun, damai. Bangunan rumah ibadah beda agama dibuat berdampingan biasa saja, rukun-rukun saja. Alhamdulillah. Tapi kami juga sedih mendengar tentang bagaimana Sumbar dianggap intoleran, tidak ramah warga keturunan, sehingga membuat keruh suasana. Peran media sosial memang sangat luar biasa dan pernyataan ini sangat tidak berdasar. Jika benar intoleran mungkin sudah tidak ada warga keturunan di Padang, atau tidak akan ada tempat ibadah selain Islam di Padang.

Mas juga pasti tau bagaimana orang Minang itu, perantau. Mungkin tidak ada satu provinsi pun di Indonesia yang tidak ada orang Minangnya. Melihat rumah makan atau restoran Padang di seluruh Indonesia adalah salah satu bukti jika orang minang bisa menyesuaikan diri di mana saja.

Berita baiknya, orang Padang itu alhamdulillah biasa menyaring informasi. Ya tadi, hasil diskusi di lapau tadi. Ada istilah di orang Minang, “dalam iyo ado indaknyo” bisa di artikan dalam iya, ada hal yang harus dikonfirmasi lebih dulu, tidak langsung ditelan mentah-mentah. Sehingga informasi hoax mudah-mudahan dapat ditangkal ya walaupun belum semua karena media sosial ini sudah merambah ke semua usia.


Romo Sudharmo, sudah lama di Padang, Romo?
Saya lahir di Padang, Mas. Jadi sudah cukup lama.

Iya ya Romo, dialek Minangnya benar-benar berasa. Dialek yang dimiliki hampir semua warga Minang lainnya.

Iya, karena dari lahir dan saya lebih senang disebut orang Minang. Karena saya lahir di Padang dan saya orang Minang. Saya sehari-hari dengan warga ya berbahasa Minang, menyebut panggilan tetangga dengan panggilan Minang juga, seperti uni (kakak perempuan .red), uda (kakak laki-laki .red), dan juga one (ibu .red)


 

Boleh diceritakan Romo, bagaimana warga keturunan seperti Romo hidup dan beribadah di tengah masyarakat Minang yang adatnya begitu kental dan agama yang taat?

Biasa aja Mas, kami hidup dan ibadah layaknya orang lain hidup di rumah sendiri. Karena kami sudah hidup berdampingan sejak lama, berdiskusi, bergaul dan melakukan aktifitas bersama-sama ya nyaman tidak ada gangguan ataupun hambatan.

Seperti yang Mas lihat, di depan Vihara kita ini ada masjid besar dan ini bukti bahwa kita rukun-rukun saja menjalani kehidupan di sini.

Benar-benar berhadapan ya Romo Vihara dan Masjidnya, terganggu gak sih Romo ibadahnya?

Jadi di Buddha itu Mas, ibadahnya seperti meditasi, semakin khusyuk orang beribadah maka sebenarnya suara-suara di sekitar bisa menjadi tantangan dalam mewujudkan khusyuknya ibadah umat. Kami tidak terganggu oleh suara masjid. Jadi bisa tetap sama-sama ibadah sesuai ajaran agama masing-masing.

Berhadap-hadapan dengan Masjid apa yang menarik?

Banyak yang menarik Mas. Saat bulan Ramadan, masjid kerap mengadakan pesantren Ramadan bagi siswa siswi. Kami umat Buddha selama ramadan juga mengadakan kegiatan di Vihara bagi siswa-siswi Samanera. Sehingga umat Buddha juga merasakan bagaimana Ramadan dengan versi Buddhanya.

Seru ya Romo, lalu bagaimana hubungan Romo dan Vihara ini dengan warga sekitar Romo?

Kami baik sekali Mas. Kami juga sering mengadakan kegiatan-kegiatan sosial yang juga melibatkan warga sekitar vihara dan itu bukan hanya umat Buddha, ada Islam, Katolik, dan Kristen juga. Seperti yang baru kami lakukan untuk perayaan imlek, kami membuat pasar murah yang penjual dan pembelinya boleh dari warga dan agama apa saja, asalkan sesuai tema, pasar murah. Kami juga mengadakan donor darah dan yang terbaru kami memfasilitasi pelaksanaan vaksinasi  booster dan vaksin bagi siswa-siswa sekolah dasar dan sekali lagi sasarannya bukan hanya umat dari Viahara ini.

Kami juga melakukan bakti sosial ke panti jompo milik agama Katolik dan isi sering kami lakukan.

Wah jadi makin bermanfaat dan bisa akrab dengan lingkungan sekitar ya Romo?

Betul Mas, kami selalu meyakini bahwa setiap agama itu mengajarkan kebaikan, agama apapun itu dan di mana pun. Jika menjalankan ibadah yang lurus sesuai ajaran, tidak akan ada yang namanya kebencian, saling ganggu, apalagi pertikaian. Karena Tuhan menciptakan itu selalu untuk menciptakan ketenangan dan kebahagiaan bagi pemeluknya. Jika setiap pemeluk agama sudah bahagia dengan agamanya masing-masing, kenapa harus diganggu dan ini juga yang kami rasakan di Padang ini dan mudah-mudahan ke depan selalu begini.