FTK UIN Banten Gelar Sekolah Moderasi Beragama

Banten (Kemenag) --- Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menyelenggarakan Sekolah Moderasi Beragama (Seragam). Giat yang dirangkai dengan Rapat Kerja Ormawa Fakultas ini mengangkat tema “Bina Paham Keagamaan Moderat di Kalangan Lembaga Kemahasiswaan FTK UIN SMH Banten”.

“Penguatan dan pengembangan moderasi beragama sangat penting diberikan kepada generasi muda, khususnya para mahasiswa di perguruan tinggi,” ujar Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Banten yang juga Ketua Panitia Ali Muhtarom, di Banten, Kamis (19/5/2022).

Menurutnya, esensi ajaran agama adalah moderat. Namun, pemahaman keagamaan belum tentu moderat. Inilah tantangan serius bagi para generasi muda dan mahasiswa. “Sehingga, pembinaan moderasi beragama sangat penting,” ujar Ali.

Dekan FTK, Nana Jumhana, menjelaskan, bahwa rilis Sekolah Moderasi Beragama menjadi salah satu bentuk keseriusan UIN Banten dalam penguatan dan pengembangan moderasi beragama bagi mahasiswa, khususnya FTK. Dia berharap, pembinaan moderasi beragama akan melahirkan para intelektual muda yang berwawasan luas mengenai keagamaan dan kebangsaan untuk mewujudkan pemimpin masa depan. 

Wakil Rektor III, Hidayatullah, mengapresiasi kegiatan yang mendukung program pemerintah ini. Menurutnya, pembinaan moderasi beragama penting dalam mengantisipasi munculnya pemikiran-pemikiran ekstrem, baik ekstrem kiri maupun ekstrem kanan. “Kecenderungan munculnya pemikiran ekstrem tersebut saat ini perlu diwaspadai karena akan membahayakan kelangsungan harmonisasi kehidupan berbangsa yang beragam,” tegas Hidayatullah.

Hadir sebagai narasumber, Anis Masykhur dari Pokja Moderasi Beragama Kemenag menyampaikan bahwa ketidakmampuan memahami ajaran agama yang  seimbang akan berdampak pada mudahnya para mahasiswa dipengaruhi ideologi asing yang bersifat transnasional dan ekstrem. Ideologi tersebut saat ini mulai merasuk ke Indonesia dan bisa menggerus nilai-nilai kearifan lokal. “Untuk itu, mahasiswa perlu memahami nilai-nilai moderasi beragama,” sebutnya.

Achmad Uzair dari BPIP menekankan pentingnya mahasiswa memahami nilai nasionalisme dan kebangsaan dengan memahami ideologi Pancasila. Pancasila sebagai ideologi kebangsaan telah mampu mempersatukan masyarakat Indonesia, terutama dalam hal keberagaman yang terjadi di antara  umat beragama sejak awal kemerdekaan. 

Dia menjelaskan bahwa konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah hasil dari kesepakatan para pendiri bangsa ini dalam sidang BPUPKI. Melalui musyawarah di antara para pendiri bangsa tersebut, persatuan dan harmonisasi terjaga hingga saat ini. 

Ketua Rumah Moderasi Beragama UIN Banten KH. M. Ishom menjelaskan bahwa moderasi beragama yang saat ini dikembangkan pemerintah, terutama Kementerian Agama RI tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Pengembangan moderasi beragama tidak seperti yang dituduhkan oleh sebagian kalangan bahwa itu mengajarkan sekulerisasime. Sebaliknya, penguatan moderasi beragama diorientasikan pada upaya mengajawentahkan pemahaman keagamaan yang komprehensif tentang nilai-nilai ajaran Islam yang pada saat ini mengalami pengaburan makna. 

“Di antara hal terpenting dalam penguatan moderasi beragama bagi para generasi muda atau mahasiswa adalah dengan kembali mengkaji referensi kitab kuning melalui pesantren,” pungkasnya.